Perjuangan Elisabeth dalam Mencari Keluarganya yang Tertimbun Bencana
Elisabeth Hutabarat (20) duduk di atas batu bekas bencana longsor dan banjir bandang, di Desa Bair, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah. Ia tampak termenung sambil memegang ranting kayu di tangan sebelah kanannya, seperti mencungkil-cungkil tanah merah bekas longsor. Matanya terus mengawasi ke arah tumpukan kayu dan tanah yang digali oleh tim gabungan Basarnas, BPBD, Polisi, dan TNI di lokasi.
Sesekali ia berdiri, melihat ke arah rim pencari korban tewas dengan harap-harap cemas. Tak lama kemudian, seorang petugas berteriak menemukan sebuah kursi roda. Elisabeth langsung berdiri dan mendekat ke arah petugas. Air matanya pun tak dapat terbendung lagi, ia menangis sambil sesekali menyeka matanya. Disampingnya, ibunya yang juga menangis berusaha saling menguatkan. Sebab, itu adalah kursi roda ayahnya yang tertimbun longsor di lokasi.
Meski demikian, hampir dari 1 jam penemuan kursi roda, jasad ayahnya tak kunjung ditemukan. “Kursi roda, kursi roda,”teriak seorang petugas Tim SAR gabungan, di lokasi, Senin (8/12/2025). Ketika ditemui, Elisabeth mengungkap, kalau ayah dan abangnya hilang tertimbun longsor tak jauh dari rumah mereka. Keduanya tertimpa reruntuhan tanah dan kayu yang jatuh dari tebing pada bencana Selasa 25 November lalu. Namun hingga kini, keduanya tak kunjung ditemukan.
Selama seminggu sejak kejadian, ia dibantu keluarga yang lain dan warga sekitar mencari keberadaan keluarganya. Di sini, kepedihan dan kekesalan Elisabeth mulai bertambah, lantaran selama itu tak ada bantuan alat berat dari pemerintah untuk evakuasi para korban. Bukan ayah dan abangnya saja, melainkan ada 5 warga lainnya yang tewas tertimbun. Namun kemarin, 3 orang sudah ditemukan tim SAR gabungan dalam keadaan meninggal dunia.
“Sudah satu minggu kemarin tidak ada apapun yang dilakukan oleh pemerintah dan ini, sudah mau 2 Minggu baru ada datang bantuan,”kata Elisabeth dengan sedikit kesal, Senin (8/12/2025).
Longsor dan banjir di Desa Bair, Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah sangat parah. Satu kampung yang berisi belasan rumah lenyap seperti ditelan bumi. Bencana itu datang dari bukit yang berada tepat di belakang rumah Elisabeth semasa kecil hingga dewasa. Reruntuhan tanah itu merosot lebih dari 1 kilometer kebawah, merusak aliran sungai dan sekitarnya. Bencana ini merubah Desa wisata itu menjadi tandus dengan hamparan tanah merah bekas longsor beserta kayu-kayu gelondongan.
Elisabeth mengungkapkan, saat kejadian, ayah dan abangnya sedang berada di rumah. Selama ini ayahnya tinggal sendirian karena sudah berpisah dengan ibunya. Sedangkan Elisabeth, bekerja sebagai perawat di Kota Sibolga. Begitu juga dengan saudaranya yang lain, bekerja dan sudah menetap di tempat lainnya. Namun pada 23 November, abangnya itu datang menemui ayahnya membawa ikan segar.
Tepatnya pada Selasa 25 November, sekitar pukul 01:00 WIB, Tebing di belakang rumahnya longsor dan membuat keduanya keluar rumah. Namun keduanya tidak mengungsi seperti warga lainnya yang pergi ke gereja dekat situ. Abang dan ayahnya bertahan di seberang rumah, yang kini sedang digali. Ayahnya lumpuh duduk di kursi roda, didorong abangnya saat itu untuk menyelamatkan diri. Namun, 3 jam kemudian, sekira pukul 04:00 WIB, longsor disertai banjir bandang menerjang rumah tempat ayah dan abangnya berlindung. Saat itu juga keduanya tertimbun diantara kayu, tanah dan bebatuan.
“Kejadiannya itu pada hari Selasa tanggal 25 November kemarin jam 04.00 subuh ini semua Kampung habis dan kebetulan bapak saya sudah lumpuh tidak bisa ngapa-ngapain, dan abang saya juga karena ketiduran di sini jadi begitulah.”
Sudah 13 hari Elisabeth datang ke tempat ayah dan abangnya tertimbun. Setiap hari dia berusaha mencari-cari jenazah keluarganya. Bahkan, pekerjaannya ditinggalkan sementara demi menemukan anggota keluarganya. Ia berharap keduanya bisa ditemukan agar bisa dimakamkan secara layak.
Sambil menangis, Elisabeth mengungkapkan kalau kehidupan ayahnya selama ini sudah menderita. Dia lumpuh dan menderita sejak Elisabeth kecil. “Dia hidupnya sudah menderita, mau pergi pun ke tempat terakhirnya harus seperti ini. Makanya kami berharap dia cepat ditemukan biar kami bisa menaruhnya ke tempat yang lebih baik di jalan Tuhan.”
Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”











