Kapolri Tekankan Peningkatan Kualitas Brimob Hadapi Ancaman Kompleks
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menekankan pentingnya peningkatan kualitas Korps Brimob Polri di tengah perkembangan ancaman keamanan yang semakin kompleks. Hal ini disampaikan saat menghadiri syukuran Hari Ulang Tahun ke-80 Brimob di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Jumat (14/11/2025).
Menurut Sigit, Brimob sebagai pasukan elite harus mampu beradaptasi dengan perubahan pola kejahatan yang kini berkembang lebih cepat dan tidak lagi bersifat konvensional. Ia menyebutkan bahwa banyak ancaman extraordinary crime yang harus selalu siap dihadapi sesuai dengan dinamika yang terjadi.
Perluasan Wawasan dan Studi Banding
Kapolri menekankan perlunya Brimob memperbarui standar kemampuan, termasuk melalui studi banding ke negara-negara yang memiliki satuan kepolisian khusus bertaraf internasional. Langkah ini dinilai strategis agar Brimob tidak hanya mampu merespons ancaman, tetapi juga mengantisipasi potensi gangguan keamanan berskala besar.
Sigit menjelaskan bahwa hal ini menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan Brimob dalam menghadapi tantangan keamanan yang semakin dinamis. Dengan mempelajari pengalaman negara lain, Brimob dapat memperkuat posisi mereka sebagai pasukan elit yang siap menghadapi segala bentuk ancaman.
Evaluasi Kerusuhan Agustus 2025
Dalam arahannya, Sigit juga menyinggung kembali kerusuhan yang terjadi di Indonesia pada Agustus 2025, yang ia sebut sebagai “Agustus Kelabu” dan “Black September”. Peristiwa tersebut menjadi evaluasi penting bagi institusi kepolisian.
Ia menambahkan, kerusuhan serupa juga terjadi di sejumlah negara lain seperti Nepal, Prancis, Peru, dan India, bahkan berdampak pada pergantian pemimpin di negara-negara tersebut. “Alhamdulillah kerja keras dari rekan-rekan, kita bisa mengembalikan situasi keamanan dan 1.071 orang saat ini kita lakukan penegakan hukum,” kata Sigit.
Perbaikan Pola Penanganan Unjuk Rasa
Kapolri menegaskan bahwa pola penanganan aksi massa di Indonesia harus terus diperbaiki. Ia menyebut sejumlah negara seperti Prancis, Jerman, dan Jepang memiliki pola pengamanan unjuk rasa yang bisa dijadikan referensi bagi Polri.
“Dalam hal penanganan unjuk rasa, ini juga menjadi bagian yang harus terus kita lakukan perbaikan dan evaluasi,” ujarnya. Menurut dia, hal itu demi mengurangi atau mencegah jumlah korban unjuk rasa.
Formula Tangani Unjuk Rasa
Sigit menjelaskan bahwa Polri tengah menyusun formula terbaik dalam menangani unjuk rasa, mulai dari aksi yang bersifat kebebasan berekspresi hingga situasi yang berkembang menjadi kerusuhan. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa penanganan dilakukan secara terukur, tegas, humanis, dan mengurangi jumlah korban.
“Kita juga sedang mencari formula terbaik terkait dengan masalah pola penanganan unjuk rasa sehingga yang kita lakukan mulai dari unjuk rasa yang sifatnya kebebasan berekspresi sampai dengan penanganan aksi kerusuhan. Sehingga, yang kita lakukan bisa betul-betul terukur, tegas, humanis, dan juga mengurangi jumlah korban yang ada,” tambahnya.
Belajar dari Negara Lain
Kapolri menuturkan bahwa sejumlah negara memiliki pasukan-pasukan polisi khusus dengan kemampuan yang dapat dijadikan model. Ia pun mendorong Brimob untuk mempelajari keunggulan pasukan tersebut, khususnya kemampuan yang belum dimiliki Brimob saat ini.
“Beberapa negara tentunya memiliki pasukan-pasukan polisi khusus yang tentunya ini bisa menjadi model tentang kemampuan-kemampuan yang mereka miliki. Mana yang belum kita miliki, tentunya silakan untuk rekan-rekan terus melaksanakan studi banding peningkatan kemampuan,” kata Sigit menegaskan.











