"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Hukum  

Suami Kalah di Pengadilan Setelah Minta Cerai karena Istri Tidak Ingin Donor Jantung: Bunuh Aku

Kisah Suami yang Minta Cerai Karena Istri Tidak Menyumbangkan Hati

Sebuah kisah yang menggemparkan masyarakat Korea Selatan menyebar di media sosial. Seorang pria, yang diketahui berasa dari Korea Selatan, memutuskan untuk mengajukan gugatan cerai karena istrinya menolak untuk menyumbangkan hatinya untuk penyelamatan hidupnya. Peristiwa ini menjadi topik perbincangan hangat dan memicu berbagai reaksi dari masyarakat.

Penyakit yang Mengancam Kehidupan

Pria tersebut didiagnosis menderita sirosis bilier primer, sebuah penyakit hati langka yang membutuhkan transplantasi. Dokter memperingatkan bahwa tanpa operasi, ia hanya memiliki waktu satu tahun untuk hidup. Orang tua suami menjual rumah mereka untuk membiayai pengobatannya, sementara istrinya tetap berada di sisinya dengan tekun merawatnya. Pada akhirnya, hasil tes menunjukkan bahwa istrinya adalah donor yang sangat cocok dengan kompatibilitas HLA melebihi 95 persen.

Namun, ketika suami memintanya untuk melanjutkan, istrinya menolak. Dia memberi tahu dokter dan keluarga bahwa dia memiliki “ketakutan patologis terhadap jarum dan benda tajam” dan tidak sanggup menjalani operasi. Penolakannya memicu ketegangan dalam keluarga.

Konflik dalam Keluarga

Suami merasa dikhianati dan mulai mengejek upaya perawatan istrinya, dengan berkata: “Apa gunanya merawatku? Kau hanya ingin melihatku mati. Lebih baik kau bunuh saja aku.” Orang tuanya juga menekannya, bertanya: “Apakah kamu ingin menyaksikan suamimu meninggal?”

Untungnya, seorang donor yang mengalami kematian otak ditemukan tepat pada waktunya. Sang suami menjalani transplantasi hati yang sukses. Setelah pulih, ia mulai menyelidiki klaim istrinya dan menemukan bahwa istrinya sebelumnya telah menjalani operasi usus buntu dan telah menjalani tes darah tanpa komplikasi apa pun. Saat dihadapkan, sang istri akhirnya mengakui bahwa “fobia” itu hanyalah alasan. Alasan sebenarnya adalah ketakutan akan risiko operasi dan kecemasan bahwa jika sesuatu terjadi padanya, kedua putrinya yang masih kecil akan kehilangan seorang ibu.

Gugatan Cerai dan Putusan Pengadilan

Marah karena apa yang ia anggap sebagai penipuan dan pengabaian, sang suami mengajukan gugatan cerai, menuduh istrinya melakukan “pengabaian yang jahat” dan gagal dalam menjalankan kewajibannya sebagai istri. Namun, pengadilan memutuskan mendukung sang istri, menegaskan bahwa donor organ adalah masalah otonomi tubuh pribadi dan tidak dapat dipaksakan, bahkan antara suami istri. Putusan tersebut menekankan bahwa paksaan dan pelecehan verbal dari sang suami telah mengikis fondasi kepercayaan dalam pernikahan mereka, sehingga ia menjadi pihak yang bertanggung jawab utama atas keruntuhan hubungan tersebut.

Pengadilan juga mengakui bahwa penolakan sang istri didasarkan pada kekhawatiran yang wajar terhadap kesejahteraan anak-anak mereka. Pada akhirnya, pasangan tersebut sepakat untuk bercerai. Sang istri tetap mendapatkan hak asuh anak-anak mereka sambil terus memberikan dukungan finansial untuk pemulihan medis suaminya.

Reaksi Masyarakat

Kisah ini memicu diskusi luas di media sosial Tiongkok, dengan banyak komentator daring membela keputusan sang istri. Banyak orang bertanya, “Mengapa dia harus mendonorkan organnya? Tidak mendonorkan organ adalah pilihan yang umum. Setelah menikah, apakah itu berarti organ tubuh Anda dapat diminta sesuka hati oleh suami Anda?” Yang lain menimpali, “Itu hatinya. Apakah suaminya memberikannya padanya atau bagaimana? Bagaimana dia bisa memintanya begitu saja! Operasinya berisiko tinggi, dan anak-anak mereka masih sangat kecil; tentu saja, dia akan khawatir.”

Kisah Lain yang Viral

Selain kisah di Korea Selatan, ada juga kisah seorang wanita di Malaysia yang merawat suaminya selama 6 tahun tapi kemudian diceraikan setelah sang suami sembuh. Unggahan perempuan tersebut viral di media sosial Facebook. Postingannya menjadi viral karena sebelumnya ia mendokumentasikan kehidupannya sebagai pengasuh utama suaminya yang lumpuh.

Setelah semua yang dia lakukan untuknya, perempuan itu kemudian mengunggah sebuah posting yang mengucapkan selamat kepada mantan suaminya karena telah menikah. “Selamat kepada mantan suami saya, saya harap Anda bahagia dengan orang yang Anda pilih. Untuk pengantin baru, tolong jaga dia baik-baik seperti yang saya lakukan. Saya sudah selesai dengannya, sekarang giliran Anda untuk mengambil alih,” tulis perempuan tersebut.

Kisah ini memicu reaksi empati dari warganet Malaysia, dengan banyak orang menyebut perempuan itu sebagai sosok hebat dan kuat. Namun, beberapa warganet juga mengungkapkan penghinaan terhadap mantan suami perempuan itu.


Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *