JAKARTA – Lonjakan harga minyak dunia diperkirakan berdampak pada kenaikan harga avtur di dalam negeri, yang memicu kekhawatiran bagi industri penerbangan. Untuk mengurangi tekanan terhadap kinerja keuangan, sejumlah langkah antisipasi telah disiapkan oleh maskapai.
Berdasarkan laporan terbaru, ketatnya pasokan dan kenaikan harga avtur mulai terasa di sejumlah negara tetangga Indonesia. Maskapai di Vietnam mulai mengurangi penerbangan, sedangkan Filipina juga bersiap menghadapi potensi kelangkaan pasokan avtur. Di sisi lain, China mulai membatasi ekspor, sementara Korea Selatan mempertimbangkan pengalihan bahan bakar jet ekspor untuk pasar domestik.
Di Indonesia, stok avtur saat ini masih dalam kondisi aman. PT Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa stok avtur di dalam negeri melebihi standar ketahanan nasional. “Stok avtur Indonesia dalam kondisi sangat aman, bahkan di atas ketahanan yang ditentukan,” ujar Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun.
Meskipun demikian, Pertamina tidak menutup kemungkinan adanya penyesuaian harga avtur seiring perkembangan geopolitik. Berdasarkan daftar harga yang dirilis Pertamina, harga avtur untuk periode 1–31 Maret 2026 di Bandara Soekarno Hatta (CGK) adalah Rp13.656,51 per liter, naik 4,15% dibandingkan bulan sebelumnya. Hingga saat ini, Pertamina belum merilis harga avtur untuk April 2026, dan masih mencermati perkembangan geopolitik.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga memastikan ketersediaan avtur dalam kondisi aman. Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menyatakan bahwa produksi avtur dari kilang dalam negeri masih memadai. “Kami yakin Indonesia akan mampu melewati kondisi ini dengan memperkuat stok energi nasional,” katanya.
Antisipasi dari Maskapai
Maskapai nasional telah menyiapkan beberapa langkah antisipasi menghadapi potensi kenaikan harga avtur menjelang pengumuman penyesuaian harga oleh Pertamina pada 1 April 2026. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah menyesuaikan tarif tiket pesawat, meski hal ini sulit dilakukan karena terbatasnya tarif batas atas (TBA).
Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) Bayu Sutanto menyampaikan bahwa pihaknya akan meninjau ulang penerbangan yang kurang menguntungkan. Langkah tersebut meliputi pengurangan flight atau rute yang memiliki demand atau load factor rendah. Selain itu, maskapai juga akan memaksimalkan harga tiket dan fuel surcharge untuk rute-rute dengan permintaan tinggi.
Harga tiket domestik saat ini dibatasi oleh TBA. Misalnya, untuk rute Jakarta (CGK)—Denpasar, harga minimal tiket pesawat (pesawat jet) senilai Rp501.000 per pax dan tarif termahal Rp1.431.000. Sementara itu, rute Jakarta—Medan (KNO) dibanderol termurah dengan harga Rp630.000 dan termahal dengan tarif Rp1.799.000 per orang.
INACA telah mengajukan permohonan kenaikan TBA sebesar 15%, diikuti dengan penyesuaian fuel surcharge dari 10% menjadi 15%. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) membuka peluang penyesuaian TBA maupun fuel surcharge, namun masih menunggu kepastian penyesuaian harga avtur dari Pertamina.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa menyatakan bahwa pemerintah akan mendiskusikan hal tersebut dengan seluruh operator penerbangan, Pertamina, MRO, dan kementerian terkait setelah harga avtur terbaru dirilis. Pemerintah mempertimbangkan berbagai aspek seperti kondisi keekonomian maskapai, daya beli masyarakat, serta aspek keselamatan, keamanan, dan pelayanan.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











