"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Surya Paloh: Isu Merger NasDem-Gerindra Hanya Asumsi

Surya Paloh Tanggapi Isu Kepemimpinan dan Perusahaan NasDem

Ketua Umum DPP Partai NasDem, Surya Paloh, memberikan respons terkait isu merger partainya dengan Partai Gerindra yang sempat ramai diberitakan. Ia mengungkapkan kekagetannya terhadap pemberitaan tersebut karena menyebut tiga entitas, yaitu dirinya secara pribadi, Partai NasDem, dan unit usaha yang ia dirikan.

“Kalau yang dimaksudkan adalah mengenai pemberitaan Tempo, kawan-kawan dari Tempo, saya harus katakan, saya sendiri pun kaget. Ya saya kaget lah. Itu harus saya katakan,” ujarnya dalam Forum Pemred di NasDem Tower, Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Paloh menegaskan bahwa semua informasi yang disajikan dalam majalah Tempo bisa dianggap benar jika ada konfirmasi langsung darinya. Namun, ia menekankan bahwa isu merger tersebut hanya sebatas asumsi. Ia menegaskan bahwa partainya tetap berkomitmen untuk berkontribusi penuh bagi bangsa dan negara.

“Saya sudah jelaskan tadi partai ini masih punya tekad, masih punya spirit, masih punya konsistensi. Apa yang diminta dibicarakan, apa yang diutarakan dengan persepsi asumsi, ya saya mau bilang apa? Kalau ada itu konfirmasi dari diri saya, berarti itu benar. Tapi kalau enggak ada? Seakan-akan saya itu menawarkan untuk dan atas nama Partai NasDem, ya bagusnya kalau bisa tolonglah terima ini partai ini, bla bla bla. Tunggu dulu lah,” katanya.

Penolakan Terhadap Klaim Monopoli

Selain itu, Paloh juga menekankan bahwa unit usahanya tidak pernah mendapatkan hak keistimewaan, termasuk monopoli di negeri ini. Hal ini juga dialami oleh Partai NasDem selama 10 tahun berada di lingkaran pemerintahan Presiden Joko “Jokowi” Widodo.

“Perusahaan yang ada tidak pernah mendapatkan hak monopoli di negeri ini. Apa saja, komoditi apa saja. Dia mau, tapi belum dapat. Sial aja dia, enggak dapat. Ya oh begitu dekat 10 tahun dengan Presiden Jokowi, masa enggak ada hak tambahan? Nanti kalau saya bilang enggak ada tambahan, ada ada,” katanya.

“Ia tolol dalam hal ini. Dalam tanda kutip. Kenapa enggak manfaatkan untuk sesuatu? Terlupa. Karena kesibukan hal-hal yang tadi, yang barangkali saya anggap itu lebih prioritas. Enggak ada, tidak mendapat hak monopoli,” tambahnya.

Bantahan Terhadap Klaim Pendanaan

Paloh juga membantah laporan Tempo yang menyebut satu unit usahanya, yakni Menara Indonesia One, mendapatkan bantuan pendanaan setelah ia bertemu Presiden Prabowo Subianto. Ia menegaskan bahwa pemberitaan ini misleading.

“Dikatakan ada perusahaan yang dapat pembiayaan bank. Indonesia One. Sampai hari ini dia enggak dapat dana tuh. Kapan itu? Dicek sama banknya. Ada pembiayaan untuk Indonesia? Ya enggak ada lah. Jadi mislead ini,” ujarnya.

Respons dari Tempo

Sebelumnya, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Setri Yasra, menyatakan bahwa materi pemberitaan yang dipublikasikan oleh Tempo merupakan karya jurnalistik yang telah melalui proses verifikasi, akuntabel, dan berdasarkan Kode Etik Jurnalistik.

“Tempo sudah dan akan selalu memberikan ruang bagi Partai NasDem atau pihak mana pun untuk memberikan klarifikasi atas temuan dalam laporan utama tersebut,” kata dia dalam keterangan, Selasa (14/4/2026).


Hartono Hamid

Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *