"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Bisnis  

China Jadi Pemenang Lelang, Ahli Khawatirkan Keamanan Proyek PSEL Danantara

Perusahaan China Dominasi Lelang Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)

Pengolahan sampah menjadi energi listrik atau pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) yang dilakukan oleh Danantara, sebuah perusahaan yang dikelola oleh dana investasi negara. Dalam lelang yang sedang berlangsung, terdapat sejumlah besar perusahaan asing yang ikut serta, dengan mayoritas berasal dari Tiongkok.

Dalam tahap awal lelang batch pertama, terdapat 24 perusahaan yang lolos sebagai Daftar Penyedia Terseleksi (DPT). Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 perusahaan berasal dari Tiongkok, satu perusahaan dari Prancis, dan tiga perusahaan dari Jepang. Hal ini menunjukkan dominasi perusahaan Tiongkok dalam proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik.

Yuyun Ismawati, Senior Advisor Nexus3 Foundation dan penerima penghargaan Lingkungan Goldman, mengatakan bahwa dengan jumlah mayoritas perusahaan Tiongkok, kemungkinan besar mereka akan lebih mudah memenangkan lelang PLTSa. Menurut Yuyun, biaya modal (Capital Expenditure/ Capex) yang digunakan oleh Tiongkok untuk membangun insinerator atau teknologi tungku pembakaran dalam proyek pembangkit sampah lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Jerman, Amerika Serikat, atau negara-negara Eropa.

“Capex untuk membuat insinerator di Tiongkok terendah sedunia. Jadi, jika dibandingkan semua negara, investasi terendah untuk insinerator adalah Tiongkok,” kata Yuyun.

Namun, Yuyun juga menyampaikan kekhawatiran terkait praktik yang akan dibawa oleh perusahaan Tiongkok ke Indonesia. Ia menjelaskan bahwa di Tiongkok, proses pembakaran dalam proyek PLTSa sering kali dibantu dengan batubara, yang justru bertentangan dengan tujuan Indonesia mencapai Energi Baru Terbarukan (EBT).

“Jika perusahaan Tiongkok yang running the company, maka praktik ini akan mereka bawa ke Indonesia,” tambahnya.

Daftar Perusahaan yang Lolos DPT

Berikut adalah daftar 24 perusahaan yang masuk dalam Daftar Penyedia Terseleksi (DPT):

  • Mitsubishi Heavy Industries Environmental & Chemical Engineering dari Jepang
  • ITOCHU Corporation dari Jepang
  • China Everbright Environment Group Limited dari Tiongkok
  • Kanadevia Corporation dari Jepang
  • PT MCC Technology Indonesia (MCC) dari Tiongkok
  • China National Environmental Protection Group Co., Ltd (CECEP) dari Tiongkok
  • GCL Intelligent Energy (Suzhou) Co., Ltd. dari Tiongkok
  • Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd dari Tiongkok
  • Dynagreen Environmental Protection Group Co., Ltd dari Tiongkok
  • SUS Indonesia Holding Limited konsorsium Indonesia dengan Tiongkok
  • Veolia Environmental Services Asia Pte. Ltd dari Prancis
  • Hunan Construction Engineering Group Co., Ltd dari Tiongkok
  • CEVIA Enviro Inc. dari Tiongkok
  • China Conch Venture Holding Limited dari Tiongkok
  • China TianYing Inc dari Tiongkok
  • PT Jinjiang Environment Indonesia dari Tiongkok
  • Wangneng Environment Co., Ltd dari Tiongkok
  • Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd dari Tiongkok
  • Beijing China Sciences Runyu Environmental Technology Co.,Ltd. (CSET) dari Tiongkok
  • Tianjin TEDA Environmental Protection Co., Ltd dari Tiongkok
  • Grandblue Environment Co., Ltd dari Tiongkok
  • Beijing GeoEnviron Engineering & Technology, Inc dari Tiongkok
  • Wuhan Tianyuan Group Co., Ltd dari Tiongkok
  • QiaoYin City Management Co., Ltd dari Tiongkok

Masalah Karakteristik Sampah di Indonesia

Yuyun menambahkan bahwa Indonesia masih tertinggal dalam sistem pemilahan sampah. Secara teknis, 60% sampah di Indonesia adalah sampah organik yang tidak layak bakar. Karena sampah masih tercampur, nilai kalornya rendah, sehingga sulit untuk diubah menjadi energi listrik.

“Sampah kita masih tercampur, makanya harus ada roadmap-nya. Kalau sampah masih tercampur, nilai kalornya rendah,” ujarnya.

Untuk mendapatkan nilai kalor yang cukup, PLTSa Indonesia membutuhkan fuel additive seperti solar atau batubara. Namun, hal ini berpotensi meningkatkan emisi abu karena suhu pembakaran tidak bisa mencapai 1.000 derajat Celcius.

“Pembakaran tidak sempurna akan menghasilkan racun, seperti dioksin. Ini sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kanker, gangguan reproduksi, dan kerusakan sistem kekebalan tubuh,” jelas Yuyun.

Regulasi dan Pengawasan Emisi

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa dalam Peraturan Presiden (Perpres) baru terkait program waste to energy (WtE), telah ditetapkan standar kepatuhan lingkungan dan kewajiban penggunaan scrubber untuk insinerator dalam PLTSa.

Scruber adalah alat pengendali polusi yang bekerja dengan menyemprotkan air atau bahan kimia untuk menghilangkan polutan berbahaya seperti sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx).

“Karena AMDAL, sudah dijelaskan di dalam Perpres, mematuhi lingkungannya. Sehingga dia harus pakai scrubber di situ,” kata Eniya.

Namun, Yuyun mengatakan bahwa berdasarkan regulasi lingkungan hidup di Indonesia, pengukuran dan pemantauan baku mutu dioksin dan furan hanya dicek setiap lima tahun sekali, meskipun seharusnya dilakukan dua kali setahun, yaitu musim hujan dan musim kering.

“Di Indonesia tidak akan ada penanganan pencemaran di cerobong. Karena gak ada laboratoriumnya di Indonesia, pemerintah bikin baku mutu dioksin dari insinerator hanya cukup diperiksa 5 tahun sekali,” kata Yuyun.

Kritik terhadap Proyek PLTSa

Secara garis besar, Yuyun menilai bahwa proyek PLTSa Danantara bukan jawaban atas permasalahan sampah di Indonesia. Ia menilai lelang yang dilakukan oleh sovereign wealth fund (SWF) ini dilakukan tanpa kajian yang jelas.

“Peraturannya harus diubah, emisi, baku mutu, lokasi, tidak bisa langsung main lelang-lelang sekarang,” tutup Yuyun.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *