Filosofi Kepemimpinan yang Menginspirasi
Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, merayakan usia ke-55 tahun dengan cara yang unik dan penuh makna. Di tengah perayaan ulang tahunnya, ia memilih untuk menyalakan 55 obor sebagai simbol cahaya yang harus terus bersinar. Dedi menggambarkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki jiwa seperti “Sunan Ambu” (Ibu), yang rela menahan lapar dan menjadi yang terakhir menikmati makanan demi kesejahteraan rakyatnya.
“Saya belajar makna dari laparnya seorang ibu. Ketika anak-anaknya makan, ia melahirkan generasi yang kokoh raga dan jiwanya,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa pemimpin yang hanya mengutamakan dirinya sendiri akan lahir rakyat yang menderita. Sunda mengajarkan bahwa Tuhan itu dimaknai dengan kalimat Sunan Ambu, artinya Dia adalah pusat dari kasih sayang dan cinta kasih.
Janji Setia di Hadapan Putri Tercinta
Di hadapan putri bungsunya, Ni Hyang Sukma Ayu, Dedi menyatakan janji untuk tidak menikah lagi sampai putrinya dewasa. Ia mengungkapkan bahwa dalam diri manusia ada maskulin dan feminin, sifat tersebut melampaui raga biologis. Menurutnya, seorang laki-laki juga harus bisa menumbuhkan sisi femininnya untuk menyentuh cinta dan kasih sayang.
Dedi Mulyadi mengaku telah menjadi single parent sejak lama. Mulai dari anak pertamanya, Maula Akbar, yang kehilangan ibunya karena kematian hingga putri semata wayangnya, Ni Hyang Sukma Ayu, yang dibesarkannya tanpa orang tua yang utuh. Ia menyatakan janji tak akan menikah lagi demi menjaga kasih sayang terhadap anak-anaknya.
“Ada juga anak perempuan saya yang harus saya besarkan. Karena keegoan orang tuanya, saya memutuskan untuk menemaninya tanpa harus punya istri lagi sampai dia tumbuh dewasa,” ungkapnya. Ia menganggap hal ini sebagai sikap ksatria untuk menebus kesalahan yang disebut karma.
Refleksi Perjalanan Hidup
Selama 55 tahun perjalanan hidupnya, Dedi Mulyadi menganggap karma telah mengikutinya. Ia menganggap dua kali kegagalan berumah tangga sebagai pelajaran yang membuatnya tetap tegak. “Saya dua kali ditinggalkan: satu karena kematian dan satu karena perceraian. Karma ini membuat hidup saya terus tegak untuk membesarkan anak saya dengan cinta tanpa mengulangi kesalahan serupa,” ujarnya.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada semua sahabat yang dulu bersamanya ketika susah, ketika dirinya belum punya apa-apa. Dedi mengaku sering memilih berjalan sendiri karena keputusan dan kearifan terkadang lahir dalam kesendirian. Menurutnya, setiap manusia sudah memiliki garis hidup dan takarannya masing-masing.
Pesan Penutup untuk Ni Hyang Sukma Ayu
Dedi Mulyadi memberikan pesan penutup untuk putri tercintanya. “Terima kasih untuk Sukma Ayu, anakku sayang. Engkau telah menjadi permata yang mewujudkan pikiran ayah dalam gerak dan sikapmu. Semoga di saat banyak orang meninggalkan Sunda, engkau tumbuh menjadi putri Sunda yang membawa cahaya.”
Ia juga mengakhiri dengan kutipan yang penuh makna: “Karma manusia takkan hilang jiwa meninggalkan raga, Walau bayang terhapus musnah dikikis masa, Karma manusia tetap tersirat jejak dan langkahnya, Walau sampai di akhir hayat, pahala selalu kan terbawa.”











