Pengangkatan Legenda Minahasa dalam Film Horor Songko
Film Songko merupakan karya terbaru yang mengangkat legenda masyarakat Minahasa. Dalam film horor ini, sutradara Gerald Mamahit menyajikan kisah tentang ketakutan, tuduhan, dan kehancuran sebuah desa akibat kemunculan makhluk misterius yang mengincar darah perempuan muda. Film ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menggali sisi gelap manusia saat dilanda teror.
Visi untuk Mengangkat Cerita Lokal
Eksekutif Produser dari Santara, Whisnu Baker, menjelaskan bahwa film Songko adalah bagian dari visi untuk mengangkat cerita-cerita daerah yang selama ini jarang tereksplorasi. “Kami ingin membawa cerita lokal ke level yang lebih luas, tapi tetap dengan keaslian yang kuat. Dengan melibatkan talenta dari daerah asalnya, kami berharap cerita ini terasa lebih hidup dan memiliki identitas yang kuat,” ujar Whisnu dalam keterangan yang diterima pada Selasa, 14 April 2026.
Film Songko merupakan film layar lebar terbaru dari rumah produksi Dunia Mencekam Studio bersama Santara. Tim produksi membangun set secara khusus di kaki Gunung Lokon, Tomohon. Mereka membangun sebuah desa lengkap sebagai lokasi utama cerita. Tidak hanya digunakan selama proses syuting, set tersebut hingga kini masih berdiri dan bahkan kerap dikunjungi oleh masyarakat dan menjadi spot foto.
Kolaborasi Sineas Nasional dan Kreator Daerah
Proyek ini juga menjadi ruang kolaborasi antara sineas nasional dan kreator daerah. Hampir 60 persen pemeran dan kru dalam film ini merupakan putra-putri Manado dan sekitarnya. Hal ini mencerminkan komitmen untuk menjaga keaslian cerita dan melibatkan komunitas lokal dalam proses pembuatan film.
Dalam proses riset, produser kreatif Santara, Avandrio Yusuf, terlibat langsung dalam menggali akar cerita dengan melakukan wawancara kepada kepala adat, warga Tomohon, serta masyarakat Manado. Riset ini dilakukan untuk menentukan arah kreatif film, mulai dari visual sosok Songko, desain busana, gaya bahasa, hingga atmosfer desa yang ditampilkan dalam film.

Poster trailer film Songko. Dok. Dunia Mencekam Studios
Menjelajahi Sisi Gelap Manusia
Menurut Gerald Mamahit, film ini bukan hanya tentang menghadirkan rasa takut, tetapi juga tentang menggali sisi gelap manusia saat dilanda teror. “Yang membuat Songko terasa berbeda adalah bagaimana ketakutan itu berkembang. Bukan hanya dari makhluknya, tapi dari manusia yang mulai kehilangan rasa percaya satu sama lain. Itu yang kami coba hadirkan horor yang terasa dekat dan nyata,” ujar Gerald.
Imelda Therinne menyoroti sisi psikologis yang membuat film ini terasa semakin mencekam. “Horor di Songko bukan hanya soal sosoknya, tapi bagaimana ketakutan itu menyebar dan memecah hubungan antar manusia. Itu yang menurut saya membuat film ini terasa lebih dalam dan menegangkan,” kata Imelda.
Alur Cerita yang Penuh Ketegangan
Berlatar tahun 1986, film Songko mengikuti kisah sebuah desa di Tomohon yang tiba-tiba dilanda teror setelah perempuan-perempuan muda ditemukan tewas secara misterius. Warga mulai percaya bahwa desa mereka didatangi oleh makhluk bernama Songko, sosok yang dipercaya mengincar darah perempuan muda demi memperoleh kekekalan.
Ketakutan perlahan berubah menjadi kepanikan. Tuduhan demi tuduhan bermunculan, hingga konflik antarwarga tak lagi bisa dihindari. Namun ketika mereka mulai menyadari bahaya yang sebenarnya, teror itu sudah terlanjur menyebar. Karena Songko tidak hanya mengincar korban, tapi juga membawa petaka bagi siapa pun yang berada di sekitarnya.
Pemain dan Jadwal Tayang
Film Songko yang dibintangi oleh Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak, akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai Kamis, 23 April 2026. Film ini diharapkan dapat memberikan pengalaman horor yang mendalam dan mengingatkan pentingnya kepercayaan serta kebersamaan dalam menghadapi ketakutan.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











