Kehidupan Seorang Perajin Tempe yang Berjuang dari Nol
Di sebuah sudut permukiman di Kelurahan Kedaung, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, aroma khas kedelai rebus tercium dari sebuah rumah sederhana. Dari tempat itulah, kisah perjuangan seorang perajin tempe bernama Sutoyo atau akrab disapa Pak Bewok dimulai dan terus berlanjut hingga hari ini.
Pak Bewok, pria berusia 47 tahun, pernah tinggal di sebuah kontrakan sempit yang memiliki satu kamar bersama istri dan empat anaknya. Kamar itu menjadi saksi perjuangan hidupnya sebagai perantau dari Pekalongan yang mencoba bertahan di kerasnya kehidupan perkotaan.
Usaha pembuatan tempe yang ia jalani saat ini telah dirintis sejak 2005 dengan modal tak sampai Rp500 ribu. Berbekal pengalaman bekerja di usaha tempe milik orang lain di Bintaro, ia memberanikan diri untuk memulai sendiri hingga perlahan hidupnya pun berubah.
Awalnya tidak mudah. Ia harus menghadapi penolakan demi penolakan saat menawarkan tempe buatannya ke warung dan rumah makan. “Di awal cari pelanggan itu susah. Karena mereka itu sudah punya langganan sendiri,” ujarnya.
Namun, Pak Bewok tidak menyerah. Ia percaya bahwa agar jualannya laku, ia harus meningkatkan kualitas. Karena itu, dalam fase perjuangan tersebut, ia ingin selalu memastikan tempe yang dibuatnya memiliki mutu lebih baik dibanding yang lain. Baginya, rasa tidak bisa dibohongi.
“Kualitas itu nomor satu, karena rasa itu lidah yang bicara, bukan bibir. Lidah tidak pernah bohong,” katanya.
Dengan proses produksi yang memakan waktu hingga empat hari, mulai dari perebusan, perendaman, pencetakan, hingga fermentasi, ia menjaga setiap tahapan agar hasilnya maksimal. Bahkan, menurutnya, rahasia tempe enak terletak pada teknik merebus yang pas.
“Kalau merebus jangN terlalu matang, itu bakal buat tempenya enak dan gurih. Kalau terlalu matang, rasanya agak hambar,” kata Pak Bewok.
Omzet Tembus Rp1 Juta per Hari
Seiring waktu, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Tempe buatannya semakin dikenal, pelanggan bertambah, dan pemasukan pun perlahan meningkat. Kini, dari usaha tersebut, ia mampu meraih omzet sekitar Rp1 juta per hari.
Lebih dari sekadar angka, usaha tempe itu juga telah mengubah hidupnya. Dari yang dulu hidup serba terbatas, kini Pak Bewok bisa membangun rumah sendiri, memiliki kendaraan, dan menyekolahkan keempat anaknya hingga lulus.
“Alhamdulillah, semuanya dari tempe,” ucapnya penuh syukur.
Menariknya, ia tidak bergantung pada karyawan. Usaha ini dijalankan bersama anak-anaknya, menjadikannya bukan hanya sumber penghasilan, tetapi juga perekat keluarga.
Pengembangan Lingkungan dan Edukasi
Tak berhenti di situ, Pak Bewok juga berperan dalam mengembangkan lingkungannya. Saat menjabat sebagai Ketua RT, ia menggagas wilayahnya menjadi Kampung Edukasi Wisata Tempe pada 2025. Kini, daerah tersebut mulai dikenal dan sering dikunjungi pelajar yang ingin belajar langsung proses pembuatan tempe.
“Sekarang saya sudah jadi RW, dan kampung edukasi tempe ini juga sudah sering kedatangan pengunjung yang mau belajar buat tempe,” paparnya.
Bagi Pak Bewok, usaha tempe bukan sekadar mencari nafkah. Ini adalah jalan hidup yang telah membawanya dari keterbatasan menuju kehidupan yang lebih baik. “Pesan saya buat yang mau memulai usaha, jangan pernah menyerah, karena hidup ini tantangan,” pungkasnya.
Kisahnya pun menjadi bukti, bahwa dari sesuatu yang sederhana seperti tempe, jika ditekuni dengan sungguh-sungguh, bisa menjadi sumber harapan dan masa depan.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











