"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Eks Ketua GMNI Kendari Terbitkan Buku Transformasi dan Wacana di Era Disrupsi, Angkat Isu Sosial-Politik

Transformasi dan Wacana di Era Distrupsi

Buku berjudul “Transformasi dan Wacana di Era Distrupsi” karya Rasmin Jaya, seorang mahasiswa asal Muna Barat (Mubar) Sulawesi Tenggara (Sultra), telah resmi terbit. Buku ini menjadi hasil dari perjalanan panjang dan penuh tantangan dalam proses penulisannya. Menurut Rasmin, menghasilkan karya seperti ini membutuhkan konsistensi, keseriusan, serta kesabaran untuk merangkai kata-kata dan melakukan bongkar pasang penyesuaian hingga menemukan bentuk yang utuh.

Sebagai mantan Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kendari, Rasmin menyadari bahwa proses literasi dan pembacaan fenomena sosial berperan sebagai nutrisi bagi otak. Ia menjelaskan bahwa seperti tubuh yang membutuhkan gizi untuk tetap sehat, otak juga membutuhkan asupan pengetahuan agar tetap tajam. Mengurangi aktivitas literasi sama saja dengan mengurangi gizi otak, yang pada akhirnya berisiko menimbulkan “kelumpuhan” berupa ketidakmampuan dalam memahami.

Rasmin, alumni Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Pasca Sarjana UHO, menyebut bahwa di tengah kesibukan akademik, organisasi, dan aksi-aksi pergerakan, ia juga sangat aktif menulis. Ia meluncurkan berbagai wacana artikel di media sosial, khususnya untuk publik di Sulawesi Tenggara.

Perkembangan Teknologi dan Tantangan Baru

Di era distrupsi, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat, mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, terutama budaya literasi menulis. Kemajuan ini membawa tantangan baru bagi mahasiswa. Rasmin membaca bahwa jika tidak diimbangi dengan proses menulis dan literasi yang baik, teknologi justru dapat membawa dampak negatif, seperti penyebaran hoaks, bullying, dan isu sara yang mengemuka di ruang publik.

Perkembangan teknologi ini perlu difilter dengan bijak agar dampak negatifnya dapat diminimalisir. Namun di sisi lain, kemajuan ini menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas percakapan publik melalui pengetahuan dan informasi. Budaya menulis akan terus berkembang seiring upaya kecil yang dilakukan secara konsisten dan terus tekun untuk membentuk karakter bangsa yang kuat dan beradab.

Tradisi Literasi dan Keproduktifan

Menurut Rasmin, dari tradisi literasi membaca, diskusi, menulis, dan aksi menjadikan seseorang semakin produktif dan tetap terus berkembang. Ia berujar, “Kalau kita ingin mengetahui dunia maka membacalah dan kalau ingin terkenal maka menulislah.”

Buku ini lahir atas keresahan pikiran penulis dengan melihat berbagai dinamika pergolakan wacana di semua sektor. Buku ini juga sekaligus menjawab kebuntuan saluran demokrasi dalam menyampaikan pikiran, gagasan, ide serta pandangan di ruang publik.

Isi dan Tujuan Buku

Menurut Rasmin, buku ini lahir dari pergumulan atas aktivitas keseharian dan menyentuh berbagai pokok persoalan fundamental dan substansial. Tulisan apa adanya, tidak terlalu ilmiah sehingga berbagai lapisan masyarakat bisa membaca, membuka mata, hati, dan pikiran tentang apa yang sedang dialami daerah dan bangsa ini.

Buku ini tidak hanya tentang politik, pendidikan, sosial, mahasiswa, demokrasi, pemilu, tetapi juga berbagai wacana lain yang dituangkan dalam satu tarikan dalam nafas buku ini. Bagi Rasmin, buku ini juga menyingkap tabir fenomena sosial-politik yang kian kabur dari esensinya.


Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *