Klarifikasi Zendhy Kusuma dan Evi Santi Rahayu Terkait Kasus Restoran Bibi Kelinci
Pasangan suami istri, Zendhy Kusuma dan Evi Santi Rahayu, akhirnya muncul ke publik setelah viral disebut marah-marah dan menggondol makanan dari Restoran Bibi Kelinci. Mereka menyatakan bahwa berita yang menyebar tidak mencerminkan kejadian sebenarnya dan merugikan reputasi mereka.
Penyebab Viralnya Kejadian
Zendhy Kusuma dan Evi Santi Rahayu adalah pelapor pemilik Restoran Bibi Kelinci, Nabilah O’Brien, yang membuat sang owner menjadi tersangka. Nabilah dilaporkan karena mengunggah video CCTV yang merekam aksinya di restoran tersebut. Zendhy menilai rekaman tersebut tidak mencerminkan konteks yang utuh, sehingga memicu persepsi publik yang tidak lengkap.
“Sejak penyebaran rekaman tersebut, kami menerima berbagai respons dan komentar di media sosial yang cukup berdampak bagi kami, keluarga maupun lingkungan pekerjaan kami,” kata Zendhy dalam klarifikasinya.
Meski begitu, Zendhy memilih untuk tidak menanggapi komentar negatif tersebut di media sosial. Ia meyakini bahwa platform daring bukan tempat yang tepat untuk menyelesaikan persoalan hukum atau pribadi. Pada akhirnya, pada 30 September 2025, ia melaporkan permasalahan ini ke Direktorat Tindak Pidana Cyber Bareskrim Polri atas dugaan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
Pengakuan Atas Kesalahan
Zendhy mengaku datang bersama rombongan ke restoran Bibi Kelinci pada 19 September 2025. Mereka memesan beberapa makanan dan minuman untuk dibungkus. Namun, setelah menunggu lama, pesanan mereka tidak kunjung datang. Zendhy beberapa kali menanyakan status pesanan kepada pelayan, tetapi informasi yang diberikan sering berubah.
Setelah hampir dua jam menunggu tanpa kepastian, Zendhy memutuskan masuk ke dapur untuk memastikan pesanan mereka benar-benar dibuat. Ia menegaskan tidak dihalangi saat itu. Ternyata, pesanan mereka ternyata belum dibuat dan baru akan diproses. Saat makanan akhirnya disajikan, beberapa pesanan diberikan terburu-buru dan tidak lengkap.
“Dalam kondisi emosi tersebut kami juga kemudian keluar dari restoran tersebut,” kata dia. Zendhy keluar restoran sambil membawa bungkusan berisi 14 menu. Berdasarkan struk yang telah dicetak, harga makanan yang belum dibayar adalah Rp 530.150.
Di mobil, seorang pelayan datang membawa mesin EDC untuk meminta pembayaran. Zendhy menyatakan mereka tetap bersedia membayar, tetapi ingin bertemu penanggung jawab restoran terlebih dahulu. Ia sempat berniat kembali ke restoran pada 21 September 2025 untuk menyampaikan permohonan maaf dan membayar pesanan, tetapi pemilik restoran sedang berada di luar kota.
Sebagai bentuk tanggung jawab, pada 27 September 2025, Zendhy mentransfer Rp 550.000 ke rekening restoran. Namun, karena pembayaran dianggap belum masuk, ia transfer lagi pada 20 Oktober 2025 dengan nilai yang sama. Zendhy mengaku salah karena tidak membayar langsung saat pesanan selesai.
Tanggapan dari Pihak Restoran
Sebelumnya, pihak Nabilah mengaku tak tahu menahu terkait pembayaran itu. Nabilah baru tahu ZK dan ERS mentransfer uang usai kasus ini bergulir di kepolisian. “Berdasarkan pemeriksaan terakhir, penyidik menunjukkan bukti pembayaran atas nama Bapak Z,” kata kuasa hukum Nabilah, Goldie Natasya Swarovksi, dalam konferensi pers.
Goldie memastikan, pembayaran dilakukan tanpa adanya konfirmasi kepada restoran maupun Nabilah yang secara personal sudah berkomunikasi dengan ZK sejak awal. “Tiba-tiba pembayaran aja. Tidak pernah konfirmasi ke klien kami sama sekali. Jadi kami juga bingung sebenarnya,” ujar dia.
Meskipun telah melakukan pembayaran, menurut Goldie, tindak pidana yang dilakukan ZK dan ERS tak bisa gugur begitu saja. “Walaupun sudah dibayar, pencurian tetap sudah terjadi secara sempurna di sini. Ini TKP-nya (restoran). CCTV-nya nyata, korbannya nyata, kerugian materilnya nyata. Pun pihak Z dan E telah menjadi tersangka kok di Polsek,” tutur Goldie.
Profil Zendhy Kusuma
Zendhy Kusuma adalah seorang gitaris independen dari Indonesia. Sosoknya dikenal sebagai musisi, komposer, sekaligus pendidik musik yang telah meraih berbagai pencapaian, baik di dalam negeri maupun kancah internasional. Zendhy Kusuma merupakan lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Pembelajaran mengenai bermusiknya dimulai dengan musik klasik dan seiring waktu dia mulai mengembangkan musiknya dengan gitar elektrik. Zendhy telah menerima beberapa gelar internasional untuk kemahirannya dalam bermain gitar elektrik. Di antaranya menerima gelar kehormatan dari LRSL (Licentiate of Rockschool Level) London dan FLCM (Fellowship of the London College Music) University of West London.
Selain itu, Zendhy juga meraih juara di beberapa kompetisi gitar elektrik. Di antaranya juara 1 di Fender Guitar Festival, juara 1 di MOB Jazz & Blies Guitar Festival, dan masih banyak lagi. Dalam perjalanan karier bermusiknya, Zendhy telah berkolaborasi dengan banyak musisi internasional seperti Marco Sfogli (gitaris James Labrie; Virgil Donati Band), Ron Thal (Bumblefoot) dari Amerika, Jeroen Simmons (Drummer EPICA, Belanda), Leonardo Guzman (gitaris asal Kolombia), Steven Agnew (Rockschool UK Examiner), Fayeed Tan (gitaris asal Filipina).
Zendhy juga pernah memproduksi albumnya yang bertemakan fussion, rock. Di album tersebut, dia bekerjasama dengan beberapa musisi Indonesia seperti Denny Chasmala (production), Bintang Indrianto (fretless bass), Franky Sadikin (elektrik bass), Yandi Andaputra (drum) dan Ganda Saputera (drum). Salah satu lagu di album tersebut, Tears of The Smile, diintrepretasikan kedalam sebuah video dan dipertunjukkan di sebuah pertunjukan seni di Kyoto, Jepang pada 19 November 2016.
Proyek lain yang pernah dikerjakannya adalah The ZAD Project, sebuah kolaborasi gitar bersama Andra Ramadhan (Andra n The Backbone, Dewa 19) beserta Denny Chasmala, seorang musik produser terkenal di Indonesia yang juga seorang pemain gitar.
Profil Evi Santi Rahayu
Evi Santi Rahayu adalah istri Zendhy Kusuma. Dilansir dari berbagai sumber, Evi Santi Rahayu menempuh pendidikan di Universitas Persada Indonesia YAI. Evi menyelesaikan program sarjananya pada tahun 2015, lalu melanjutkan pendidikan profesi Psikolog pada tahun 2020 di kampus yang sama.
Evi dikenal sebagai seorang Psikolog Klinis dengan pengalaman lebih dari 6 tahun. Evi juga dikenal aktif memberikan layanan konseling dan konsultasi di Jakarta Selatan, DKI Jakarta. Selain itu, Evi juga terdaftar di platform kesehatan digital. Tarif konsultasi online miliknya tercatat sebesar Rp 50.000 di Halodoc.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











