"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Bisnis  

WIKA Beton Targetkan Kontrak Baru Rp5 Triliun, Manfaatkan Pabrik Eksisting



Pertumbuhan dan Strategi WIKA Beton di Tengah Tantangan Industri Konstruksi

PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) terus berupaya mempertahankan kinerja perusahaan di tengah situasi lesunya industri konstruksi. Meskipun kinerja sepanjang tahun 2025 kurang kuat, WTON masih mampu mencetak laba. Pendapatan usaha per kuartal III 2025 mencapai Rp 2,51 triliun, turun dari Rp 3,38 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih juga mengalami penurunan dari Rp 33,46 miliar menjadi Rp 8,35 miliar per September 2025.

Penurunan pendapatan paling signifikan berasal dari segmen konstruksi, yang turun dari Rp 440,19 miliar menjadi hanya Rp 57,82 miliar per September 2025. Saat ini, WTON memiliki 14 pabrik beton, 1 mobile plant, dan 3 crushing plant. Untuk mendukung distribusi, perusahaan juga memiliki 3 jetty di beberapa wilayah di Indonesia.

Menurut Yushadi, Sekretaris Perusahaan WTON, tingkat utilisasi pabrik selama tahun 2025 berada di kisaran 37% seiring kondisi pasar konstruksi nasional. WTON membukukan nilai kontrak baru sebesar Rp 4 triliun sepanjang tahun 2025. Sementara itu, hingga Februari 2026, nilai kontrak baru mencapai Rp 559,50 miliar.

Komposisi Kontrak Baru

Secara sektoral, komposisi kontrak baru hingga Februari 2026 didominasi oleh sektor infrastruktur yang meliputi jalan, jalan tol, jembatan, bendungan, danau, bangunan gedung, serta proyek sekolah rakyat dan madrasah. Selain itu, sektor energi dan kelistrikan memberikan kontribusi melalui proyek-proyek transmisi, gardu, dan infrastruktur pendukung lainnya yang menggunakan produk beton pracetak.

Sementara itu, sektor industri dan properti komersial mulai memberikan tambahan kontribusi, termasuk dari solusi hunian pracetak Perusahaan (produk WHome) untuk pasar perumahan dan kebutuhan khusus seperti hunian pascabencana.

Dari sisi jenis pemberi kerja, swasta masih menjadi kontributor utama dengan kontribusi sebesar 50,75% dari total kontrak per Februari 2026. Pemerintah dan BUMN non-afiliasi berkontribusi sebesar 13,78%, termasuk proyek-proyek infrastruktur nasional yang dikelola Kementerian/Lembaga dan BUMN sektor konstruksi dan energi. Asosiasi dan kerja sama operasi (KSO) berkontribusi sebesar 30,41%, sedangkan WIKA Beton Grup berkontribusi sebesar 3,85%. Sementara itu, Wijaya Karya (WIKA) Grup sendiri memberikan kontribusi relatif kecil yaitu 1,21%.

Target Tahun 2026

Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun buku 2026, WTON menargetkan perolehan nilai kontrak baru sebesar Rp 5 triliun, meningkat sekitar 25% dibandingkan realisasi kontrak baru tahun 2025 lalu. Sumber proyek yang ditargetkan pada tahun ini berasal dari proyek infrastruktur pemerintah dan BUMN, proyek swasta, serta proyek ekspor dan pasar luar negeri.

Untuk proyek infrastruktur pemerintah dan BUMN, WTON memanfaatkan potensi pasar infrastruktur nasional yang masih besar pada 2026. Di antaranya, proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk jalan, jalan tol, jembatan, dan bangunan gedung dengan estimasi pasar sekitar Rp40 triliun, proyek bendungan dan danau sekitar Rp2,6 triliun, program sekolah rakyat dan madrasah sekitar Rp22 triliun, serta proyek energi dan ketenagalistrikan sekitar Rp9 triliun.

Untuk proyek swasta, perusahaan akan mempertahankan basis pelanggan penyumbang mayoritas, termasuk proyek industri, pusat logistik, dan kawasan hunian/komersial yang memanfaatkan produk beton pracetak. Sementara itu, untuk proyek ekspor dan pasar luar negeri, WTON melanjutkan strategi produk lama di pasar baru. Antara lain, melalui pemanfaatan pengalaman pada proyek PC tunnel di Manila bersama kontraktor internasional, sebagai referensi untuk peluang proyek sejenis di kawasan regional.

Proyek Unggulan dan Strategi Produksi

Di tahun 2026, WTON juga memiliki sejumlah proyek unggulan, yaitu paket proyek infrastruktur transportasi, proyek energi dan kelistrikan, pengembangan lebih lanjut produk WHome, serta potensi proyek luar negeri lanjutan di segmen tunnel, rel, dan infrastruktur lain.

Sejalan dengan pertumbuhan target kontrak baru 2026, WTON juga menargetkan peningkatan volume produksi secara bertahap. Pertama, mendorong kenaikan utilisasi pabrik menuju dan melampaui kisaran lebih dari 40% tanpa penambahan pabrik baru. Kedua, mengikuti arah target pertumbuhan pendapatan jangka menengah yang berada di kisaran CAGR 6%-8%.

Yushadi menyatakan bahwa target tersebut berdasarkan asumsi 2026 menjadi tahun awal pemulihan setelah basis yang lebih rendah pada 2025. Artinya, perusahaan tidak merencanakan pembangunan pabrik baru pada tahun 2026, serta akan mengandalkan optimalisasi pabrik eksisting melalui transformasi operasi dan penggabungan pengelolaan beberapa pabrik.

Anggaran Belanja Modal dan Divestasi Aset

Dengan target pertumbuhan tersebut, WTON menganggarkan anggaran belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 62 miliar untuk tahun 2026. Tujuannya adalah melakukan rekondisi dan perbaikan (maintenance) fasilitas produksi yang ada, serta penguatan digitalisasi dan sistem ERP guna meningkatkan efisiensi, pengendalian biaya, dan manajemen risiko di seluruh lini usaha.

Di sisi lain, sebagai bagian dari strategi pengelolaan portofolio dan peningkatan efisiensi, WTON merencanakan divestasi beberapa aset non-inti. Pertama, aset pendukung operasional, seperti peralatan pendukung produksi, seperti cetakan (mould atau formwork) yang sudah tidak optimal pemanfaatannya, serta mess dan fasilitas akomodasi yang tidak lagi strategis pascakonsolidasi pabrik dan penataan ulang wilayah operasi.

Lalu, aset properti investasi tertentu yang tidak secara langsung mendukung fokus usaha utama perusahaan di bidang beton pracetak, jasa terkait, dan quarry.

Tantangan dan Koordinasi dengan Induk Usaha

Tak hanya soal industri yang penuh tantangan, peran pemerintah juga turut memengaruhi kinerja WTON di tahun ini. Terkait dinamika merger BUMN Karya yang ditargetkan rampung di pertengahan 2026, WTON mengaku masih secara aktif berkoordinasi dengan WIKA selaku induk usaha. Hal itu dilakukan sambil menunggu arahan resmi dan final dari Danantara dan BP BUMN mengenai desain akhir struktur holding dan skema merger BUMN Karya, termasuk rencana penggabungan.

Detail teknis skema merger, seperti skema pengalihan kepemilikan, penyesuaian struktur permodalan, maupun mekanisme restrukturisasi keuangan, diakui WTON sepenuhnya merupakan kewenangan pemerintah dan WIKA. “Kami akan mematuhi seluruh ketentuan dan memastikan bahwa setiap langkah konsolidasi dijalankan dengan tetap menjaga kepentingan pemegang saham publik dan pemangku kepentingan lainnya,” tuturnya.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *