Rencana Penerapan Work From Home (WFH) di Indonesia
Pemerintah Indonesia tengah mempertimbangkan penerapan kebijakan Work From Home (WFH) satu hari dalam seminggu bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan sektor swasta. Kebijakan ini dianggap sebagai strategi untuk menghemat penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM), terutama di tengah situasi krisis energi global akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran.
Kebijakan WFH ini diharapkan dapat menekan konsumsi BBM, khususnya di daerah-daerah yang memiliki tingkat mobilitas tinggi seperti ibu kota Jakarta. Dengan menerapkan WFH, pemerintah berharap bisa mengurangi jumlah kendaraan yang melintasi jalan raya, sehingga mengurangi penggunaan BBM secara keseluruhan.
Eks Menteri Setuju dengan Kebijakan WFH
Eks Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar, menyambut baik rencana penerapan WFH. Menurutnya, kebijakan ini merupakan langkah strategis yang bisa membantu menghemat energi, terutama jika diterapkan secara masif.
“Kita perlu memprioritaskan transportasi umum. Di sini, partisipasi masyarakat sangat penting karena kita sedang menghadapi krisis. Jika ada krisis, maka kita harus diam di rumah,” ujarnya.
Arcandra juga mencontohkan negara Filipina yang telah menerapkan kebijakan serupa. Filipina menerapkan sistem kerja empat hari seminggu untuk pegawai pemerintah guna menghemat BBM di tengah krisis energi. Ia menilai kebijakan ini bisa menjadi contoh yang baik untuk diterapkan di Indonesia.
“Jika kebijakan ini disetujui, maka tidak perlu lagi ada perdebatan. Ini adalah strategi yang sudah terbukti efektif,” tambahnya.
Pengamat Anggap Tidak Efektif
Namun, tidak semua pihak sepakat dengan kebijakan tersebut. Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai bahwa rencana penerapan WFH tidak akan efektif dalam menghemat BBM. Menurutnya, WFH bisa berpotensi meningkatkan mobilitas masyarakat.
“Fahmy menjelaskan bahwa WFH bisa dilakukan di mana saja, entah itu sedang berlibur atau pulang kampung. Jika hal ini terjadi, maka penggunaan BBM tetap akan meningkat.”
Ia menambahkan bahwa WFH pada masa pandemi berhasil karena ada faktor pemaksa, yakni takut tertular virus. Namun, saat ini tidak ada faktor tersebut, sehingga kebijakan WFH justru bisa meningkatkan mobilitas.
Anggota DPR: Strategi Efektif
Di sisi lain, anggota Komisi VI DPR RI, Firnando Hadityo Ganinduto, menilai bahwa kebijakan WFH satu hari dalam seminggu merupakan strategi yang efektif untuk menghemat BBM. Menurutnya, langkah ini relevan mengingat ketidakpastian global yang mengancam stabilitas energi.
“Kita harus menjaga APBN. Saya rasa ini salah satu strategi bagus untuk menghemat BBM,” ujar Firnando.
Ia juga menyebutkan bahwa berdasarkan analisis yang dilakukan, potensi penghematan dari kebijakan ini sangat signifikan. “Dalam setahun, kita bisa menghemat ratusan triliun rupiah,” tambahnya.
Namun, ia menegaskan bahwa kebijakan ini harus didasarkan pada kajian mendalam sebelum diterapkan secara luas. “Kita harus mempertimbangkan plus minusnya agar bisa selamat dari krisis,” tegasnya.
Penjelasan Pemerintah
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa kebijakan WFH satu hari diharapkan mampu mereduksi penggunaan energi operasional hingga 20 persen. Saat ini, pemerintah sedang menyiapkan Surat Edaran (SE) sebagai payung hukum kebijakan ini.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, menyampaikan bahwa kebijakan ini tidak akan berlaku untuk semua sektor. Misalnya, sektor pelayanan, industri, dan perdagangan mungkin tidak termasuk dalam kebijakan ini.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, sebelumnya memperkirakan bahwa penerapan WFH bisa menghemat penggunaan BBM hingga sekitar 20 persen per hari. Meski angka ini masih estimasi awal, pemerintah berharap kebijakan ini bisa meningkatkan efisiensi energi sekaligus menjaga kestabilan ekonomi dalam negeri.
Kebijakan Fleksibilitas Kerja
Kebijakan fleksibilitas kerja ini dirancang sebagai tanggapan terhadap terganggunya pasokan serta melonjaknya harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah. Pemerintah berharap langkah ini dapat meningkatkan efisiensi energi sekaligus menjaga kestabilan ekonomi dalam negeri.
Namun, Purbaya menekankan bahwa WFH hanya akan diberlakukan satu hari dalam seminggu dengan tetap memperhatikan efektivitas kerja. Sebab, ia menilai tidak semua jenis pekerjaan dapat dijalankan secara optimal jika dilakukan sepenuhnya dari rumah.
“
“
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











