Festival Kiamat Ekosistem dan Kejutan Sorgum
Pada suatu sore di akhir bulan November, saya berkesempatan menghadiri Festival Kiamat Ekosistem yang menarik perhatian banyak orang. Meskipun judulnya terdengar sedikit menyeramkan, festival ini justru menyajikan isu-isu penting tentang krisis iklim dan keberlanjutan ekosistem. Salah satu hal yang menarik dari festival ini adalah pengenalan berbagai pangan lokal yang sering kali diabaikan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah buku berjudul Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan, yang merupakan bagian dari Seri Pangan Nusantara.
Apa Itu Sorgum?
Sorgum? Sebelumnya, saya hanya mengenal sorgum sebagai bahan makanan ternak. Namun, melalui buku ini, saya belajar bahwa sorgum sebenarnya sudah dikenal oleh nenek moyang kita sejak ribuan tahun lalu. Bahkan, gambar sorgum terpahat di relief Candi Borobudur, menunjukkan bahwa tanaman ini memiliki sejarah panjang di Indonesia.
Buku yang ditulis oleh Ahmad Arif, mantan wartawan Kompas, membuka wawasan baru bagi saya tentang sorgum. Setelah membaca seluruh isi bukunya, saya memutuskan untuk mencoba memasak sorgum merah dan tepung sorgum putih. Saya sudah pernah mencoba memasak beras merah, porang, dan jagung seperti nasi, dan rasanya cukup enak. Saya pun mulai berharap sorgum bisa menjadi alternatif makanan pokok yang layak dicoba.
Penampakan dan Penggunaan Sorgum
Dalam buku ini, ada foto ilustrasi yang menunjukkan penampakan tanaman sorgum. Secara visual, tanaman ini mirip dengan jagung, tetapi butiran sorgum tidak rapi dalam bonggol seperti jagung. Sebaliknya, butirannya bergerombol dan lebih besar daripada padi, bahkan terlihat seperti kedelai. Karena kemiripannya dengan kedelai, sorgum mulai dikembangkan sebagai bahan baku tempe.
Sejarah dan Perkembangan Sorgum
Dalam buku ini disebutkan bahwa sorgum memiliki berbagai nama lokal, seperti cantel, gandrung, batari, pena mina, jagung rote, dan lolo. Selain terpahat di Candi Borobudur, jejak sorgum juga dapat ditemukan dalam karya sastra kuno seperti Serat Centhini. Dalam teks tersebut, terdapat deskripsi tentang berbagai bahan makanan yang tumbuh di sawah, termasuk canthel (sorgum).
Diduga, sorgum berasal dari Afrika dan menyebar ke Indonesia melalui pedagang India. Pada abad ke-15, sorgum masuk ke wilayah NTT, yang memiliki cuaca kering, sehingga cocok untuk budidaya sorgum. Pada masa lalu, sorgum adalah salah satu sumber pangan utama selain beras, gandum, dan jagung. Namun, saat ini, sorgum cenderung ditinggalkan secara global, kecuali di beberapa negara Afrika dan India.
Di Indonesia, sorgum pernah populer di Jawa, terutama di Yogyakarta dan Demak. Canthel (sorgum) diolah seperti memasak nasi dan juga digunakan sebagai bahan minuman keras. Namun, pada tahun 1990-an, budidaya sorgum mulai menyusut karena kebijakan pemerintah yang menjadikan beras sebagai satu-satunya pangan pokok.
Potensi Sorgum sebagai Solusi Pangan
Meskipun sorgum semakin jarang dikonsumsi, nutrisi yang terkandung dalam sorgum tidak kalah dengan beras dan gandum. Sorgum mengandung karbohidrat, protein, lemak, serat, kalsium, magnesium, vitamin B-kompleks, dan mineral lainnya. Selain itu, sorgum relatif mudah ditanam dan tidak memerlukan kondisi khusus seperti padi.
Buku ini memberikan wawasan penting tentang alternatif makanan pokok selain beras. Dengan meningkatkan kesadaran akan sorgum, masyarakat bisa lebih akrab dengan bahan pangan lokal dan mengurangi ketergantungan pada beras. Sorgum juga bisa diolah menjadi berbagai bentuk makanan, seperti keripik, sirup, tepung kue, atau bahkan tempe.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Setelah membaca buku ini, saya langsung memesan sorgum untuk dicoba. Sayangnya, buku ini tidak menyertakan resep masak sorgum, sehingga agak sulit membayangkan rasanya. Namun, saya tetap optimis bahwa semakin banyak orang yang tertarik untuk mencoba sorgum.
Jika sorgum makin dikenal, maka petani bisa kembali menanamnya secara tumpang sari bersama padi dan tanaman lainnya. Dengan demikian, bangsa Indonesia bisa lebih mandiri dalam menyediakan pangan dan menjaga keberagaman makanan lokal.
Detail Buku:
- Judul Buku: Sorgum: Benih Leluhur untuk Masa Depan
- Penulis: Ahmad Arif
- Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
- Tebal: 148 halaman
- Cetakan: Cetakan Ketiga, Juni 2025
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











