Peran Indonesia dalam Misi Perdamaian dan Risiko yang Diambil
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, menyampaikan pandangan mengenai kematian tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian di Libanon. Menurutnya, hal tersebut merupakan risiko yang tidak bisa dihindari ketika Indonesia terlibat dalam operasi perdamaian internasional. Pernyataan ini disampaikan sebagai tanggapan terhadap usulan sejumlah pihak agar pemerintah menarik pasukan Indonesia dari wilayah konflik antara Libanon dan Israel.
Yahya menegaskan bahwa setiap tindakan yang dilakukan oleh tentara selalu membawa risiko. Ia menyebutkan bahwa keputusan untuk terlibat dalam misi perdamaian harus disadari sejak awal. “Saya kira itu memang menjadi bagian dari risiko yang harus disadari sejak awal ketika kita terlibat di dalam pasukan perdamaian seperti itu. Di mana pun terjadinya, namanya tentara itu memang ya siap dengan itu,” ujarnya saat ditemui di Kantor PBNU, Jakarta, pada Jumat, 11 Maret 2026.
Sikap PBNU terhadap Usulan Penarikan Pasukan
PBNU, menurut Yahya, tidak berada dalam posisi mendukung atau menolak usulan penarikan pasukan Indonesia dari wilayah konflik. Ia percaya bahwa Presiden Prabowo Subianto, yang juga mantan prajurit, lebih memahami keputusan terbaik yang harus diambil.
Yahya menjelaskan bahwa situasi di wilayah perang sangat kompleks dan setiap keputusan harus didasarkan pada analisis objektif, bukan hanya emosi atau keinginan subjektif. Ia menekankan bahwa konstitusi Indonesia menegaskan pentingnya partisipasi dalam menjaga ketertiban dunia. “Maka kita tidak punya kemewahan untuk memperturutkan keputusan hanya sekadar emosi subjektivitas karena kita harus mengupayakan jalan keluar dari konflik itu,” katanya.
Perspektif Masyarakat terhadap Konflik
Dalam wawancara, Yahya juga menanggapi isu belum adanya kecaman eksplisit dari Presiden Prabowo terhadap Israel yang menyebabkan kematian prajurit TNI. Ia meminta masyarakat tidak melokalisir perang menjadi urusan satu pihak saja. Ia menyarankan agar masyarakat tidak melihat perang hanya dari satu sisi, baik dari sisi Israel maupun Libanon.
Ia memberikan analogi bahwa cara sebagian masyarakat Indonesia melihat eskalasi perang antara Israel dan Libanon mirip dengan menonton pertandingan sepak bola. “Nonton bola itu kalau yang satu gol kita bersorak, tapi kalau kesebelasan yang kita bela bobol, kita maki-maki dan lain sebagainya,” ujarnya. “Jadi tidak boleh kita melihat perang seperti nonton bola,” tambahnya.
Kondisi Wilayah dan Keputusan PBB
Tiga prajurit Indonesia tewas dalam rentetan peperangan antara Israel dan Libanon pada akhir Maret lalu. Penyelidikan awal PBB menemukan bahwa kematian prajurit TNI bernama Farizal Rhomadon disebabkan tembakan tank Israel di Libanon pada 29 Maret 2026. Sementara itu, kematian dua prajurit TNI lainnya bernama Zulmi Aditya Iskandar dan Muhammad Nur Ichwan di Lebanon disebabkan alat peledak rakitan yang diduga dipasang oleh Hizbullah.
Selain tiga prajurit tersebut, sebanyak 8 prajurit TNI yang terlibat dalam misi perdamaian terluka akibat rentetan serangan antara Israel dan Hizbullah.
Atas dasar itu, Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY menilai situasi di wilayah penempatan pasukan perdamaian sudah tidak aman. Ia menyebut wilayah di Libanon yang ditempati prajurit TNI yang semula merupakan zona biru dan bukan daerah pertempuran kini berubah menjadi arena perang atau war zone.
“Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York, segera mengambil keputusan dan langkah tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini,” ujar Yudhoyono melalui akun X miliknya, @SBYudhoyono, pada Ahad, 5 April 2026.











