"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Bisnis  

Shell Siap Kembali ke Hulu Migas RI, Bisnis SPBU Terdampak?



JAKARTA – Shell Plc kembali menunjukkan minat untuk berinvestasi di sektor hulu migas Indonesia setelah beberapa tahun vakum. Perusahaan asal Inggris ini saat ini sedang melakukan evaluasi terhadap potensi wilayah yang bisa dikembangkan.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menyampaikan bahwa Shell akan melakukan studi bersama atau joint study dengan Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company (Kufpec) di lima prospek migas, baik di darat (onshore) maupun lepas pantai (offshore).

Lima wilayah tersebut tersebar di Sulawesi Barat, Bali, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). “Dua wilayah onshore dan offshore di Sulawesi Barat, serta tiga wilayah offshore di Bali dan NTB,” jelas Djoko dalam acara di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (12/11/2025).

Djoko menjelaskan bahwa kerja sama antara Shell dan Kufpec memiliki porsi 50:50. Proposal joint study ini telah diajukan kepada Direktorat Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Saat ini, pihak Ditjen Migas sedang mengevaluasi blok-blok migas yang diminati oleh Shell untuk dieksplorasi lebih lanjut.

Kabar kembalinya Shell ke sektor hulu migas Indonesia telah berhembus sejak awal 2025. Pada waktu itu, Shell disebut sedang menjajaki peluang di lapangan eksis, artinya perusahaan akan berinvestasi di wilayah kerja yang sudah dikelola oleh kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) lain.

Sebelumnya, Deputi Eksplorasi, Pengembangan, & Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus mengatakan bahwa alasan Shell kembali ke Indonesia adalah karena banyak temuan lapangan baru, khususnya di area lepas pantai dan laut dalam (deepwater). Menurutnya, hal ini sesuai dengan kompetensi utama Shell dalam pengeboran minyak lepas pantai dan laut dalam.

“Dengan temuan semua yang ada, kami sangat berharap nanti di bulan November kami ajak lagi Shell untuk benar-benar hadir di Indonesia,” ujar Rikky dalam acara Bisnis Indonesia Forum, Kamis (9/10/2025).

Dia menambahkan bahwa Shell sempat ragu untuk kembali masuk ke sektor hulu migas RI. Namun, pihaknya berhasil meyakinkan perusahaan asal Eropa itu. Menurut Rikky, prospek migas di Indonesia memiliki daya tawar yang cukup baik.

“Kita punya daya tawar yang cukup baik. Kita akan tetap bertemu, dan jadi Shell kan juga banyak entitasnya, jadi ini tone positif bagi rekan-rekan,” tambahnya.

Sebelumnya, Shell memutuskan untuk meninggalkan salah satu megaproyek migas Tanah Air, Blok Masela. Pada 2023, 35% hak partisipasi Shell di Blok Masela resmi diambil alih oleh Pertamina dan Petronas. Niat Shell untuk mundur mengemuka sejak 2019 dan menyebabkan pengembangan Blok Masela tersendat. Shell menilai bahwa investasi di negara lain lebih menguntungkan sehingga prioritas pada proyek Lapangan Abadi Blok Masela ditinggalkan. Akibatnya, Inpex harus mencari mitra baru untuk menggarap blok tersebut. Proses divestasi Shell juga berlarut-larut hingga 4 tahun lamanya.

Bisnis SPBU

Sementara itu, di bisnis hilir, Shell memilih untuk melepaskan bisnis stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) miliknya di Indonesia. PT Shell Indonesia, anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Shell Plc, bakal melepas bisnis SPBU ke perusahaan patungan baru (joint venture) antara Citadel Pacific Limited dan Sefas Group mulai 2026.

Shell memastikan bahwa proses pengalihan kepemilikan SPBU yang tengah berjalan saat ini bukan disebabkan kondisi kelangkaan BBM yang terjadi sejak akhir Agustus 2025. SPBU Shell tengah mengalami kekosongan stok BBM lantaran kuota impor mereka untuk tahun ini telah habis.

Berdasarkan catatan Bisnis, kuota impor BBM untuk Shell pada 2025 mencapai 329.704 kiloliter (kl) untuk RON 92, 119.601 kl untuk RON 95, dan 38.674 kl untuk RON 98.

Vice President Corporate Relations Shell Indonesia Susi Hutapea menjelaskan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah dan mengantisipasi hasil positif dalam proses pengalihan kepemilikan bisnis SPBU Shell di Indonesia. Menurutnya, semua pihak tetap berkomitmen dengan kesepakatan awal.

“Tidak terdapat dampak pada proses pengalihan kepemilikan bisnis SPBU Shell di Indonesia. Semua pihak tetap berkomitmen pada kesepakatan tersebut,” kata Susi kepada Bisnis, Minggu (28/9/2025).

Dia menuturkan, pengalihan kepemilikan bisnis SPBU Shell di Indonesia tunduk pada penerimaan persetujuan peraturan dan diharapkan selesai pada tahun 2026. Setelah itu, merek Shell akan tetap berada di Indonesia melalui perjanjian lisensi merek.

“Produk BBM akan dipasok melalui Shell dan pelanggan akan terus memiliki akses untuk menggunakan produk BBM berkualitas tinggi,” jelas Susi.

Langkah Shell melepas bisnis SPBU ke Citadel dan Sefas telah diumumkan sejak Mei 2025 lalu. Pengalihan kepemilikan merupakan bagian dari strategi Shell untuk transformasi portofolio dan sejalan dengan komitmen Capital Markets Day Shell.

Untuk diketahui, bisnis SPBU Shell di Indonesia mencakup jaringan SPBU Shell dan kegiatan pasokan serta distribusi BBM. Saat ini Shell memiliki sekitar 200 lokasi SPBU di Indonesia di mana lebih dari 160 di antaranya dimiliki perusahaan dan terminal BBM di Gresik, Jawa Timur.

Pemilik baru Shell yakni Citadel Pacific adalah perusahaan yang mapan dan terdiversifikasi dengan kegiatan operasional di seluruh Asia-Pasifik. Citadel merupakan pemegang lisensi merek Shell di Guam, Saipan, Republik Palau, Makau, dan Hong Kong.

Sementara itu, Sefas Group adalah distributor pelumas Shell terbesar di Indonesia. Meski demikian, Shell tidak sepenuhnya melepas bisnis hilirnya di Indonesia. Shell tetap melihat Indonesia menjadi pasar pertumbuhan utama untuk bisnis pelumas Shell. Shell memiliki dan mengoperasikan pabrik pelumas dengan kapasitas mencapai 300 juta liter per tahun.

Bahkan, saat ini sedang membangun pabrik manufaktur gemuk di Marunda yang akan memiliki kapasitas 12 kiloton per tahun. Pada 2022, Shell mengakuisisi EcoOils yang memiliki dua fasilitas pengolahan di Indonesia. Akuisisi EcoOils ini menambah portofolio bisnis bahan bakar rendah karbon Shell di kawasan tersebut.

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *