"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Bisnis  

Habis Rp15 Juta, Budi Kecewa Terompet Buatannya Tak Laku Lagi saat Tahun Baru

Kehilangan Tradisi: Cerita Penjual Terompet dan Pedagang Kembang Api di Tahun Baru 2026

Dalam perayaan Tahun Baru 2026, banyak tradisi yang mulai menghilang seiring dengan perubahan zaman. Salah satu contohnya adalah penjualan terompet dan kembang api yang biasanya ramai pada malam pergantian tahun. Namun, kini, keadaan jauh berbeda. Banyak pedagang mengeluhkan penurunan penjualan yang signifikan, baik terkait terompet maupun kembang api.

Pengalaman Penjual Terompet Purworejo

Budi Kurniawan (55) adalah salah satu dari sekian banyak penjual terompet yang menghadapi kesulitan. Sejak tahun 1990, ia telah menekuni bisnis ini. Namun, saat ini, lapaknya terlihat sepi. Bahkan, dari pagi hingga sore hari, belum ada satu pun terompet yang terjual.

“Pernah gagal total. Modal sampai Rp15 juta habis, tapi terompet tidak laku,” ujar Budi. Pengalaman itu terjadi beberapa tahun lalu saat ia berjualan di wilayah Kutoarjo bersama sekitar 20 pedagang lainnya. Hasil penjualan nihil, namun Budi tetap bertahan.

Memasuki awal 2025, Budi kembali mencoba peruntungan dengan modal yang jauh lebih kecil, sekitar Rp2 juta, ia memproduksi sekitar 200 terompet hasil buatan tangannya sendiri. Meski dijual dengan harga Rp10 ribu per buah, penjualan tetap sepi.

Menurut Budi, perubahan pola hiburan masyarakat menjadi salah satu penyebab utama menurunnya minat terhadap terompet Tahun Baru. Kehadiran telepon pintar membuat masyarakat lebih memilih hiburan digital dibandingkan tradisi lama menyambut pergantian tahun.

“Sekarang orang lebih asyik main HP. Terompet itu identiknya cuma buat Tahun Baru. Dulu masih bisa dipakai untuk acara lain,” keluhnya.

Meski demikian, Budi menegaskan bahwa terompet buatannya murni untuk hiburan. Ia menolak jika terompet dikaitkan dengan kepentingan politik atau agama. Harapannya sederhana, bisa mendapatkan penghasilan yang layak untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Keahlian Budi dalam Membuat Terompet

Budi bukanlah penjual terompet biasa. Sejak 1990, ia telah menekuni dunia perajin terompet dan dikenal sebagai salah satu pakar terompet tradisional di Purworejo. Tangannya piawai menciptakan berbagai desain unik, mulai dari bentuk naga, karakter hewan, hingga model kreatif lain yang menjadi ciri khas karyanya.

Sebelum fokus sebagai perajin, Budi juga pernah menjalani profesi sebagai penjual mainan keliling, berpindah dari satu tempat ke tempat lain demi menyambung hidup. Kini, meski usia tak lagi muda dan pasar kian menyempit, ia tetap bertahan dengan keterampilan yang dimilikinya.

“Sebelum jual terompet, dulu jual mainan keliling, tapi sudah lama sekali,” kata dia. Kisah Budi Kurniawan menjadi potret nyata ketangguhan pelaku usaha kecil di tengah derasnya arus perubahan zaman.

Di balik sunyinya bunyi terompet Tahun Baru, tersimpan harapan sederhana seorang perajin agar tradisi tak sepenuhnya hilang, dan jerih payah tangan tetap dihargai. “Ya semoga ke depan dapat lebih baik, anak-anak bisa main terompet seperti dulu lagi,” tutupnya.

Sepinya Pasar Kembang Api

Selain terompet, penjualan kembang api juga mengalami penurunan. Di Subang, misalnya, para pedagang mengaku penjualan turun hingga 60 persen akibat larangan pesta kembang api secara nasional.

Usman Afandi, salah seorang penjual kembang api di Pantura Subang, mengaku sepi pembeli akibat adanya larangan menyalakan kembang api di malam pergantian tahun 2026. “Hingga malam ini jelang malam pergantian tahun, warga yang beli kembang api masih sangat sepi. Ada sih yang beli ada tapi sangat sedikit sekali,” katanya.

Menurut Usman, pembeli kembang api umumnya para orangtua untuk anaknya yang masih kecil. “Rata-rata orangtua yang beli kembang api, itu pun kembang api khusus anak-anak yang daya ledaknya kecil,” katanya.

Mamat Nurcahya, pedagang kembang api lainnya, juga mengaku sepi pembeli jelang malam tahun baru 2026. “Masih sangat sepi, dibandingkan tahun sebelumnya. Ada yang beli hanya kembang api untuk anak-anak,” ujarnya.

Harga kembang api sangat bervariasi mulai puluhan hingga ratusan ribu per buah, tergantung ukuran dan banyaknya isi kembang api. “Harga kembang api untuk anak-anak mulai Rp 5.000 hingga Rp 20.000. Sedangkan kembang api berukuran besar untuk orang dewasa yang biasa menyinari langit di malam tahun baru, itu kisaran ada yang Rp 50.000 per buah hingga ada di atas Rp 100.000 tergantung banyaknya isi kembang api di dalamnya,” tuturnya.

Mamat berharap, menjelang malam pergantian tahun beberapa jam kedepan, masih ada rezeki akhir tahun dari dagangan kembang apinya. “Mudah-mudahan masih ada rezeki akhir tahun dari berjualan kembang api, sekalipun hingga petang ini penjualan masih jauh dari tahun sebelumnya atau turun sekitar 60-70 persen dibandingkan tahun lalu,” ucapnya.

Risma Handayani, salah seorang pembeli, mengaku membeli kembang api ukuran kecil untuk anak-anak dirumah. “Saya beli kembang api untuk anak-anak dan akan dinyalakan dirumah, cuma untuk menghibur anak-anak aja di malam pergantian tahun,” katanya.

Melihat sepinya pembeli, Risma juga mengaku kasihan kepada para pedagang kembang api. Momen akhir tahun biasanya mereka meraup untung tapi tahun ini sepi. “Tadi sebelum beli, saya lihat tak ada yang beli sepi pedagang kembang api ini, jadi saya beli aja untuk anak-anak. Sempat nanya juga ke si mang pedagangnya, katanya sepi menurun hampir 70 persen penjualan dibandingkan tahun lalu,” pungkasnya.


Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *