Pengalaman Tidak Mengenakan Saat Menggunakan Ojek Online di GBK Jakarta
Seorang penonton konser di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan setelah menggunakan jasa ojek online (ojol). Ia dikenakan biaya sebesar Rp 200 ribu oleh pengemudi ojol, padahal rute perjalanan yang dilaluinya tergolong singkat. Insiden ini viral di media sosial dan menimbulkan banyak reaksi dari masyarakat.
Pessyaa, penonton tersebut, menceritakan kronologi kejadian yang dialaminya usai menonton konser hari kedua di Stadion Madya GBK pada Minggu (1/3/2026). Ia mengaku dalam kondisi kurang fit setelah berada di lokasi konser sejak siang hingga malam. Selain itu, ia dan rekannya juga kesulitan mendapatkan akses internet di sekitar lokasi sehingga tidak bisa memesan ojol melalui aplikasi.
Akibat keterbatasan sinyal, Pessyaa dan temannya memutuskan untuk menggunakan jasa ojek yang berada di dalam area GBK. Para pengemudi terlihat mengenakan jaket ojol berwarna hijau dan menawarkan jasa secara langsung kepada penonton. Menurut Pessyaa, ia sudah menyampaikan tarif Rp10.000 per orang untuk perjalanan singkat tersebut. Pengemudi disebut menyatakan tarif tidak akan jauh berbeda dengan harga aplikasi.
Keduanya pun sepakat membayar Rp20.000 untuk dua motor. Namun, di tengah perjalanan, pengemudi yang membawa Pessyaa menyebut dirinya baru beroperasi di kawasan tersebut dan meminta agar tarif akhir ditanyakan kepada rekannya yang membawa teman Pessyaa. Perjalanan yang ditempuh tidak sampai tiga menit. Setibanya di tujuan, pengemudi tiba-tiba menunjukkan kode QRIS dengan nominal Rp200.000.
Pengemudi berdalih tarif tersebut merupakan harga biasa untuk mengantar penumpang dari pintu utama GBK ke Senayan Park. Pessyaa kaget dan menolak membayar dengan nominal tersebut. Terjadi lah perdebatan cukup panjang. Dalam situasi yang disebutnya memanas dan berpotensi ricuh, ia akhirnya menyerahkan Rp50.000 kepada pengemudi yang membawa rekannya.
Tak berhenti di situ, pengemudi yang membawa Pessyaa juga meminta bayaran tambahan dan meneriakinya seolah-olah belum membayar. Ia sempat menawarkan Rp10.000 hingga Rp20.000 sesuai kesepakatan awal, namun ditolak. Pengemudi tetap meminta Rp50.000 hingga Rp100.000. Pessyaa kemudian memanggil petugas keamanan GBK untuk menengahi.
Ia mengaku siap menyelesaikan persoalan di pos keamanan. Namun, menurutnya, pengemudi tetap bersikeras meminta bayaran lebih tinggi. Akhirnya, demi meredakan situasi, Pessyaa memberikan Rp25.000 kepada pengemudi tersebut. Total uang yang dikeluarkan untuk dua ojek menjadi Rp75.000.
Meski mengaku sudah mengikhlaskan uang tersebut, Pessyaa menyatakan kecewa dan sakit hati atas perlakuan yang diterimanya. Ia menilai pengemudi tidak menjaga kepercayaan dan melakukan hal yang tidak etis.
Tanggapan dari Pihak GBK
Merespons kejadian ini, Kepala Divisi Humas, Hukum dan Administrasi GBK, Asep Triyadi mengatakan akan menelusuri kejadian terlebih dulu. Ia juga berjanji kejadian itu akan menjadi bahan evaluasi. “Kami akan telusuri dulu terkait ini yang tentunya akan menjadi bahan evaluasi untuk ke depan seperti apa,” ujar Asep saat dihubungi.
Dia juga akan menghubungi operator ojol agar kejadian tidak terulang kembali. “Termasuk menghubungi operator ojol dimaksud, agar kondisi seperti ini tidak terulang kembali di kawasan GBK,” tambahnya.
Kesimpulan
Insiden ini menjadi peringatan bagi para pengguna layanan ojek online, khususnya di tempat-tempat yang memiliki keterbatasan sinyal. Penonton harus waspada dan memastikan kesepakatan tarif sebelum menggunakan jasa ojek. Selain itu, pihak penyelenggara acara juga perlu memperhatikan keamanan dan kenyamanan pengunjung, termasuk dalam hal penggunaan transportasi di lingkungan mereka.











