"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Ritual 500 Tahun Ngideri Cermee Bondowoso, 11 Pria Berkeliling Desa Tanpa Sepatu

Tradisi Ngideri di Desa Rambankulon, Bondowoso yang Berusia Lebih dari 500 Tahun

Di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, terdapat berbagai tradisi budaya yang masih dilestarikan hingga saat ini. Salah satu yang paling menarik adalah tradisi Ngideri di Desa Rambankulon, Kecamatan Cermee. Tradisi ini diyakini telah berlangsung selama lebih dari lima abad dan menjadi bagian dari rangkaian ritual Selametan Gugur Gunung. Pada Januari 2026, tradisi ini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI).

Ritual Dilaksanakan Selama Tujuh Malam Jumat Bulan Syawal

Ritual Ngideri dilaksanakan setiap malam Jumat sepanjang bulan Syawal. Plt. Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Bondowoso, Heri Kusdaryanto, menjelaskan bahwa ritual ini berlangsung selama tujuh minggu berturut-turut. Setiap malam, rombongan akan melakukan perjalanan mengelilingi desa sambil membawa alat musik tradisional.

Prosesi dimulai dengan doa bersama di makam Raden Imam Asy’ari, tokoh yang dikenal sebagai penyebar ajaran Islam di wilayah tersebut. Dari tempat ini, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke beberapa titik di desa seperti Ramban Wetan dan Suling Kulon sebelum kembali ke titik awal.

11 Lelaki yang Melakukan Ritual

Rombongan yang terlibat dalam ritual Ngideri terdiri dari 11 lelaki asli warga desa. Mereka tidak dipilih secara sembarangan, tetapi merupakan keturunan dari 11 orang yang secara turun-temurun menjalankan ritual ini. Jika salah satu peserta sudah tua, perannya akan digantikan oleh keturunannya.

Dalam prosesi, 10 orang dari 11 peserta bertugas memegang alat musik seperti klonengan, tong-tong kecil, dan talam (nampan), sedangkan satu orang lainnya bertindak sebagai juru kunci. Alat-alat musik ini dibunyikan sepanjang perjalanan untuk menciptakan suasana sakral dan khidmat.

Akulturasi Budaya yang Unik

Masyarakat setempat percaya bahwa tradisi Ngideri sudah ada sejak sekitar tahun 1500-an. Namun, pemerintah daerah menduga usia tradisi ini bisa lebih tua. Salah satu buktinya adalah bentuk alat musik yang digunakan, yang menyerupai lonceng atau klonengan pada masa Buddha. Hal ini menunjukkan adanya akulturasi budaya antara agama Islam dan kepercayaan lokal yang sudah ada sebelumnya.

Heri menjelaskan bahwa masuknya Islam di daerah ini tidak terjadi secara instan, melainkan berlangsung secara bertahap dan berakulturasi dengan adat istiadat masyarakat setempat.

Berjalan Tanpa Alas Kaki

Keunikan dari ritual Ngideri adalah para peserta berjalan tanpa alas kaki. Mereka mulai berkeliling desa sejak pukul 20.00 hingga sekitar pukul 01.00 WIB. Meski jarak tempuh cukup jauh, warga setempat meyakini bahwa telapak kaki para peserta tidak mengalami luka.

Menurut cerita masyarakat, rute ritual pada masa lalu bahkan lebih panjang. Pada era Majapahit, rombongan disebut harus berkeliling hingga kawasan Surabasah sampai Panarukan di Situbondo. Kepercayaan terhadap ritual ini sangat kuat, dan warga meyakini bahwa jika salah satu syarat tidak terpenuhi, misalnya hewan kurban berupa kambing berwarna cokelat muda menyerupai kijang, maka dapat terjadi musibah atau bala.

Pengakuan Nasional untuk Pelestarian Budaya

Tradisi Selametan Gugur Gunung yang menaungi ritual Ngideri resmi masuk daftar WBTBI pada Januari 2026. Selain tradisi ini, dua kekayaan budaya lain dari Bondowoso juga mendapatkan pengakuan yang sama, yaitu Tari Topeng Kona dan Tape Bondowoso.

Pengakuan ini diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian budaya lokal sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kekayaan tradisi Bondowoso. Dengan pengakuan nasional, tradisi Ngideri dan yang lainnya memiliki peluang lebih besar untuk terus dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi mendatang.




Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *