Kenaikan Harga BBM Non-Subsidi Memicu Perubahan Pola Konsumsi
Pengumuman kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi yang berlaku sejak 18 April 2026 telah memicu prediksi pergeseran pola konsumsi masyarakat. Salah satu contohnya terjadi di Bondowoso, tempat harga Pertamax Turbo melonjak hingga Rp19.400 per liter. Hal ini membuat manajer SPBU memprediksi adanya migrasi pengguna ke Pertamax biasa.
Dampak pada Instansi Pemerintah
Kenaikan harga BBM yang mencapai hampir 50 persen tidak hanya memengaruhi pola pembelian di SPBU, tetapi juga memaksa instansi pemerintah untuk memperketat penggunaan anggaran operasional. Di Bondowoso, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menjadi salah satu instansi yang terdampak langsung karena memiliki delapan armada pengangkut sampah yang wajib menggunakan BBM non-subsidi setiap hari.
Kepala DLH Bondowoso, Henry Kurniawan, menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM memengaruhi biaya operasional harian. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pelayanan tetap menjadi prioritas utama. Untuk mengoptimalkan anggaran, pihaknya akan melakukan penyesuaian rute dan memastikan kondisi mesin armada selalu prima.
Selain itu, Kepala Bagian Umum Pemkab Bondowoso, Sofie Adie Kurniawati, menyebutkan bahwa kenaikan harga BBM hampir 50 persen otomatis memengaruhi pengeluaran. Anggaran BBM yang semula dialokasikan untuk dua bulan kini kemungkinan hanya cukup untuk 1 hingga 1,5 bulan saja. Sebagai solusi sementara, pihaknya mengapresiasi kebijakan efisiensi seperti penggunaan sepeda manual untuk jarak dekat dan penerapan WFH.
Prediksi Migrasi Konsumen
Harga BBM non-subsidi resmi mengalami kenaikan signifikan, di mana Pertamax Turbo melonjak dari Rp13.900 menjadi Rp19.400 per liter, Dexlite menjadi Rp23.600, dan Pertamina Dex naik menjadi Rp23.900 per liter. Meskipun kenaikan ini tidak berdampak signifikan terhadap volume penjualan di SPBU-SPBU Bondowoso, karena pangsa pasar BBM tersebut memang sedikit, para pengusaha SPBU memprediksi adanya pergeseran konsumsi dari pengguna Pertamax Turbo ke Pertamax biasa.
Pengawas SPBU Kembang, Adista Prabudi, mengatakan bahwa kenaikan harga ini tidak memengaruhi pola pembelian secara drastis karena pembelinya memang sedikit. Ia menyebutkan bahwa dalam sehari, pihaknya hanya menyediakan sekitar 100-200 liter Pertamax Turbo dan sekitar 450 liter Dexlite.
Manajer SPBU Tamansari, Jagir, juga menyebutkan permintaan Pertamax Turbo dan Dexlite memang tidak terlalu tinggi. Namun, pihaknya memprediksi akan ada pergeseran konsumsi dari pengguna Pertamax Turbo ke Pertamax biasa.
Tren Positif Pengguna Kereta Api
Di sisi lain, pengguna transportasi massal Kereta Api (KA) di Stasiun Mojokerto meningkat signifikan pada triwulan pertama tahun 2026. Berdasarkan data PT KAI Daop 8 Surabaya, periode Januari-Maret 2026 telah melayani 98.027 pelanggan atau naik 16 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 84.177 pelanggan. Peningkatan ini diprediksi bakal terus berlanjut menyusul kebijakan kenaikan harga BBM non-subsidi yang berpotensi membuat masyarakat beralih ke moda transportasi umum.
Manager Humas KAI Daop 8 Surabaya, Mahendro Trang Bawono, mengonfirmasi kinerja positif tersebut. Dari total pelanggan, tercatat sebanyak 48.168 pelanggan berangkat dan 49.859 pelanggan tiba di Stasiun Mojokerto. Mahendro menambahkan bahwa KAI berkomitmen terus menghadirkan layanan yang fokus pada pelanggan, mengedepankan aspek keselamatan, kenyamanan, dan ketepatan waktu. Ia optimistis tren positif di Stasiun Mojokerto akan terus berlanjut.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











