JAKARTA – Banyak perusahaan di sektor konsumer sedang mempersiapkan strategi untuk menghadapi risiko yang muncul akibat ketegangan antara Iran, AS, dan Israel. Kondisi ini telah memengaruhi berbagai aspek bisnis, termasuk biaya pengangkutan, ketersediaan bahan baku, dan distribusi produk.
Perusahaan Konsumen Mengantisipasi Kenaikan Biaya Angkut
Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), Franciscus Welirang atau lebih dikenal dengan panggilan Franky, menjelaskan bahwa perang yang terjadi telah menyebabkan kenaikan biaya angkut internasional hingga 35%. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa pasokan bahan baku gandum untuk Indofood masih cukup.
”Karena saya berada di divisi Bogasari, masalah bahan baku gandum saya kira sementara ini tidak bermasalah atas supply-nya. Khusus dalam negeri, jelas juga angkatan laut untuk ke daerah pasti naik, [tetapi] belum tahu berapa. Sedangkan pasar terigu dalam negeri mungkin mulai jelas dalam 2—3 minggu ke depan karena kita libur Paskah lagi,” ujarnya.
Franky menambahkan bahwa ketersediaan bahan baku gandum biasanya bergantung pada hasil panen yang akan datang. Untuk wilayah utara, hasil panen biasanya terjadi pada Juni—Juli, sedangkan untuk wilayah selatan, hasil panen terjadi pada November—Desember.
Prediksi Kenaikan Harga Bahan Baku
Meski ketersediaan bahan baku saat ini tercukupi, Franky memprediksi bahwa kenaikan harga bahan baku tidak dapat dihindari. Namun, ia belum menjelaskan secara detail bagaimana Indofood akan mengendalikan kenaikan harga tersebut.
”Khusus harga fluktuatif sementara ini. Jelas ada kemungkinan kenaikan [harga bahan baku]. Akibat dampak di luar kontrol, tidak mungkin kami kendalikan,” katanya.
Dampak Perang pada BEEF
Di sisi lain, Sekretaris Perusahaan Estika Tata Tiara, Ratna Sari Ismianti, menjelaskan bahwa perang yang terjadi sangat berdampak pada BEEF, terutama karena perseroan melakukan impor bahan baku. Namun, ia menegaskan bahwa dalam waktu dekat, pihaknya masih belum memiliki rencana untuk melakukan impor bahan baku.
”Perang pasti sangat berdampak, apalagi kami melaksanakan impor sapi dan daging beku. Namun, saat ini ketersediaan stok daging beku dan sapi masih cukup, sehingga perseroan dalam waktu dekat ini belum ada rencana melaksanakan impor,” ujarnya.
BEEF kini lebih berhati-hati dalam menjaga pasokan bahan baku. Mereka berharap perang antara AS dan Iran segera berakhir agar bisnis di Indonesia bisa kembali normal.
Upaya Garudafood dalam Menghadapi Kenaikan Harga Minyak
Sementara itu, Direktur PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. (GOOD), Johannes Setiadharma, menjelaskan bahwa perusahaan sedang berupaya mengantisipasi lonjakan harga bahan baku akibat kenaikan harga minyak. Biaya shipping freight diprediksi akan melonjak, dengan ketersediaan kapal kontainer yang lebih terbatas.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor, GOOD berupaya meningkatkan kemitraan dengan petani lokal. Selain itu, mereka juga mencari sumber pasokan dari negara-negara Asia jika kebutuhan dalam negeri tidak terpenuhi.
”[Kami] berupaya menurunkan ketergantungan terhadap bahan baku impor melalui kemitraan dengan petani Indonesia untuk menjamin pasokan bahan baku komoditas pertanian,” ujarnya.
Penghematan Biaya dan Distribusi Lebih Efisien
Selain itu, GOOD juga berencana melakukan berbagai upaya penghematan. Salah satunya adalah meningkatkan penggunaan energi baru dan terbarukan seperti biomassa serta solar panel untuk mengurangi beban penggunaan listrik.
Dalam hal distribusi, GOOD berencana secara bertahap mengganti truk berbahan bakar solar dengan truk berdaya listrik. Hal ini dilakukan untuk mendukung operasional distribusi yang lebih efisien ke depan.
”Tentu juga diperlukan penyusunan ’scenario planning’ untuk mengantisipasi tiap risiko yang berpotensi muncul sebagai dampak dari perang dan segera membuat alternatif solusi yang optimal dalam tiap kemungkinan risiko yang bisa terjadi, yang kami mapping sehingga lebih siap apabila benar terjadi [kenaikan harga energi],” katanya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











