"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Bisnis  

Kadin: Iklim Investasi Indonesia Stabil

Iklim Investasi dan Usaha di Indonesia Masih Baik

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie menyatakan bahwa iklim investasi dan usaha di Indonesia masih baik dari sudut pandang para pengusaha. Hal ini didasarkan pada surplus neraca perdagangan serta capaian investasi asing yang terus berjalan stabil.

“Dari sisi kita, iklim usaha di Indonesia tentu baik dan bisa terlihat. Contoh saja dari perdagangan selama 66 bulan betul-betul positif. Total sudah mencapai 38 miliar dolar sampai Oktober (2025). Lalu FDI juga baik,” ujar Anin saat ditemui usai menghadiri IDN Times Leadership Forum di IDN HQ Jakarta, Senin (8/12/2025).

Deregulasi dan Insentif

Meskipun demikian, Anin menilai pemerintah dan Kadin perlu fokus bersinergi dalam hal deregulasi dan pemberian insentif. Menurutnya, langkah-langkah tersebut akan membantu dunia usaha bergerak lebih leluasa lagi.

Fokus sinergi ini juga berkaitan langsung dengan rencana pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. “Tapi kita juga mesti berpikir kalau kita mau ke 8 persen, itu mesti 2-3 kali lipat. Nah, artinya deregulasi mesti kompetitif dibanding juga dengan negara lain termasuk juga insentif,” kata Anin.

Data Surplus Perdagangan dan Investasi Asing

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2025 kembali mencatat surplus sebesar 2,39 miliar dolar AS. Neraca perdagangan ini telah mencatatkan surplus selama 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Di sisi lain, realisasi investasi asing alias penanaman modal asing (PMA) di Indonesia kembali mengalami penurunan pada kuartal III-2025 secara tahunan atau year on year (yoy). Realisasi PMA di Indonesia mencapai Rp212 triliun, turun 8,9 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp232,7 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani tidak membantah adanya kontraksi pada realisasi PMA. Ia menyebut ketegangan geopolitik dunia sebagai penyebab utamanya. “Kita ketahui memang tantangan global kan masih ada. Kemarin-kemarin kalau kita lihat, ini kan laporan triwulan tiga dari bulan Juli, Agustus, September. Dalam tiga bulan ini kan kita lihat tensi dari potensi trade war, potensi dari perang juga masih ada,” ujar Rosan dalam konferensi pers di Jakarta.

Meski begitu, Rosan menyampaikan bahwa investasi asing tetap menunjukkan kenaikan secara kuartalan. PMA pada kuartal III-2025 sebesar Rp212 triliun, tumbuh 4,9 persen dibandingkan kuartal II-2025 yang hanya Rp202,2 triliun. “Sebetulnya investasi PMA-nya secara absolute number itu tidak turun, tetap meningkat. Angkanya tadi kurang lebih kan Rp212 triliun berbanding Rp202,2 triliun sebelumnya. Jadi tetap meningkat, tetapi tentunya harapannya FDI ini akan terus meningkat dari tahun ke tahun,” tutur Rosan.

Purbaya Sebut Iklim Investasi RI Berantakan

Pernyataan Anin tentang iklim investasi yang baik di Indonesia merespons pernyataan Menteri Keuangan Purbaya terkait iklim investasi di Indonesia yang dinilai masih berantakan. Kondisi ini menyebabkan Indonesia kalah saing dalam menarik investasi, bahkan dari negara tetangga.

Menurut Purbaya, Indonesia kini tertinggal jauh dari negara-negara seperti Vietnam, Thailand, Singapura, dan Malaysia. Ia mencontohkan kasus terbaru di mana perusahaan teknologi besar Nvidia lebih memilih berinvestasi di Johor, Malaysia, ketimbang Indonesia. “Sekarang kita sama Vietnam kalah, sama Thailand kalah, sama Singapura kalah, sama Malaysia kalah dalam hal menarik investasi. Kemarin, Nvidia, baru pilih Johor dibanding Indonesia,” katanya dalam Pembukaan Rapimnas 2025 Kadin Indonesia, Senin (1/12/2025).

Meskipun pemerintah telah menerapkan sistem perizinan terpadu, Purbaya menyoroti masalah di lapangan yang tidak kunjung selesai. Jika masalah sudah tuntas, perekonomian Indonesia seharusnya sudah melaju pesat dan investasi bisa berjalan kencang. “Iklim investasi kita masih berantakan. Betul kan? One single, one stop service, tapi gak kelar-kelar. Eh, boleh ngomong gini gak ya? Kalau nggak kita udah lari ekonominya, investasi udah ngebut,” ujarnya.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *