"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Mailani Pertahankan Es Krim Karimata Tradisional Sejak 1980-an, Dikelola Tiga Generasi

Sejarah dan Perkembangan Es Krim Rumahan Karimata

Di tengah maraknya tren dessert modern, sebuah usaha es krim rumahan justru tetap bertahan dengan cara tradisional. Bahkan, usaha tersebut berkembang hingga memiliki puluhan varian rasa dan beberapa cabang di Kota Semarang. Kisah ini datang dari pasangan suami-istri Mailani dan Reinaldo, generasi penerus bisnis keluarga “Ice Cream Karimata”, di Jalan Karimata nomor 44, Karangtempel, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, yang sudah berjalan sejak awal 1980-an.

Berawal dari usaha sederhana sang nenek yang memproduksi dan menjual es batu, bisnis ini perlahan berkembang. Dari es batu, berlanjut ke es lilin, hingga akhirnya pada sekitar tahun 1981 mulai memproduksi es krim rumahan berbasis susu. “Emak (nenek) dulu bikinnya es lilin. Bisa dibilang, keluarganya es lilin. Terus emak sebagai ibu rumah tangga itu untuk meluangkan waktu, mencoba berbisnis. Perlahan (bisnis) bertumbuh dari es batu, es lilin, sampailah ke es krim,” kata Mailani saat ditemui di rumah Ice Cream Karimata.

Bahan Alami dan Proses Tradisional

Berbeda dari es krim modern yang banyak menggunakan bahan campuran, usaha ini tetap mempertahankan kualitas dengan bahan alami. Sejak Emak dan Engkong menggeluti usaha itu, mereka menggunakan susu, santan untuk varian tertentu, serta buah asli tanpa perasa buatan. Beberapa varian es krim rasa buah dibuat dari buah segar seperti durian, nangka, dan stroberi. Bahkan aromanya bisa langsung tercium saat proses produksi. Begitu juga saat plastik ataupun cup dibuka, wangi buahnya langsung tercium dan terasa alami.

“Kalau lagi bikin durian itu biasanya langsung tercium ke mana-mana. Orang juga langsung tahu, ‘oh ini sedang bikin durian ya,” ujarnya sambil tersenyum. Tak hanya mengandalkan susu, menurut Mailani, penggunaan santan juga menjadi ciri khas Ice Cream Karimata. Beberapa varian, seperti durian cokelat, kelapa muda cokelat, nangka pandan, hingga kopi cokelat menggunakan santan agar rasa buah lebih kuat sekaligus jadi alternatif bagi yang tidak bisa minum susu.

Proses Produksi yang Membutuhkan Ketelatenan

Selain bahan alami, proses pembuatannya juga masih mempertahankan cara tradisional yang butuh ketelatenan ekstra. Untuk menghasilkan es krim berlapis, prosesnya bisa memakan waktu seharian penuh. Produksi biasanya dimulai sejak pagi hingga siang, dengan tahapan pendinginan berulang di setiap lapisan. “Kalau caranya salah, bahannya itu ‘pecah’. Misalnya (membuat lapisan) rasa cokelat, stroberi, dan vanilla. Kalau nggak benar ngelapisinnya, bisa terbelah. Jadi memang harus lebih telaten,” jelas Mailani.

Dari sisi penjualan, hari paling ramai biasanya terjadi pada Jumat hingga Minggu. Sementara pada hari kerja atau saat musim hujan, penjualan cenderung menurun. “Kalau hujan itu sudah susah, orang jarang beli es krim. Tapi kami sekarang ini juga ada cabang, jadi kami suplai juga ke cabang-cabang lainnya. Sejauh ini kami tetap produksi,” terangnya.

Pengalaman Unik dan Nostalgia

Menariknya, pengalaman membeli es krim di tempat ini juga cukup unik. Karena berada di rumah, maka pelanggan harus menekan bel di pagar terlebih dahulu sebelum dilayani. Alih-alih terasa merepotkan, suasana ini justru memberikan kesan hangat dan penuh nostalgia. Banyak pelanggan lama yang datang kembali, bahkan membawa anak mereka. “Ada yang bilang dulu ke sini sama orang tuanya, sekarang datang lagi sama anaknya. Jadi kayak nostalgia gitu,” ujarnya.

Cerita lain yang sering muncul adalah soal kemasan. Dahulu, es krim dibungkus plastik sederhana dan dilapisi kertas koran agar tidak cepat mencair saat dibawa pulang. Kini, kemasan sudah lebih modern menggunakan cup dan bubble wrap.

Generasi Ketiga dan Inovasi

Di tangan generasi ketiga, inovasi mulai digencarkan, terutama sejak pandemi sekitar tahun 2022-2023. Kini, tersedia hingga 27 varian rasa, dengan 24 di antaranya menjadi menu tetap. Menariknya, tidak ada satu rasa yang benar-benar mendominasi penjualan karena selera pelanggan yang beragam. “Kalau ditanya varian produk best seller, kami juga bingung. Soalnya rata-rata, (lakunya) hampir sama semua. Tergantung selera dan yang datang juga dari banyak kalangan,” jelas Mailani.

Selain varian klasik, mereka juga menghadirkan inovasi seperti es krim mochi, es krim coating cokelat dari 12 rasa dengan sensasi renyah di luar, serta tart es krim untuk kebutuhan perayaan. Es krim yang dijual ditawarkan dengan harga bervariasi mulai dari Rp15 ribu. Hingga saat ini, Mailani mengungkapkan, usaha es krim rumahan yang digaapnya masih terus berinovasi menghadirkan berbagai varian baru untuk menyesuaikan selera pasar yang terus berkembang.

Varian Sugar Free dan Tantangan Ekspansi

Terbaru, mereka menjawab permintaan pelanggan dengan menghadirkan varian sugar free atau tanpa gula, yang ditujukan bagi konsumen yang ingin menikmati es krim dengan pilihan lebih sehat atau memiliki batasan konsumsi gula. Menurut Mailani, ide tersebut muncul dari banyaknya pelanggan yang penasaran dan sering bertanya ketersediaan es krim tanpa gula. “Banyak yang nanya, ‘ada nggak yang sugar free?’ Akhirnya kami coba bikin,” kata Mailani.

Namun, prosesnya ternyata tidak mudah. Berbeda dengan es krim biasa yang menggunakan gula pasir, varian ini harus tetap memiliki rasa yang enak, tekstur yang tetap stabil, dan tidak meninggalkan rasa pahit, meski tanpa gula. Mailani mengungkapkan, butuh waktu sekitar enam bulan untuk menemukan resep yang pas. Proses tersebut dipenuhi dengan percobaan berulang yang tidak sedikit berujung kegagalan. “Banyak banget trial error-nya. Tapi selama 6 bulan itu enggak terus-terusan juga, tetap ada jedanya. Terus mulai lagi, karena ada titik jenuh juga, kok nggak jadi-jadi,” ujarnya.

Kini, varian sugar free yang sudah berhasil dikembangkan tersedia dalam dua pilihan rasa, yakni cokelat dan moka. Meski belum sepopuler varian lain, menurut Mailani, produk ini mulai mendapat respons positif dan sudah memiliki pelanggan tetap. “Memang belum sebanyak yang biasa, tapi sudah ada yang repeat order. Jadi kami lihat ada peluang ke depan,” ungkapnya.

Sementara itu, dia juga menambahkan, sejak 2024 bisnis ini mulai berekspansi dengan membuka beberapa cabang di berbagai titik. Hingga saat ini, total sudah terdapat lima cabang yang tersebar di sejumlah lokasi, di antaranya Istana Buah Pandanaran, Jalan Sultan Agung, Siliwangi, serta di area Uptown Mall BSB City. Namun, perjalanan ekspansi tersebut tidak lepas dari tantangan. Menurut Mailani, faktor cuaca seperti musim hujan kerap membuat penjualan menurun. Selain itu, keterbatasan distribusi ke luar kota juga menjadi kendala tersendiri karena produk es krim yang mudah mencair.

Meski begitu, semangat untuk melanjutkan warisan keluarga tetap menjadi alasan Mailani dan Reynaldo dalam mengembangkan usaha tersebut. “Emak dan Engkong kan sebelumnya juga sudah berpesan suruh meneruskan. Lalu, kami juga mempertimbangkan, daripada cari pekerjaan yang lain, ya sudah, usaha es krim ini memang jalannya,” imbuhnya.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *