"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Bisnis  

Harga komoditas naik, kinerja emiten batubara tumbuh



Peluang Kinerja Emiten Batubara di Tengah Perubahan Harga Global

Pada tahun 2026, peluang perbaikan kinerja emiten-emiten produsen batubara cukup menjanjikan. Hal ini terjadi seiring dengan lonjakan harga batubara yang dipengaruhi oleh ancaman krisis energi akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pergerakan harga batubara global mencerminkan dinamika pasar yang sangat sensitif terhadap situasi politik dan ekonomi dunia.

Harga batubara di pasar global sempat mengalami peningkatan signifikan. Pada Rabu (4/3), harga batubara naik sebesar 7,23% ke level US$ 138 per ton, menjadi tingkat tertinggi dalam 15 bulan terakhir. Namun, pada Kamis (5/3) pukul 16.40 WIB, harga batubara kembali turun sebesar 3,70% ke level US$ 132,90 per ton. Meskipun demikian, dalam sebulan terakhir, harga batubara tetap berada dalam tren positif dengan penguatan sebesar 14,57%.

Peningkatan harga batubara ini terjadi setelah penghentian operasional fasilitas Liquefied Natural Gas (LNG) Qatar yang memasok sekitar 20% pasokan LNG global. Konflik militer antara Amerika Serikat-Israel dan Iran menyebabkan gangguan pada pasokan energi global, sehingga terjadi peralihan permintaan energi dari sumber lain ke batubara.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menjelaskan bahwa lonjakan harga batubara saat ini wajar terjadi sebagai hasil dari kombinasi risk premium energi akibat konflik di Timur Tengah. Selain itu, kebijakan pemangkasan produksi dari Indonesia juga membuat pasokan batubara menjadi lebih ketat.

Dampak positif dari penguatan harga batubara terasa pada kinerja emiten batubara. Harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) berpotensi meningkat. Namun, biasanya ada jeda karena kontrak dan waktu pengiriman batubara ke pelanggan.

“Dampaknya ke kinerja kuartal I-2026 bisa mulai terlihat jika level harga batubara bertahan beberapa pekan dan porsi kontrak jangka pendek cukup besar,” ujar Ekky.

Strategi yang perlu diperkuat oleh emiten batubara antara lain:

  • Optimalisasi penjualan tanpa mengorbankan kepastian volume, agar tidak terganggu oleh fluktuasi harga.
  • Menjaga efisiensi biaya dan logistik, karena biaya biasanya ikut naik ketika harga batubara tinggi.
  • Disiplin manajemen arus kas atau capital expenditure (capex), agar keuangan tetap stabil.
  • Komunikasi kebijakan dividen yang jelas untuk menjaga kepercayaan investor.

Selain itu, optimalisasi ekspor bisa dilakukan dengan memanfaatkan dolar yang menguat. Namun, strategi ini harus realistis karena ada faktor DMO, kuota, dan kebijakan domestik. Oleh karena itu, lebih fokus pada pengaturan alokasi dan timing penjualan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menambahkan bahwa emiten batubara perlu memaksimalkan penjualan ke pasar ekspor untuk memanfaatkan harga batubara global yang tinggi. Penjualan ekspor akan semakin menjanjikan ketika mata uang dolar AS menguat, sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan dan margin.

“Strategi kontrak jangka menengah juga penting untuk menangkap harga pasar aktual,” imbuh dia.

Menurut Abida, fase harga batubara tinggi masih bisa berlanjut dalam jangka pendek mengingat pasokan energi global terbatas. Namun, risiko bagi emiten batubara tetap ada seiring permintaan yang fluktuatif dan tekanan dari biaya logistik akibat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Belum lagi, kebijakan energi bersih tetap menjadi sentimen yang membatasi permintaan batubara.

“Emiten dengan biaya rendah, kontrak ekspor kuat, dan fleksibilitas pasar akan lebih tahan banting,” tutur Abida.

Ekky menilai bahwa selama kondisi pasokan energi masih ketat dan sentimen geopolitik belum mereda, maka harga batubara bisa bertahan lebih kuat meski pergerakannya sangat dipengaruhi oleh peristiwa.

Tantangan bagi emiten batubara pada beberapa bulan mendatang adalah normalisasi geopolitik yang bisa menurunkan harga minyak dunia dan mengurangi peralihan energi, perubahan kebijakan kuota ekspor, serta risiko permintaan global dan kenaikan biaya logistik.

Secara umum, Ekky menganggap saham sektor batubara masih layak dipertimbangkan selama harga komoditas bertahan tinggi. Namun, investor disarankan menggunakan strategi yang lebih aman seperti buy on weakness dan disiplin profit taking lantaran sektor ini cepat berbalik ketika harga komoditasnya koreksi.

Saham yang dapat dijadikan pilihan bagi investor adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang punya keunggulan dari sisi likuiditas dan kebijakan dividen. Ekky menargetkan harga saham PTBA dan ITMG dalam jangka pendek bisa ke level Rp 3.200 per saham dan Rp 25.400 per saham.

Abida juga menyebut saham PTBA dan ITMG layak dipertimbangkan oleh investor dengan target harga di level Rp 3.100 per saham dan Rp 27.300 per saham. Target harga ini mencerminkan potensi kenaikan saat harga batubara tinggi, namun tetap perlu pengelolaan risiko terhadap volatilitas pasar dan kebijakan energi.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *