"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Bisnis  

Nailis Sa’adah Ubah Limbah Tenun Troso Jadi Aksesoris Kekinian, Diburu Penggemar Nusantara

Inspirasi dari Limbah Kain Tenun, Perajin Muda Jepara Bangun Usaha Kreatif

Nailis Sa’adah (26), seorang perajin muda di Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara memiliki cara unik dalam mengembangkan kerajinan tenun troso. Sebagai generasi Z, dia memanfaatkan limbah perca kain tenun yang tidak terpakai menjadi berbagai produk aksesoris. Mulai dari tas, dompet, totebag, sampul buku, gantungan kunci hingga tempat botol minuman.

Kak Nay, demikian Nailis dikenal oleh warga sekitar, merupakan salah satu dari empat bersaudara yang berasal dari keluarga perajin tenun. Namun, alih-alih meneruskan usaha orangtuanya sebagai produsen kain tenun, Kak Nay dan saudaranya lebih fokus pada pengembangan kreativitas dari limbah kain tenun yang tidak terpakai.

Sejak 2012, Kak Nay mendirikan usaha baru bernama Tenun Ikat’s by Nay Collection. Fokus utamanya adalah pemanfaatan limbah perca kain tenun. Menurutnya, banyak produsen yang meninggalkan limbah tersebut, dan jika dibiarkan, tidak ada yang akan mengolahnya. “Harus dimulai dari kita,” ujarnya.

Pemasaran produk awalnya dilakukan secara offline di sekitar Jepara dan Semarang. Namun, sejak 2015, Kak Nay mulai merambah pasar online dan kini produknya sudah sampai ke Belanda dan Malaysia.

Kerajinan Kak Nay tidak hanya dibuat sendiri, tetapi juga bekerja sama dengan beberapa penjahit lokal. Produknya bahkan pernah dipesan oleh Kementerian Agama, Ketua MUI Jawa Tengah, dosen-dosen, serta komunitas istri-istri TNI Angkatan Darat.

Bagi Kak Nay, pengembangan usaha tidak selalu harus meneruskan usaha yang sudah ada. Ia juga mencoba memberikan wadah bagi para perajin lokal yang kesulitan dalam pemasaran. Bahkan, ia menampung produk kain tenun dari UMKM kecil untuk dijahit menjadi baju-baju dan dijual ke pasar global.

Pada 2022, Kak Nay lebih fokus pada pengolahan limbah kain perca tenun. Ia membeli limbah percanya dengan harga Rp 10.000-15.000 per kilogram. Potongan kain sisa tersebut kemudian dipola dan dirajut menjadi berbagai aksesoris seperti dompet, tas, tempat botol minum, dan lainnya.

Ia mulai menekuni hal ini sejak remaja agar limbah kain tenun tidak hanya dibuang atau dibakar. Bahkan, Kak Nay pernah menerima pesanan 500 tempat botol minuman untuk dikirim ke Papua.

Selain itu, ia juga menggandeng perusahaan besar seperti Astra, PLN, dan Telkom untuk memperluas pemasaran produknya hingga ke seluruh Nusantara dan pasar global.

Harga produk Tenun Ikat’s by Nay Collection sangat beragam. Untuk dompet, harga mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 80.000, sedangkan gantungan kunci mulai dari Rp 15.000. Tempat tissu dan tempat botol minum dijual dengan harga Rp 25.000. Untuk totebag, harga mulai dari Rp 80.000.

Sementara untuk produk baju, harga berkisar antara Rp 100.000 hingga 400.000. Kemeja dijual dengan harga Rp 250.000, sedangkan gamis mulai dari Rp 300.000 hingga 400.000.

Setiap bulannya, Kak Nay bisa menampung dan mengolah 300-500 lembar kain tenun. Sementara itu, pengolahan kain perca bisa memanfaatkan 20-60 kilogram limbah kain perca.

Kak Nay berharap tenun Troso tetap eksis di panggung pasar global. Selain fokus pada produksi kain tenun, ia juga ingin mendorong pemanfaatan limbah kain perca yang dihasilkan.

“Di bidang pengolahan limbah, setiap produsen tenun Troso, saya harap ada kesadaran. Tidak hanya beberapa orang saja yang mau memanfaatkan limbah. Saya membuat pelatihan bersama komunitas fesyen Jepara dan influencer, terkait ini pemanfaatan kain perca, biar jadi sesuatu yang bermanfaat,” harapnya.




Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *