JAKARTA – Sejumlah perusahaan energi nasional seperti PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) dan PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) dihadapkan pada tantangan terkait penurunan harga komoditas migas. Hal ini dipengaruhi oleh lonjakan produksi global yang terus meningkat.
Christian Sitorus, Research Analyst MNC Sekuritas dalam laporan risetnya yang diterbitkan 17 Desember 2025 menyebutkan bahwa produksi minyak global diperkirakan akan naik sekitar 3,1 juta barel per hari (mbpd) pada 2025 dan bertambah 2,5 mbpd pada 2026. Namun, pertumbuhan permintaan hanya mencapai 770.000–770.000 barel per tahun.
“Kondisi ini berpotensi menciptakan surplus pasokan dan peningkatan persediaan sehingga memperbesar kemungkinan tekanan harga akan berlanjut,” ujar Christian.
Sementara itu, subsektor gas menunjukkan prospek yang lebih stabil. Proyeksi permintaan global untuk gas diperkirakan mencapai 4.120–4.300 miliar kaki kubik (bcm) pada 2026 hingga 2028. Pertumbuhan utama berasal dari pasar Asia dengan tingkat pertumbuhan sebesar 3,5% hingga 4%.
Di dalam negeri, permintaan gas di Indonesia diperkirakan meningkat 117–126 bcm pada 2026 hingga 2028. Namun, kebijakan Net Zero, penerapan pajak karbon, serta elektrifikasi transportasi dapat menghambat pertumbuhan konsumsi minyak dalam jangka menengah.
Dari sisi kebijakan pemerintah, SKK Migas menargetkan investasi sekitar US$16 miliar pada 2026. Fokusnya adalah pengeboran 100–110 sumur eksplorasi serta penyelesaian proyek gas utama seperti Tangguh Train 3, Indonesia Deepwater Development (IDD), dan Abadi Masela. Target lifting ditetapkan sekitar 610 kbpd untuk minyak dan 1,0 mboepd untuk gas, sehingga total lifting mencapai 1,59–1,62 mbpd.
Meski demikian, tantangan struktural masih berlanjut, termasuk tingkat penurunan alamiah yang tinggi, proses perizinan yang panjang, serta keekonomian cadangan di mana hanya sekitar 60% sumber daya yang ekonomis pada harga minyak di bawah US$80 per barel.
MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi netral untuk sektor migas. Alasan rekomendasi ini adalah kondisi surplus minyak, di mana pasokan meningkat sekitar 3,1 mbpd sementara permintaan hanya tumbuh moderat sekitar 0,8 mbpd. Disparitas antara pasokan dan permintaan ini disebut berpotensi menekan margin.
Dari berbagai saham emiten migas, MNC Sekuritas memberikan rekomendasi saham pada AKRA dengan target harga Rp2.000. Target harga ini dinaikkan dari sebelumnya sebesar Rp1.450. Pada penutupan pasar Senin (29/12/2025), saham AKRA tidak berubah di level Rp1.250.
Rekomendasi tersebut diberikan karena diversifikasi pendapatan yang dimiliki AKRA di tengah jatuhnya harga migas. Per akhir September 2025, AKRA membukukan total pendapatan sebesar Rp32,39 triliun, tumbuh 13,22% YoY dibanding total pendapatan kuartal III/2024 sebesar Rp28,61 triliun.
Segmen perdagangan dan distribusi menopang pendapatan utama perseroan. Pendapatan dari kontrak pelanggan meningkat 13,28% YoY dari Rp28,40 triliun menjadi Rp32,17 triliun. Sedangkan, pendapatan sewa naik 5% YoY dari Rp208,89 miliar menjadi Rp219,35 miliar. Dari sisi bottom line, laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih tumbuh 12,30% YoY dari Rp1,47 triliun menjadi Rp1,65 triliun.
Sementara itu, MEDCO dalam periode yang sama membukukan koreksi pendapatan 1,45% YoY dari US$1,78 miliar menjadi US$1,75 miliar. EBITDA perseroan juga turun 3% YoY menjadi US$946 juta, dibanding US$979 juta pada periode yang sama 2024.
Penurunan EBITDA itu seiring dengan penurunan rata-rata harga minyak dari US$80 per barel menjadi US$68 per barel atau turun 15%. Pada saat yang sama, harga gas rata-rata stabil di US$6,9 per mmbtu.
Dari sisi bottom line, laba bersih MEDC juga terpangkas 68,65% YoY dari US$273,27 juta menjadi US$85,64 juta. Koreksi ini disebabkan oleh harga minyak yang lebih rendah dan kontribusi anak usaha PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) yang mengalami rugi US$37 juta.
Sementara bagi ENRG yang punya eksposur lebih besar pada komoditas gas, menorehkan pertumbuhan laba bersih 8,54% YoY menjadi US$55,65 juta. Di top line, ENRG mencatat pertumbuhan penjualan 13,05% YoY menjadi US$361,38 juta.
Dari sisi kinerja bisnisnya, rata-rata produksi minyak ENRG meningkat 6% YoY menjadi 8.381 barel per hari, dengan produksi gas susut 2% menjadi 223,6 juta kaki kubik. Hanya saja, hal ini dapat dikompensasi dengan harga jual. Rata-rata harga minyak perseroan susut 14% YoY menjadi US$71,14 per barel sedangkan harga rata-rata gas meningkat 7% YoY menjadi US$6,79 per juta kaki kubik.











