Tantangan dan Strategi Pariwisata Sleman di Tengah Efisiensi Anggaran
Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah telah menjadi tantangan baru bagi pelaku usaha pariwisata di Sleman. Kondisi ini memaksa sektor wisata untuk lebih mandiri dalam memasarkan destinasi mereka, sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui strategi pemasaran digital yang lebih efisien.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Sleman menyatakan bahwa situasi ini seolah “memaksa” pelaku wisata untuk lebih kreatif dalam menghadapi tantangan. Ketua PHRI Sleman, Andhu Pakerti, menjelaskan bahwa sektor perhotelan saat ini tengah menghadapi beban operasional yang semakin berat di tengah tren liburan yang menurun. Fenomena ini terlihat dari fluktuasi okupansi hotel selama libur Lebaran tahun ini.
Menurut dia, puncak okupansi masa libur lebaran 2026 hanya berlangsung selama empat hari yakni 21-24 Maret yang sempat menembus rata-rata di atas 90 persen. Namun, setelah itu okupansi turun kembali ke kisaran 55 hingga 65 persen. Penurunan tren liburan wisatawan yang menginap di hotel ini berbarengan dengan adanya pergeseran beban promosi.
“Secara jujur, kita melihat ada pergeseran beban promosi. Ketika anggaran pemerintah melakukan efisiensi atau penyesuaian, pelaku wisata memang ‘dipaksa’ lebih mandiri dalam memasarkan destinasinya,” imbuh Andhu.
Meski demikian, PHRI Sleman tidak melihat kondisi ini sebagai beban semata. Efisiensi anggaran APBD justru dipandang sebagai pelecut bagi sektor swasta, mulai dari hotel, restoran, hingga pengelola destinasi untuk berhenti berjalan sendiri-sendiri dan mulai menggencarkan strategi joint promotion.
“Promosi yang selama ini dibiayai penuh oleh APBD mungkin berkurang, sehingga sektor swasta harus lebih agresif melakukan joint promotion dan memaksimalkan kanal digital yang lebih hemat biaya namun tepat sasaran,” jelas Andhu.
Empat Pilar Utama untuk Menghadapi Tantangan
Menghadapi dinamika tersebut, pelaku wisata di Sleman menitipkan harapan besar pada empat pilar utama yaitu penyelenggaraan event yang berkualitas, kemudahan regulasi dan pajak, sinergi lintas sektor, serta fokus pada pengembangan wisata berkualitas atau quality tourism. Sinergi ini dianggap kunci agar pariwisata Sleman tetap kompetitif meski di tengah keterbatasan anggaran pemerintah.
Terpisah, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sleman, Kus Endarto mengamini adanya penurunan performa akomodasi di libur lebaran tahun ini. Merujuk data BPD PHRI DIY, rata-rata okupansi hotel di Sleman pada Lebaran 2026 tercatat sebesar 70 persen, turun 12,5 persen dibandingkan periode tahun 2025 yang mencapai 80 persen.
“Kondisi ekonomi yang belum membaik membuat banyak pemudik lebih memilih tinggal di rumah kerabat. Selain itu, menjamurnya akomodasi tak berizin dengan harga miring turut menggerus pasar hotel resmi,” jelas dia.
Hal ini terlihat dari turunnya persentase belanja akomodasi wisatawan dari 29,5 persen di tahun lalu menjadi 25,4 persen tahun ini. Kus Endarto mengungkapkan bahwa pihaknya terus mencermati fenomena yang terjadi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan penguatan promosi langsung atau direct promotion ke pasar potensial seperti Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Pihaknya juga telah menjadwalkan rangkaian table top dan travel dialog di Jawa Timur pada pekan kedua April 2026, serta partisipasi dalam pameran nasional di JICC pada akhir April. Kegiatan ini diharapkan bisa mempertahankan capaian pergerakan wisatawan ke Kabupaten Sleman tahun 2025 yang lalu.
“Selain itu, kami juga terus meningkatkan koordinasi dan kerja sama dengan semua stakeholder pariwisata, dalam kaitannya untuk mengatasi keterbatasan yang ada,” ujar dia.
Strategi Promosi Digital dan Kolaborasi Lintas Sektor
Dalam menghadapi tantangan ini, pelaku wisata di Sleman mulai beralih ke strategi pemasaran digital yang lebih efisien. PHRI Sleman menekankan pentingnya penggunaan platform digital untuk memperluas jangkauan promosi tanpa harus menghabiskan anggaran besar. Hal ini dianggap sebagai langkah yang lebih hemat dan efektif, terutama dalam situasi anggaran pemerintah yang mengalami efisiensi.
Selain itu, kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah menjadi kunci untuk memastikan pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan. Dengan sinergi yang kuat, Sleman dapat mempertahankan daya tarik wisatawan meskipun di tengah keterbatasan anggaran.
Strategi joint promotion juga menjadi salah satu fokus utama. Melalui kolaborasi antara hotel, restoran, dan pengelola destinasi, para pelaku usaha dapat membagi beban promosi dan memperluas cakupan pasar. Ini membuka peluang untuk membangun citra pariwisata Sleman yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Dengan kombinasi strategi digital, kolaborasi lintas sektor, dan inovasi dalam promosi, Sleman memiliki potensi besar untuk tetap menjadi destinasi wisata yang diminati. Kuncinya adalah adaptasi dan kreativitas dalam menghadapi perubahan yang terjadi.











