Keberlanjutan Tradisi dengan Inovasi di Rumah Produksi Kue NW
Di tengah keramaian Jalan Mawar di Desa Padang, Kecamatan Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tersembunyi sebuah rumah produksi kue legendaris yang tidak mudah ditemukan. Puluhan kendaraan bermotor melintasi jalan ini setiap pagi, namun tidak ada papan nama besar atau spanduk yang menunjukkan keberadaannya. Hanya aroma mentega dan cokelat yang tercium kuat dari balik pagar seng yang tampak biasa-biasa saja.
Rumah produksi tersebut adalah tempat pembuatan kue kering bermerek NW. Meskipun lokasinya berada di dalam gang sempit dan tertutup oleh pagar seng, aktivitas produksi yang sangat besar berlangsung di dalamnya. Di depan pagar, aroma kue yang sedang diproduksi langsung menarik perhatian pengendara yang lewat.
Saat melewati pintu pagar seng, terlihat tumpukan kue yang sudah dikemas rapi dalam plastik siap ambil. Produk-produk tersebut disusun rapi untuk diambil oleh para pembeli. Di balik layar, Nilam Wahyuni (24), generasi ketiga dari keluarga yang mengelola usaha ini, menjelaskan bahwa bisnis ini telah berjalan sejak tahun 1980.
“Ini usaha dari kakek, turun ke orang tua, baru sekarang ke saya. Jadi saya ini generasi ketiga,” ujarnya.
Proses Produksi yang Mengandalkan Keterampilan Tangan
Di dalam ruang produksi, suasana terasa hangat dan cukup padat. Terdapat enam orang karyawan yang duduk mengelilingi meja besar untuk mencetak adonan kue. Jemari mereka bergerak lincah membentuk adonan satu per satu menjadi kepingan kue yang presisi. Aktivitas ini dilakukan secara manual guna menjaga kualitas bentuk kue.
Di meja sebelahnya, kesibukan tak kalah intens. Seorang pegawai fokus mengoperasikan mesin pres plastik untuk menyegel kemasan, sementara pegawai lainnya menata kue ke dalam cup kecil. Proses produksi ini membutuhkan koordinasi yang baik antara semua pekerja agar target pesanan dapat segera terselesaikan.
Pesanan Spesial Selama Bulan Ramadhan
Nilam bercerita bahwa Ramadhan tahun ini membawa catatan rekor tersendiri bagi usaha NW. Di tengah ratusan pesanan yang masuk, terdapat satu pesanan yang mencuri perhatian, yaitu pesanan berupa kue kacang yang jumlahnya mencapai total 100 kilogram.
“Itu pesanan untuk kebutuhan arisan di Tanjungpandan. Mintanya cuma satu macam saja, kue kacang, tapi jumlahnya langsung 100 kilo,” ucapnya.
Kue kacang memang menjadi primadona dari 19 jenis varian kue kering yang diproduksi oleh NW. Teksturnya yang renyah namun lumer di mulut menjadi alasan pelanggan tetap memesan dalam jumlah banyak.
Fasilitas Produksi yang Cukup Modern
Beranjak ke bagian dalam rumah produksi, terdapat dua pemanggang besar berbahan bakar gas. Alat ini merupakan komponen utama produksi, di mana masing-masing oven sanggup memanggang tiga loyang besar atau delapan loyang kecil secara sekaligus. Hawa panas dari oven gas sesekali menyambar ke ruangan, sementara dua buah kipas angin ikut bekerja menghalau gerah.
Kendati demikian, para karyawan tetap bekerja mengikuti ritme yang cepat tanpa mengeluh. “Bulan puasa ini memang harus kejar target pesanan selesai sebelum lebaran. Jadi ritme kerjanya lebih kencang dibanding hari biasa,” ungkap Nilam.
Strategi Pemasaran yang Berbeda
Pada hari biasa, Nilam biasanya memproduksi kue basah seperti bakpia atau bolen untuk dititipkan di toko-toko. Namun, selama Ramadhan seluruh energi rumah produksi dicurahkan untuk memenuhi pesanan kue kering. Harga yang dipatok untuk produk NW berkisar antara Rp80.000 hingga Rp160.000 per kilogram. Pelanggannya pun tercatat cukup setia, mulai dari warga Manggar hingga pesanan dari luar daerah.
Nilam mengaku sengaja tidak memasang spanduk atau banner di depan rumahnya. Ia memilih mempertahankan tradisi lama yang mengandalkan loyalitas pelanggan dari mulut ke mulut yang sudah terbangun selama 46 tahun. “Yang datang ke sini rata-rata sudah langganan tiap tahun. Mereka sudah tahu alamatnya. Kalau ada yang baru mau pesan, biasanya saya kasih share loc saja,” ujarnya.
Penggunaan Media Sosial sebagai Alat Promosi
Selain cara konvensional, Nilam juga memanfaatkan media sosial Facebook untuk mengunggah produk-produknya. Baginya teknologi adalah alat untuk memperpanjang nafas usaha yang dirintis kakeknya itu. “Sejak pakai medsos, jangkauan kita jadi lebih luas. Orang-orang jadi tahu dari review pelanggan lain, lalu mereka datang untuk mencoba sendiri,” ujarnya.
Meski penjualan tahun ini meningkat, Nilam tetap mengingat masa sulit saat pandemi melanda beberapa tahun silam. Usahanya waktu itu terdampak akibat larangan penerimaan tamu yang membuat pesanan merosot tajam.
Saat ini keteguhan hati Nilam membawa merek NW kembali bangkit. Ia tetap memastikan bahan-bahan yang digunakan terjaga kualitasnya agar rasa autentik dari puluhan tahun silam tidak berubah.
Nilam berpendapat bahwa setiap keping kue yang keluar dari dapur tersebut merupakan simbol ketekunan keluarganya. Ia menyadari beban sejarah besar yang ia bawa sebagai generasi ketiga. “Harapan saya semoga makin laris, makin maju, dan NW bisa dikenal lebih banyak orang. Saya ingin usaha ini bertahan selama mungkin,” tutupnya.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











