IHSG Dibuka Melemah, Banyak Saham Tergelincir
Pada perdagangan hari ini, Senin (30/3/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan koreksi. Beberapa saham utama turut mengalami penurunan, seperti BBCA, BREN hingga BBRI.
Menurut data dari IDX Mobile pukul 09.05 WIB, IHSG mengalami penurunan sebesar 1,59% ke posisi 6.984,21. Pasar memulai sesi perdagangan dengan transaksi sebanyak 1,59 miliar saham senilai Rp1,45 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 447 saham dibuka di zona merah, sementara 136 saham menguat dan 375 saham lainnya stagnan.
Pergerakan IHSG yang melemah sejalan dengan pelemahan saham-saham besar. Contohnya, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dibuka turun 3,36% ke Rp6.475. Sementara itu, saham PT Barito Renewables Energi Tbk. (BREN) turun 4,52% ke Rp5.275, dan saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) melemah 1,17% ke Rp3.380.
Selain itu, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) turun 1,05% ke Rp4.710, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) turun 4,08% ke Rp4.820, saham PT Astra International Tbk. (ASII) turun 1,63% ke Rp6.025, serta saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang dibuka melemah 4,78% ke Rp1.095.
Di sisi lain, beberapa saham berkapitalisasi besar masih mampu bertahan di zona hijau. Misalnya, saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) dibuka naik 0,57% ke Rp30.775, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) naik 1,63% ke Rp10.900, saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) naik 1,02% ke Rp1.990, dan saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) menguat 1,97% ke Rp2.590.
Kondisi Global Mempengaruhi Pergerakan Pasar
Tim Riset Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa pasar modal Tanah Air saat ini masih terpengaruh oleh sentimen global. Ketidakpastian dalam upaya negosiasi antara AS dan Iran menyebabkan kenaikan harga minyak mentah. Meskipun Iran memperbolehkan beberapa kapal melewati Selat Hormuz, Presiden Trump memperpanjang batas waktu serangan terhadap Iran hingga 6 April 2026. Laporan tentang penambahan 10.000 pasukan AS semakin memicu kekhawatiran akan perang yang berkepanjangan.
Serangan Houthi Yaman terhadap Israel juga menambah eskalasi konflik. Dikhawatirkan, konflik yang berlangsung lebih lama dapat berdampak tidak hanya pada kenaikan harga, tetapi juga pada ketersediaan minyak mentah. Beberapa negara, terutama dari Asia, telah mengumumkan krisis BBM. Jika kondisi ini berlangsung lama dan meluas, akan berdampak pada perlambatan ekonomi global serta memicu potensi stagflasi.
Pergerakan Pasar Global dan Harapan Data Ekonomi Domestik
Di pasar global, Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Jumat (27/3) dan memasuki koreksi lima pekan berturut-turut. Pelemahan indeks dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah di tengah keraguan akan adanya negosiasi untuk mengakhiri perang antara AS-Iran.
Dari sisi domestik, pasar akan menantikan perilisan sejumlah data ekonomi pada Rabu (1/4), yaitu indeks S&P Global Manufacturing PMI, neraca perdagangan, serta inflasi. Pasar juga menantikan revisi aturan papan pemantauan khusus pada kuartal kedua 2026.
“Menjelang long weekend dan batas waktu serangan AS, diperkirakan akan membuat investor cenderung berhati-hati jika tidak ada perubahan positif pekan ini. Diperkirakan IHSG berpotensi kembali menguji level 6.800-7.000,” tulis riset tersebut.
Disclaimer
Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











