"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Bisnis  

Wujudkan Pangan Berdaulat, Strategi Jitu Pupuk Indonesia Tuntaskan Stigma Keterbelakangan di Wilayah Perbatasan

Petani Milenial di Desa Oabikase Berjuang untuk Kedaulatan Pangan

Hironimus Ahoinai (24) bersama rekan-rekannya dan sejumlah orang tua sedang berteduh di gubuk berukuran 6×4 yang dibangun di tengah sebuah lahan seluas 0,5 hektare di wilayah RT/RW, 001/001, Desa Oabikase, Kecamatan Insana Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka menghentikan sejenak aktivitas membersihkan lahan ketika gerimis perlahan berderai ringan. Hujan lebat mulai menggasing hebat ketika penulis tiba di dalam gubuk itu, Jumat 19 Desember 2025 sekira pukul 13.30 WITA. Kabut tebal menggantung pekat di jantung Desa Oabikase.

Setelah menempuh perjalanan sejauh 17 Kilometer dari Kota Kefamenanu (Ibukota Kabupaten TTU) dengan waktu tempuh 1 jam, penulis akhirnya bersua dengan para petani milenial ini. Raut wajah bahagia tergambar jelas di wajah mereka. Semestinya perjalanan ke Desa Oabikase hanya memakan waktu 34 menit. Namun, kondisi beberapa titik ruas jalan yang rusak berat menyebabkan waktu tempuh membengkak menjadi 1 jam.

Gubuk reyot ini menjadi saksi bisu perjuangan mereka menyulam asa berdaulat pangan. Dingin menyelimuti gubuk usang itu. “Kami tergabung dalam Kelompok Tani Taruna Tani Skill,” ujar Hironimus membuka percakapan dengan volume suara sedikit meninggi mencoba menyesuaikan gaduh derai hujan lebat.

Pada tahun 2025 ini, kaum muda di desa itu mengolah lahan di lokasi yang sama untuk kedua kalinya. Sebuah fakta yang terdengar mustahil sebelumnya.

Anak Seorang Petani yang Mengenyam Pendidikan di Perguruan Tinggi

Hironimus dan keluarganya berdomisili di RT/RW, 001/001, Desa Oabikase. Ayahnya, Videlis Ahoinai merupakan seorang petani dan ibunya, Densiana Tfaintem adalah ibu rumah tangga. Kendati dilahirkan dalam keluarga petani sederhana, sejak kecil Hironimus selalu memiliki mimpi mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi. Mimpi tersebut bagian dari cara Hironimus mengubah kondisi ekonomi keluarga. Bersyukurnya, niat ini diwujudkan oleh kedua orang tuanya yang gigih mendorong anak-anak mereka mengenyam pendidikan lebih baik.

Saat ini, Hironimus sedang dalam proses menyelesaikan tugas akhir di Universitas Timor. Anak pertama dari 4 bersaudara ini merupakan seorang mahasiswa aktif. Hironimus, tidak sedikitpun membiarkan rasa minder mengganggu keinginannya untuk bertani. Mewarisi mata pencarian orang tua baginya adalah pilihan yang cerdas. Beberapa rekannya juga sedang mengenyam pendidikan di Universitas Timor. Mayoritas kaum muda yang menjadi anggota kelompok tani ini adalah mereka yang tergabung dalam Organisasi Karang Taruna Desa Oabikase.

Kuliah bukan merupakan penghalang bagi mereka untuk bertani. Sebagai anak pertama, Hironimus harus mempersiapkan dirinya lebih awal untuk menjadi tulang punggung bagi orang tuanya dan adik-adiknya. Sejak bergabung dalam kelompok tani, ia berupaya membagi waktu untuk menuntaskan tugas akhir dan merawat tanaman di kebun. Kelompok Tani Taruna Tani Skill ini dibentuk untuk membangkitkan semangat kaum muda mencintai dunia pertanian di masa depan.

Terinspirasi dari Demplot Pupuk Kaltim

Hironimus pertama kali terinspirasi memantapkan tekad menjadi petani sukses di masa depan sejak kelompok tani mereka menjadi sasaran Demonstration Plot (Demplot) dari PT Pupuk Indonesia melalui anak perusahaannya Pupuk Kaltim pada Bulan Januari 2025 lalu. Saat itu mereka mendapat bantuan 250 kilogram Pupuk NPK Pelangi dan 100 kilogram Pupuk Urea Nitrea dari Pupuk Kaltim. Sedangkan benih, diperoleh dari Dinas Pertanian Kabupaten TTU.

Pada mulanya mereka sempat ragu akan hasil pertanian. Pasalnya, masyarakat setempat masih dihantui rasa trauma akan hasil pertanian yang tidak menguntungkan beberapa tahun terakhir. Rasa trauma ini semakin dipertegas oleh kehadiran demplot pada Bulan Januari 2025. Bagi masyarakat setempat, Bulan Januari bukan waktu yang ideal untuk menanam. “Biasanya Bulan Januari jagung sudah tumbuh setinggi dada orang dewasa,” ucapnya dengan mata berbinar-binar. Biasanya masyarakat setempat mulai menanam jagung sejak bulan November sampai Desember ketika awal musim hujan. Mereka biasanya memanen jagung pada Bulan Maret hingga Bulan April.

Warna berbeda pertama kali dihadirkan Pupuk Kaltim di Desa Oabikase. Sejarah yang bakal menjadi era baru dunia pertanian di desa itu. Waktu tanam ternyata bukan menjadi indikator namun metode pertanian yang harus menjadi patokan. Mereka memanfaatkan air dari kali yang melintas tak jauh dari lahan untuk menyiram tanaman jagung. Kelompok tani ini memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang sudah lama lumpuh untuk mengalirkan air dari kali menuju ke lahan pertanian. Air ditampung di dalam tandon yang ditempatkan di pinggir lahan pertanian sebelum digunakan untuk menyiram tanaman jagung.

Sebelumnya, masyarakat hanya memanen sebanyak 2 sampai 3 ton jagung di atas lahan seluas 0,5 hektare. Capaian hasil panen ini juga tergantung cuaca. Terkadang mereka hanya memanen 1 ton saja jika curah hujan tidak menentu. Dalam Demplot Pupuk Kaltim tersebut mereka berhasil memanen jagung sebanyak 10 ton dari luas lahan 0,5 hektare. Hasil yang signifikan ini merupakan harapan yang selama ini mereka impikan.

Ia menegaskan, Pupuk Kaltim mengubah persepsi mereka tentang cara bertani yang baik. Hasil demplot yang fantastis mempertegas keyakinan mereka di kemudian hari. Demplot kemudian menjadi titik balik mereka mulai semangat bertani.

Distribusi Pupuk Lancar

Anggota Kelompok Tani Taruna Tani Skill lainnya bernama Arnoldus Paineon menyebut, masyarakat Desa Oabikase sangat bersyukur karena, distribusi pupuk subsidi bisa mengcover kebutuhan petani di wilayah tersebut. Seorang agen pupuk di wilayah ini mampu mengcover kebutuhan petani di tiga kecamatan. “Sampai detik ini distribusi pupuk di wilayah kami sangat lancar. Menurut pandangan saya ini sangat bagus,” ujarnya.

Harga pupuk di wilayah Desa Oabikase sangat terjangkau. Di sisi lain masyarakat tidak kesulitan memperoleh pupuk subsidi dari agen. Pupuk Urea subsidi di wilayah itu dibeli dengan harga Rp. 112.500 per karung. Sedangkan, pupuk NPK subsidi Rp. 115.000 per karung.

Salah satu harapan masyarakat yang belum terjawab sampai saat ini yakni belum ada penambahan agen pupuk subsidi di wilayah tersebut. Pasalnya petani di beberapa kecamatan membeli pupuk dari 1 orang agen.

Desa Oabikase

Desa Oabikase terdiri dari 4 RT, 4 RW dan 2 Dusun. Sebanyak 402 jiwa dari 105 kepala keluarga yang berdomisili di desa itu. Wilayah Desa Oabikase berbatasan dengan Desa Usapinonot di bagian timur dan barat, bagian utara berbatasan dengan Desa Nifunenas dan bagian selatan berbatasan dengan Desa Lapeom. Mayoritas masyarakat setempat bermata pencarian sebagai petani dan peternak.

Komoditas andalan masyarakat setempat yakni padi, jagung, hortikultura dan ternak sapi. Masyarakat setempat menggantungkan hidupnya dari sawah tadah hujan yang membentang di sekeliling desa.

Kepala Desa Oabikase, Dedi Tahoni menjelaskan, sekitar 10 hektare sawah tadah hujan milik masyarakat Desa Oabikase yang diolah setiap tahun. Sementara sisanya adalah lahan kebun. Masyarakat setempat menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian. Menurunnya hasil produksi pertanian adalah bencana bagi masyarakat desa tersebut.

Letak Desa Oabikase terbilang cukup strategis karena diapit oleh sejumlah lahan tidur yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Kendati demikian, persoalan infrastruktur jalan masih menjadi kendala utama bagi masyarakat di desa itu. Desa Oabikase memiliki 4 kelompok tani. Semua kelompok tani itu masih eksis sampai saat ini. Satu kelompok Tani yakni Taruna Tani Skill merupakan satu-satunya kelompok tani yang diisi oleh kaum milenial.

Jalan Pintas Mencegah Masyarakat Merantau

Ia mengatakan, satu dekade terakhir, hasil pertanian masyarakat di Desa Oabikase menurun drastis. Pasalnya, kondisi cuaca yang tidak mendukung menyebabkan hasil panen tidak menentu. Di sisi lain, penerapan metode pertanian tradisional menjadi penyebab produksi pertanian tak sesuai ekspektasi. Dalam setahun masyarakat Desa Oabikase hanya melaksanakan satu kali tanam pada musim hujan.

Hal ini menyebabkan sejumlah masyarakat di Desa Oabikase memutuskan untuk merantau ke luar daerah bahkan keluar negeri. Hasil pertanian yang tidak menjanjikan mendorong mereka rela bekerja menjadi penerima upah. Menurutnya, upaya mendorong peningkatan produksi pertanian dengan menggandeng Pupuk Indonesia melalui anak perusahaan Pupuk Kaltim merupakan salah satu cara pemerintah desa mencegah kaum muda dan masyarakat merantau ke luar daerah.

Saat ini masyarakat setempat mulai berlomba-lomba mengolah lahan demi memperoleh hasil yang fantastis. Sebuah upaya awal yang tak sia-sia. Dedi juga membentuk Kelompok Tani Taruna Tani Skill yang berisikan anak-anak muda untuk mengedukasi mereka tentang dunia pertanian sebagai jantung kehidupan umat manusia. Sebanyak 20 orang kaum muda desa itu yang tergabung dalam kelompok tani ini.

Program Ketahanan Pangan Pemerintah Desa Oabikase dan Kopdes Merah Putih

Pemerintah Desa Oabikase dalam kurun waktu dua tahun terakhir menggagas sebuah program yang disebut Program Ketahanan Pangan. Selama ini masyarakat setempat mendapatkan bantuan pupuk subsidi dari pemerintah melalui Dinas Pertanian. Pupuk tersebut dimanfaatkan untuk menunjang produktivitas pertanian.

Demi menunjang produksi pertanian, Pemerintah Desa Oabikase menyalurkan sejumlah bantuan seperti bantuan benih, bantuan alat dan mesin pertanian dan bantuan pengolahan lahan. Pada tahun 2026 mendatang, pemerintah desa merencanakan perwujudan Program Ketahanan Pangan dengan skema yang lebih praktis dan efisien. Selain edukasi, mereka juga mengalokasikan sejumlah bantuan yang bersumber dari dana desa untuk kepentingan pertanian.

Masyarakat bakal dimudahkan mengakses permodalan melalui BUMDES dan Koperasi Desa Merah Putih dimana benih, pupuk dan bahan pertanian lainnya disiapkan secara fisik. Modal ini diperoleh dalam bentuk barang. “Nanti ada perhitungan-perhitungan sistem pengembaliannya yang memudahkan masyarakat,” ujarnya.

Semua hasil pertanian masyarakat, bakal dibeli oleh Kopdes Merah Putih dengan harga sesuai standar yang ditetapkan. Kerja sama yang efisien diharapkan membantu menyejahterakan kehidupan petani di desa itu.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *