Kegagalan Perundingan AS-Iran dan Ancaman Blokade Selat Hormuz
Pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan, yang berlangsung selama beberapa hari akhirnya gagal mencapai kesepakatan. Pertemuan ini bertujuan untuk menyelesaikan konflik antara kedua negara serta menciptakan gencatan senjata yang lebih stabil. Namun, perbedaan pendapat terutama terkait dengan isu nuklir dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz menjadi penghalang utama.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa AS akan segera memblokir semua kapal yang ingin masuk atau keluar dari Selat Hormuz jika tidak ada kesepakatan yang tercapai. Dalam unggahan panjangnya di Truth Social, ia mengatakan bahwa pertemuan tersebut berjalan baik dan sebagian besar poin telah disepakati. Namun, satu hal yang masih menjadi kendala adalah isu nuklir.
Trump juga menyebut bahwa Angkatan Laut AS akan mulai melakukan tindakan lebih keras terhadap kapal-kapal yang membayar biaya kepada Iran. Ia menginstruksikan angkatan laut untuk mencari dan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar biaya ilegal kepada Iran. Selain itu, AS akan mulai menghancurkan ranjau yang dipasang oleh Iran di Selat Hormuz.
“Tidak ada pihak yang membayar biaya ilegal yang akan mendapat jalur aman di laut lepas,” ujar Trump. Ia juga menambahkan bahwa setiap pihak Iran yang menembaki kapal sipil akan dihancurkan.
Perundingan yang Gagal
Perundingan antara AS dan Iran yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad pada akhir pekan lalu tidak berhasil mencapai kesepakatan. Kegagalan ini mengancam keberlanjutan gencatan senjata yang masih rapuh. Kedua belah pihak saling menyalahkan atas kegagalan negosiasi tersebut.
Wakil Presiden AS, JD Vance, yang memimpin delegasi AS, menyatakan bahwa mereka kembali ke Amerika Serikat tanpa kesepakatan. Ia menekankan bahwa garis merah AS telah diberitahu secara jelas. Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyalahkan AS karena gagal membangun kepercayaan Iran meskipun pihaknya telah menawarkan “inisiatif yang berorientasi ke depan”.
Qalibaf menyampaikan pesannya melalui platform X, menyatakan bahwa AS harus memutuskan apakah dapat memperoleh kepercayaan Iran atau tidak. Sumber Pakistan kepada Reuters menyebutkan bahwa kedua delegasi kini telah meninggalkan Islamabad untuk kembali ke negara masing-masing. Perundingan ini merupakan pertemuan langsung pertama antara AS dan Iran dalam lebih dari satu dekade, serta pembicaraan tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam 1979.
Nasib Selat Hormuz
Dalam konferensi pers singkatnya, Vance tidak menyinggung pembukaan kembali Selat Hormuz. Ia mengatakan bahwa ia telah berbicara dengan Presiden Trump hingga belasan kali selama perundingan berlangsung. Namun, Trump menyatakan bahwa kesepakatan tidak sepenuhnya diperlukan. “Kami sedang bernegosiasi. Ada atau tidaknya kesepakatan tidak terlalu penting bagi saya, karena kami sudah menang,” ujarnya.
Di tengah perundingan, sekutu AS, Israel, tetap melanjutkan serangan terhadap militan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Mereka menegaskan bahwa konflik tersebut tidak termasuk dalam gencatan senjata AS-Iran. Sementara itu, Iran menuntut agar pertempuran di Lebanon dihentikan.
Militer Israel menyatakan telah menyerang peluncur roket Hizbullah hingga Minggu dini hari. Asap hitam terlihat membumbung di wilayah selatan Beirut. Di wilayah perbatasan Israel, sirene peringatan serangan udara berbunyi, menandakan adanya roket yang ditembakkan dari Lebanon.
Teheran menuntut kendali atas Selat Hormuz, pembayaran reparasi perang, serta gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk Lebanon. Selain itu, Iran juga meminta pencairan asetnya yang dibekukan di luar negeri. Iran juga ingin memungut biaya transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Situasi Terkini di Selat Hormuz
Meski terdapat perbedaan dalam perundingan di Islamabad, data pelayaran menunjukkan tiga kapal tanker raksasa bermuatan penuh minyak berhasil melintasi Selat Hormuz pada Sabtu. Kapal diduga menjadi kapal pertama yang keluar dari Teluk sejak kesepakatan gencatan senjata.
Namun, ratusan kapal tanker masih tertahan di kawasan Teluk, menunggu kesempatan keluar selama periode gencatan senjata dua pekan. Tujuan yang disampaikan Trump mengalami pergeseran, namun secara minimal ia menginginkan kebebasan pelayaran global di Selat Hormuz serta pelemahan program pengayaan nuklir Iran agar tidak mampu memproduksi bom atom. Teheran selama ini membantah memiliki ambisi untuk mengembangkan senjata nuklir.









