"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Bisnis  

Elon Musk hingga Bos Instagram Investasi di Militer, CEO Spotify Dikritik

Perusahaan Teknologi Global Berinvestasi di Sektor Pertahanan, Kritik dari Kalangan Musisi



Sejumlah tokoh teknologi ternama seperti Mark Zuckerberg dan Elon Musk tidak hanya berfokus pada inovasi digital, tetapi juga mulai memperluas investasi mereka ke bidang pertahanan atau militer. Salah satu contohnya adalah CEO Spotify, Daniel Ek, yang justru mendapat kritik dari para musisi setelah menginvestasikan jutaan dolar dalam teknologi drone militer AI. Keputusan ini membuat sejumlah musisi menarik karya mereka dari platform Spotify.

Investasi perusahaan teknologi global di sektor pertahanan menjadi sorotan, terutama di tengah eskalasi konflik seperti perang Rusia-Ukraina, perselisihan antar-kubu di Yaman, serta serangan Israel ke Gaza, Palestina. Menurut laporan Dana Inovasi NATO, pendanaan modal ventura di sektor pertahanan, keamanan, dan ketahanan Eropa mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, yaitu US$5,2 miliar (Rp 86,9 triliun) pada 2024. Angka ini tumbuh 30% dalam dua tahun terakhir, melampaui pasar modal ventura yang secara umum turun 45%.

Berikut beberapa CEO teknologi global yang berinvestasi atau menjalin kerja sama dalam bidang pertahanan dan militer:

Bos Spotify Daniel Ek

CEO Spotify, Daniel Ek, berinvestasi di startup teknologi pertahanan Eropa Helsing. Ia berpartisipasi dalam putaran pendanaan senilai 600 juta euro (Rp 11,5 triliun). Putaran pendanaan jumbo ini dipimpin oleh Prima Materia, firma modal ventura yang didirikan Ek bersama Shakil Khan, investor awal Spotify. Ek juga menjabat sebagai ketua dewan Helsing.

Investor lama yang berpartisipasi termasuk Lightspeed Venture Partners, Accel, Plural, General Catalyst, dan Saab, serta investor baru BDT & MSD Partners. Helsing didirikan pada 2021. Startup ini mengembangkan perangkat lunak berbasis AI untuk menganalisis data sensor dan sistem persenjataan dari medan perang secara real time. Perusahaan ini mulai memproduksi drone militer HX-2 dan beroperasi di Inggris, Jerman, serta Prancis.

Dana segar dari pendanaan terbaru akan difokuskan untuk memperkuat kedaulatan teknologi Eropa, terutama dalam pengembangan AI.

Mark Zuckerberg

Meta, yang dipimpin oleh Mark Zuckerberg sebagai CEO, menjalin kemitraan dengan perusahaan defense tech Anduril Industries untuk mengembangkan dan menerapkan produk extended reality (XR) bagi tentara Amerika Serikat di medan perang. Melalui kerja sama ini, Meta dan Anduril merancang, membangun, dan mengoperasikan berbagai sistem XR terintegrasi yang bertujuan meningkatkan persepsi prajurit serta memungkinkan kontrol intuitif atas platform otonom, seperti drone dan sistem tanpa awak lainnya, dalam situasi tempur.

Mark Zuckerberg menyebut kolaborasi ini sebagai kelanjutan alami dari arah teknologi Meta selama satu dekade terakhir. “Meta telah menghabiskan sepuluh tahun terakhir membangun AI dan AR untuk menghadirkan platform komputasi masa depan,” ujar Mark Zuckerberg dalam pernyataan pers.

Elon Musk

Pemilik SpaceX, Tesla, dan media sosial X, Elon Musk, juga memperluas keterlibatan di sektor militer melalui perusahaan kecerdasan buatannya, xAI. Pada Desember 2025, perusahaan mengumumkan kesepakatan dengan Pentagon untuk mengintegrasikan model AI Grok ke dalam platform GenAI.mil, sistem AI internal Departemen Pertahanan AS. Dalam perjanjian tersebut, teknologi xAI akan beroperasi di Impact Level 5 (IL5), standar keamanan tinggi yang memungkinkan pemrosesan Controlled Unclassified Information.

Implementasi awal ditargetkan mulai awal 2026 dan akan digunakan oleh sekitar 3 juta personel militer dan sipil. Selain kemampuan AI inti, pengguna GenAI.mil juga akan memperoleh akses ke data real-time global dari platform X (Twitter), yang diklaim memberi keunggulan informasi strategis bagi militer AS.

Pendiri dan CEO Palantir

Pendiri Palantir Technologies, Peter Thiel, melalui Founders Fund, memimpin pendanaan senilai US$2,5 miliar (Rp 41,8 triliun) kepada Anduril Industries pada Juni 2025. Founders Fund menyumbang US$1 miliar (Rp 16,7 triliun) dalam putaran pendanaan ini. Anduril merupakan startup defense tech yang mengembangkan sistem otonom, sensor medan perang, drone, dan teknologi AI untuk keamanan nasional. Valuasinya mencapai US$30,5 miliar (Rp 510 triliun).

Pendanaan itu digelar bersamaan dengan pengambilalihan proyek augmented reality headset milik Microsoft untuk Angkatan Darat AS serta kerja sama Anduril dengan Meta untuk mengembangkan perangkat VR dan AR bagi militer. Dana segara itu akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas manufaktur dan produksi teknologi pertahanan skala besar.

CEO Palantir Technologies Alex Karp juga berinvestasi di bidang militer berbasis data dan AI. Palantir baru-baru ini mengumumkan komitmen investasi hingga £1,5 miliar (Rp 33,7 triliun) untuk menjadikan Inggris sebagai pusat inovasi pertahanan digital Eropa. Kesepakatan yang ditandatangani bersama Kementerian Pertahanan Inggris ini mencakup pengembangan alat digital dan AI untuk mempercepat pengambilan keputusan militer, peningkatan sistem intelijen dan penargetan, serta dukungan langsung terhadap transformasi battlefield lethality.

Palantir juga akan menjadikan London sebagai basis bisnis pertahanan Eropanya, serta menciptakan hingga 350 lapangan kerja baru, termasuk perekrutan ratusan talenta AI dan data di Inggris. Teknologi Palantir akan mendukung pengembangan kill chain dan Digital Targeting Web, atau sistem yang menggabungkan data intelijen, sensor, dan platform militer untuk memberikan opsi serangan cepat kepada komandan. Sistem serupa telah digunakan secara nyata di medan perang Ukraina.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *