JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah cukup dalam pada perdagangan Senin (9/3/2026). Saat indeks komposit jatuh, saham emiten migas seperti MEDC dan ENRG justru melaju naik.
Melansir data dari Stockbit Sekuritas pada pukul 09.02 WIB, IHSG ambles sebesar 4,38% ke level 7.253,29. Sejumlah saham yang dibuka merah antara lain PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang koreksi sebesar 8,70% ke Rp210, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) koreksi 1,79% ke Rp6.875, serta saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang dibuka ambles 4,39% ke Rp3.050.
Di sisi lain, beberapa saham yang terpantau masih menguat antara lain PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) yang dibuka naik 4,11% ke Rp1.900 dan saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) yang menguat 5,10% ke Rp1.855.
Menilik indeks saham sektoral, seluruhnya dibuka di zona merah. Koreksi terbesar adalah saham-saham di sektor basic material yang dibuka turun 7,67%, diikuti oleh indeks saham sektor infrastruktur yang turun 5,97% dan saham konsumer siklikal yang dibuka melorot 5,89%.
Tim Riset Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG hari ini bergerak di rentang support 7.300 dan resistance 7.700. Pada perdagangan Jumat (6/3), indeks komposit ditutup koreksi 1,62% ke level 7.585. Pasar dilanda sejumlah sentimen yang datang dari global.
“Indeks di bursa Wall Street melemah cukup signifikan pada Jumat (6/3), menambah koreksi secara mingguan. Harga minyak mentah berlanjut melemah dan data tenaga kerja AS secara tak terduga mengalami penurunan. Harga minyak WTI menguat hingga di atas level US$90 per barel (6/3), sehingga membukukan penguatan mingguan terbesar sejak perdagangan minyak futures dimulai di tahun 1983,” tulis riset tersebut, Senin (9/3/2026).
Sementara dari faktor geopolitik, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa tidak akan ada kesepakatan untuk mengakhiri perang AS-Iran tanpa ‘penyerahan tanpa syarat’ dari Iran. Hal itu meningkatkan kecemasan investor bahwa perang akan berlangsung lebih lama dari perkiraan dan dampaknya terhadap gangguan pasokan minyak mentah berpotensi lebih lama dari estimasi sebelumnya.
Dikhawatirkan harga minyak akan berlanjut naik jika beberapa negara mengurangi atau menghentikan produksi minyaknya, meskipun Presiden Iran menyatakan tidak akan menyerang negara tetangganya lagi. Serangan Israel terhadap depot minyak Iran pada Sabtu (7/3) dikhawatirkan menambah faktor negatif.
Berikutnya, pasar juga menyoroti sejumlah data ekonomi yang telah dirilis. Data nonfarm payrolls AS turun menjadi 92.000 di Februari 2026 dari 126.000 di bulan sebelumnya. Sedangkan, tingkat pengangguran naik menjadi 4,4% dari 4,3%. Di tengah potensi meningkatnya inflasi karena kenaikan harga energi, data ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi terjadinya stagflasi.
Selanjutnya di dalam negeri, realisasi defisit APBN dilaporkan sebesar Rp135,7 triliun atau mencapai 0,53% dari PDB di Februari 2026, lebih tinggi dari tahun lalu yang sebesar 0,13%. Sedangkan, realisasi pendapatan negara sebesar Rp358 triliun atau 11,4% dari target APBN 2026, meningkat dari Rp317,4 triliun di Februari 2025.
Sejumlah program seperti makan bergizi gratis (MBG), bansos, belanja pegawai, belanja kementerian/lembaga dan subsidi telah mendorong realisasi belanja negara tumbuh 41,9% YoY menjadi Rp493,8 triliun pada Februari 2026.
“Pekan ini investor akan mencermati data inflasi di AS dan China. Dari domestik, akan dirilis data IKK, retail sales dan penjualan otomotif. IHSG diperkirakan kembali uji level 7.480. Jika tembus berpeluang menguji support berikutnya di 7.250-7.300,” tulis riset tersebut.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











