"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Nurdin dan Irwan Jaga Arsip Sulawesi Selatan Selama 30 Tahun

Ruang yang Menyimpan Kenangan Masa Lalu

Ruang lantai tiga Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) di Jl Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar, menyimpan berbagai catatan sejarah Sulawesi Selatan. Di dalamnya tersimpan ribuan boks arsip yang berisi informasi penting dari masa lalu.

Arsitektur dan Keamanan Ruang Arsip

Ruang ini selalu tertutup rapat dan hanya bisa diakses oleh dua orang yang diberi kepercayaan. Nurdin, salah satu penjaga ruang arsip, menjelaskan bahwa keamanan sangat ketat. Pintu dilengkapi sistem sidik jari dan kamera pengawas yang bekerja 24 jam. Di dalam ruangan, pendingin udara bekerja dengan baik, menciptakan suasana adem yang ideal untuk penyimpanan arsip.

Setiap orang yang masuk harus menggunakan alat pelindung diri seperti baju putih dan masker. Tujuannya adalah untuk melindungi tubuh dari debu dan mikroorganisme yang menempel pada kertas tua. Selain itu, ruangan juga dilengkapi dengan perlengkapan lain yang memastikan kebersihan dan keselamatan.

Banyaknya Arsip yang Tersimpan

Ada sekitar 40 ribu boks arsip dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan yang disimpan di ruangan ini. Arsip-arsip tersebut terdiri dari arsip statis dan inaktif. Semuanya menyimpan jejak waktu dan masa lalu. Nurdin mengatakan bahwa ia sudah bekerja di sini sejak 1 Maret 1989. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Ia ingat jelas dokumen pertama yang ia tangani, yaitu arsip tentang Celebes, nama lama Pulau Sulawesi, yang ditulis dalam bahasa Belanda. Ia juga pernah merawat arsip Negara Indonesia Timur (NIT) dengan tangannya sendiri. “Sudah 37 tahun saya berurusan dengan arsip,” ujarnya.

Arsip Tertua dan Risiko yang Ada

Arsip tertua yang tersimpan di ruangan ini berasal dari tahun 1826. Isinya tentang perdagangan kopra dari Pulau Selayar pada masa kolonial Belanda. Arsip ini ditulis dalam bahasa yang kini tidak banyak dipahami. “Arsip paling banyak dari Selayar. Yang tertua soal perdagangan kopra,” katanya.

Menjaga arsip bukan perkara sederhana. Lembaran-lembaran kertas tampak rapuh dan rentan terhadap debu, jamur, serta mikroorganisme. Risikonya tinggi karena kertas bisa menyebabkan kuman. Itulah sebabnya, setiap orang yang bersentuhan langsung dengan arsip harus menggunakan alat pelindung diri.

Proses Fumigasi dan Restorasi Arsip

Setiap enam bulan, ruang depo arsip kembali memasuki siklus sunyi. Fumigasi dilakukan dengan menyemprotkan bahan kimia untuk membasmi jamur dan hama. Selama dua minggu, ruangan ditutup rapat dan tidak boleh ada yang masuk. Setelah itu, arsip kembali dapat diakses.

Selain fumigasi, setiap tiga bulan, sekitar 40 ribu boks arsip harus diisi kamper atau kapur barus. Kamper digunakan sebagai insektisida untuk mencegah kerusakan. Namun, saat ini, restorasi arsip masih sangat minim. Keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala utama.

Kekhawatiran Nurdin Soal Masa Depan Arsip

Nurdin khawatir tentang masa depan arsip. Ia menyadari, tidak banyak generasi muda yang tertarik pada dunia kearsipan. Padahal, di tangan arsiparis, sejarah menemukan buktinya. “Arsip itu referensi pengembangan ilmu pengetahuan. Dia sumber informasi, sumber penelitian,” kata Nurdin.

Baginya, arsip bukan sekadar tumpukan kertas lama. Arsip merupakan memori kolektif, alat bukti hukum, sekaligus sumber informasi penting dalam pengambilan keputusan. Tanpa perawatan, semua itu bisa hilang.

Tugas Irwan dalam Restorasi Arsip

Di ruang lain, Irwan, arsiparis ahli madya, menjalankan tugas yang tak kalah rumit. Ia sibuk merestorasi arsip yang telah rusak dimakan usia. Irwan mengabdikan diri sejak 1992. Ia belajar di Jepang teknik restorasi arsip. “Kalau pelajari khusus tekniknya butuh waktu sekitar enam bulan,” katanya.

Pada Jumat (10/4), Irwan memperagakan proses restorasi di hadapan sejumlah pegawai yang dipersiapkan sebagai generasi penerus. Di hadapannya tersusun bahan kimia dan peralatan. Ada metil selulosa sebagai perekat, kalsium karbonat atau magnesium karbonat untuk menetralisir keasaman kertas, hingga benzena untuk membersihkan noda.

Irwan mengukur dan mencampur bahan sebelum mengoleskannya perlahan ke permukaan arsip yang rapuh. “Harus hati-hati dan konsentrasi. Salah sedikit, bisa gagal,” ujarnya.

Tantangan dalam Restorasi Arsip

Pekerjaan ini menuntut ketelitian, lebih jauh perlu menghadapi risiko. Paparan bahan kimia dapat menyebabkan iritasi hingga gangguan kesehatan. Karena itu, penggunaan alat pelindung diri menjadi kewajiban. “Bahan-bahan yang digunakan ini zat kimia jadi tentu berbahaya,” sebutnya.

Namun, tantangan tidak berhenti di situ. Biaya restorasi arsip tergolong tinggi. Satu rol tisu Jepang, bahan utama dalam proses perbaikan kertas, dibutuhkan dana antara Rp9 juta hingga Rp12 juta. Dalam kondisi ideal, kebutuhan bisa mencapai belasan rol setiap tahun. Namun, karena keterbatasan anggaran, saat ini hanya dua rol yang mampu dipenuhi.

Akibatnya, dari puluhan ribu arsip yang tersimpan, hanya sebagian kecil yang dapat direstorasi setiap tahunnya. Di tengah keterbatasan itu, Irwan tetap merawat lembar demi lembar dokumen yang menyimpan sejarah panjang.

Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *