"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Hukum  

Menjelang sidang tuntutan, Ammar Zoni hanya izinkan keluarga bicara, Dokter Kamelia tak diakui

Ammar Zoni Batasi Pihak yang Boleh Berbicara Mewakili Dirinya

Ammar Zoni memutuskan untuk membatasi pihak-pihak yang diperbolehkan memberikan pernyataan atas namanya. Keputusan ini diambil oleh aktor ternama tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman atau informasi yang tidak akurat yang bisa memperburuk suasana publik.

Melalui kuasa hukumnya, Jon Mathias, Ammar menyatakan bahwa hanya keluarga dan pengacaranya yang boleh berbicara mewakili sikapnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya komentar-komentar yang tidak diinginkan dan bisa menimbulkan kekacauan di tengah proses hukum yang sedang berjalan.

“Karena ke depannya sudah menyangkut dalam keputusan penuntutan dan pleidoi, nah Ammar tidak mau lagi ada semacam ya komentar-komentar yang tidak disukai Ammar gitu,” ujar Jon Mathias, seperti dikutip dari YouTube Intens Investigasi, Jumat (6/3/2026).

Yang menarik adalah, Ammar Zoni sama sekali tidak menyebut nama Dokter Kamelia dalam daftar pihak yang diizinkan bicara. Padahal, Dokter Kamelia selama ini disebut-sebut memiliki hubungan spesial sebagai kekasih sang aktor. Namun, menurut Jon Mathias, keinginan Ammar Zoni adalah agar proses hukum dapat berjalan dengan kondusif tanpa campur tangan dari pihak lain.

“Ya untuk menjaga hubungan yang kondusif juga dengan para penegak hukum. Kita kan lagi cari suasana yang tenang, apalagi bulan puasa ini ya kita berharap tidak ada lagi pihak-pihak yang membangun opini tentang perkara ini.”

Dokter Kamelia Bantah Tudingan Pansos

Dokter Kamelia, yang merupakan kekasih Ammar Zoni, selama ini selalu setia mendampingi sang aktor di tengah proses hukum kasus dugaan peredaran narkoba yang menjeratnya. Selama persidangan, ia terus hadir memberikan dukungan.

Namun, ia justru dituduh pansos karena dianggap memanfaatkan situasi Ammar Zoni untuk mencari popularitas. Ia menyangkal tudingan tersebut dan menegaskan bahwa tindakannya bukanlah untuk tujuan pribadi.

“Bang Ammar tuh butuh aku bukan secara finansial, tapi secara moral, secara mental,” kata Kamelia.

Ia mengaku mendengarkan semua cerita Ammar Zoni, termasuk keluh kesahnya. “Karena emang dia tuh cerita semua A sampai Z ke aku. Dia berkeluh kesahnya bisanya cuma sama aku,” ujarnya.

Titik Jenuh untuk Dokter Kamelia

Di sisi lain, Dokter Kamelia sempat menunjukkan kelelahannya dalam menghadapi kasus hukum Ammar Zoni. Dalam sebuah momen, ia tampak menangis dan mengaku lelah mengurusi kasus narkoba sang kekasih.

Setelah sidang lanjutan kasus narkoba yang seharusnya beragendakan keterangan saksi dari pihak Ammar Zoni, Kamelia nampak kesal dan tidak bisa menahan air matanya. Ia menyesalkan respons kasar Ammar pada dirinya setelah sidang.

“Apa dia lebih takut ditinggal saya apa ditinggal orang lain?” tanyanya dengan nada emosional.

Ia merasa lelah, tetapi juga mengasihani Ammar karena terus menjadi korban fitnah. “Jadi sebenernya udah capek, enggak mau ngurusin kayak gini. Capek banget,” keluhnya terisak.

Kekecewaan dan Keputusan untuk Pasrah

Kamelia merasa perlu mengungkapkan fakta di balik kasus narkoba Ammar Zoni. Ia menyatakan bahwa ia tahu bagaimana keadaan Ammar dan perubahan yang terjadi padanya.

“Aku yang tahu. Tiap hari aku kunjungan ke dia, aku tahu bagaimana di dalam keadaannya, aku tahu gitu loh. Aku tahu bagaimana Bang Ammar yang bener-bener berubah, dikasih lagi barang, aku tahu,” tegasnya.

Ia bahkan menyebut kemungkinan meninggalkan Ammar, tetapi menegaskan bahwa ia masih ingin membantu. “Kalau aku tinggalin, siapa lagi yang bisa ngasih info. Tahu gini loh masalahnya. Jadi cuma itu capeknya,” tandasnya.

Pihaknya kini memilih pasrah dengan sidang putusan yang akan segera digelar. “Alhamdulillah ini udah selesai, tinggal tunggu putusan. Serahin aja semua sama Allah,” tutupnya.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *