"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Bisnis  

Kinerja Ancol (PJAA) Terganggu di Kuartal I-2026, Ini Penyebabnya

.CO.ID – JAKARTA

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) mencatat kinerja yang mengalami tekanan pada kuartal pertama tahun 2026. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis, pendapatan usaha PJAA tercatat sebesar Rp 207,58 miliar pada kuartal I-2026, turun tipis 1,52% dibandingkan dengan pendapatan sebesar Rp 210,80 miliar pada kuartal I-2025.

Secara rinci, pendapatan usaha PJAA berasal dari beberapa segmen utama. Pertama, segmen penjualan tiket mencatat pendapatan sebesar Rp 126,13 miliar. Kedua, segmen hotel dan restoran menyumbangkan pendapatan sebesar Rp 15,85 miliar. Terakhir, pendapatan usaha lainnya mencapai Rp 66,22 miliar. Dari sisi bottom line, rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 38,80 miliar, meningkat signifikan dari Rp 11,17 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Daniel Windriatmoko, Manager Corporate Communication PJAA, menjelaskan bahwa tekanan kinerja pada awal tahun ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah musim rendah yang bertepatan dengan bulan Ramadan. Selain itu, tingginya curah hujan memicu fenomena leisure substitution, yaitu masyarakat cenderung menunda atau mengalihkan aktivitas rekreasi mereka.

“Selain itu, ketidakpastian ekonomi makro global, termasuk tensi geopolitik, turut menekan daya beli dan membuat masyarakat lebih selektif dalam pengeluaran untuk kegiatan hiburan,” ujar Daniel dalam pernyataannya.

Lebih lanjut, Daniel menyebutkan bahwa periode libur Lebaran memberikan kontribusi sekitar Rp 43 miliar atau setara 20% dari total pendapatan kuartal I-2026 yang mencapai Rp 207,58 miliar. Namun, kontribusi tersebut belum cukup untuk menutupi penurunan selama bulan puasa. Ditambah lagi, momentum Lebaran yang jatuh di akhir kuartal membuat dampaknya terhadap kinerja belum optimal.

Menurut Abdul Azis Setyo Wibowo, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, penurunan kinerja PJAA pada kuartal I-2026 terutama disebabkan oleh kombinasi pendapatan yang stagnan dan kenaikan beban operasional. “Penurunan pendapatan yang tipis menunjukkan traffic pengunjung belum pulih signifikan, sementara lonjakan rugi mengindikasikan adanya tekanan dari sisi biaya seperti operasional wahana, maintenance, serta kemungkinan peningkatan biaya tenaga kerja dan utilitas,” ujar Azis.

Azis juga menyoroti bahwa momentum Lebaran kemungkinan belum optimal tercermin di kinerja kuartal I-2026, karena momen libur bisa jatuh di akhir kuartal atau bahkan overlap ke kuartal berikutnya. Selain itu, daya beli masyarakat yang masih terbatas serta pergeseran pola konsumsi ke alternatif hiburan lain juga membuat efek Lebaran tidak sekuat sebelumnya dalam mendorong lonjakan pendapatan.

Prospek Kinerja 2026

Daniel melihat prospek kinerja PJAA sepanjang 2026 masih berpeluang membaik dengan potensi rebound yang cukup kuat. Hal ini akan didorong oleh empat strategi utama:

  • Meningkatkan value per visitor: Melalui kemudahan akses, peningkatan pengalaman pengunjung, serta kolaborasi untuk mendorong belanja per pengunjung.
  • Optimalisasi aset dan pengembangan sumber pendapatan baru (new revenue engine): Untuk memperkuat profitabilitas sekaligus mendiversifikasi pendapatan dan ekosistem kawasan.
  • Penerapan pengambilan keputusan berbasis data: Untuk meningkatkan efektivitas strategi melalui analisis dan insight pengunjung.
  • Memperluas kerja sama dengan mitra strategis: Untuk mempercepat pengembangan kawasan dan menciptakan nilai tambah.

Sementara itu, Azis menilai prospek PJAA di sisa tahun 2026 masih berpotensi membaik secara bertahap, didukung oleh periode high season seperti libur sekolah dan akhir tahun. Faktor pendorong kinerja antara lain peningkatan jumlah pengunjung, inovasi wahana, serta acara khusus. Sementara faktor pemberat meliputi biaya operasional yang tinggi dan sensitivitas terhadap kondisi ekonomi domestik.

“Tantangan tetap ada dari sisi daya beli masyarakat dan persaingan destinasi wisata,” ungkap Azis. Azis merekomendasikan trading buy saham PJAA dengan target harga di level Rp 590, dan support Rp 520-Rp 500.

Hartono Hamid

Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *