Perkembangan IHSG pada Bulan April 2026: Tantangan Global dan Harapan Domestik
Pada bulan April 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi situasi yang penuh tantangan. Arah indeks ini berada di tengah tekanan dari pasar global dan harapan dari dalam negeri, terutama dari aktivitas korporasi yang dilakukan oleh berbagai perusahaan. Pada Jumat (27/3/2026), IHSG mengalami penurunan sebesar 0,94% menjadi 7.097,06. Dalam sebulan terakhir, indeks tersebut telah turun sebanyak 13,82%, bahkan sepanjang tahun 2026, IHSG ambles hingga 17,92%.
Dari data historis selama sembilan tahun terakhir, IHSG cenderung menguat pada bulan April. Kenaikan yang konsisten sering terjadi dibandingkan bulan-bulan lainnya. Dalam sembilan tahun tersebut, hanya tiga kali IHSG terkoreksi, yaitu pada 2018 dengan penurunan 3,14%, 2019 turun 0,21%, dan 2024 melemah 0,75%. Dengan data tersebut, sekitar 67% dari bulan April mengalami penguatan.
Secara historis, April dikenal sebagai bulan yang bullish karena adanya aksi korporasi seperti pembagian dividen. Namun, kondisi tahun ini tidak sepenuhnya sesuai dengan pola historis tersebut. Ketegangan geopolitik dan ketidakpastian global membuat pasar lebih fluktuatif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurut Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, April memiliki kecenderungan positif secara historis. Efek basis rendah pada Maret juga membuka peluang penguatan indeks. Ia menjelaskan bahwa setelah libur, pergerakan indeks berpeluang membaik.
Namun, risiko global masih menjadi ancaman bagi pasar. Kenaikan harga minyak dan ketidakpastian kebijakan suku bunga global dapat menekan minat risiko investor. Konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi memicu inflasi dan memperpanjang periode suku bunga tinggi. Hal ini dapat membatasi penguatan IHSG.
Di tengah tekanan global, perhatian pelaku pasar mulai bergeser ke dinamika domestik, khususnya aktivitas emiten. Strategi perusahaan dalam menghimpun dana menjadi indikator penting kondisi pasar saat ini.
Hans Kwee, Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasardana, menyatakan bahwa emiten cenderung lebih selektif dalam melakukan ekspansi. Kondisi pasar yang belum stabil membuat perusahaan berhati-hati dalam mengambil langkah.
Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan bahwa aksi penawaran umum saham perdana (IPO) masih nihil sampai 27 Maret 2026. Meski demikian, terdapat 12 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham. Mayoritas perusahaan dalam pipeline tersebut berasal dari kelompok aset besar dengan nilai aset di atas Rp 250 miliar. Sektornya didominasi oleh consumer non-cyclicals, infrastruktur, dan teknologi.
Sementara itu, aktivitas pendanaan melalui pasar utang masih cukup aktif. Hingga akhir Maret, penerbitan obligasi mencapai 45 emisi dari 30 penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS). Masih ada 28 emisi dari 20 penerbit EBUS yang berada dalam pipeline BEI. Mayoritas berasal dari sektor keuangan sebanyak 8 perusahaan, menyusul sektor infrastruktur sebanyak 6 perusahaan.
Aksi rights issue juga tetap berjalan meskipun jumlahnya terbatas. Per 27 Maret 2026, ada tiga emiten yang menerbitkan rights issue dengan nilai Rp 3,75 triliun dan di pipeline hanya ada satu emiten.
Hans menjelaskan bahwa stabilnya pasar obligasi menjadi alasan utama emiten memilih instrumen ini. Selain itu, perbankan yang lebih selektif juga mendorong perusahaan mencari pendanaan alternatif ke rights issue.
Di sisi lain, musim Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang mulai semarak di April dan pembagian dividen menjadi daya tarik tersendiri bagi investor. Namun katalis positif itu masih terhalang oleh sentimen perang.
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, menilai pelemahan pasar saat ini bisa menjadi daya tarik bagi investor pemburu dividen. Namun, kondisi ini tetap perlu dicermati.
Menurutnya, pelemahan bisa jadi peluang masuk, apalagi bagi investor yang mengejar dividen. Tapi dengan volatilitas tinggi, ada risiko dividend trap. Teakan pasar yang masih besar membuat pergerakan saham cenderung tidak stabil. Investor berpotensi masuk di momentum dividen, tetapi menghadapi risiko penurunan harga setelahnya.
Hans menegaskan RUPS dan pembagian dividen memang menjadi sentimen positif, tetapi perang antara Amerika Serikat (AS)–Israel dan Iran masih mendominasi. Jika eskalasi meningkat, IHSG cenderung turun.
Dalam hitungannya, secara valuasi IHSG pada 12 kali Forward P/E di bawah rata-rata 5 tahun terakhir. Hans menilai masih ada potensi bagi IHSG untuk menguat karena mayoritas sentimen sudah ter priced-in oleh market.
“Jika sentimen positif datang dari terhindarnya downgrade MSCI, atau berakhirnya konflik geopolitik Timur Tengah maka sharp reversal diharapkan terjadi pada kuartal dua,” ucapnya.
Namun untuk perdagangan awal April 2026, Hans memproyeksikan IHSG masih akan melemah dengan support di level 7.000 sampai level 6.900. Sementara level resistance IHSG berada di kisaran 7.323 sampai level 7.527.











