"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Pengakuan Mantan Anggota UNIFIL Soal Risiko yang Selalu Diawasi Israel

Kondisi di Lebanon dan Risiko Tugas Pasukan Perdamaian PBB

Gugurnya tiga prajurit TNI dalam tugas perdamaian di Lebanon menunjukkan betapa berisikonya penugasan tersebut. Mereka adalah anggota United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) yang bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian. Jenazah ketiga prajurit tersebut telah kembali ke tanah air pada Sabtu (4/4/2026) malam, menyedot perhatian publik terhadap situasi di Lebanon.

Eks anggota UNIFIL 2010–2011, Serma (Purn) Muhtar Efendi, memberikan wawancara mengenai pengalamannya selama bertugas di Lebanon. Ia menjelaskan bahwa Israel sering kali tidak mematuhi Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 tanggal 11 Agustus 2006, yang bertujuan mengakhiri permusuhan antara Hizbullah dan Israel. Resolusi ini juga menyerukan gencatan senjata permanen serta pembentukan zona penyangga.

Menurut Muhtar, drone dari Israel sering kali masuk ke wilayah Lebanon untuk memantau kegiatan masyarakat setempat dan memetakan posisi pasukan PBB. Hal ini membuat pasukan penjaga perdamaian sering menjadi target serangan.

Tugas yang Berisiko Tinggi

Muhtar menyebutkan bahwa tugas pasukan penjaga perdamaian di Lebanon memiliki risiko tinggi. Meskipun mereka dibekali dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan aturan keterlibatan (rules of engagement), situasi di tengah konflik antara Israel dan Lebanon tetap membawa ancaman nyata.

“Penugasan di Lebanon itu memang sangat mengandung risiko yang tinggi walau katakanlah kita sudah dibekali dengan SOP atau rules of engagement yang jelas dan nyata,” ujar Muhtar.

Ia menambahkan bahwa pasukan UNIFIL harus tetap netral dan tidak memihak kepada salah satu pihak, baik Israel maupun Lebanon. Tujuannya adalah menjaga perdamaian sesuai dengan resolusi PBB nomor 1701.

Tanggapan dari KSAD TNI

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) TNI Jenderal Maruli Simanjuntak memberikan pernyataan kepada keluarga prajurit TNI yang gugur dalam tugas. Ia meminta keluarga untuk tidak khawatir karena para prajurit terpilih sudah terlatih dan paham bagaimana menghadapi situasi di tengah konflik.

Maruli menyampaikan pernyataannya usai menjadi Inspektur Upacara penyerahan tiga jenazah TNI kontingen Garuda UNIFIL yang gugur dalam tugas misi perdamaian di Lebanon, di apron Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (4/4/2026) malam.

“Nggak usah risau. Sebetulnya mereka juga sebetulnya tahu apa yang harus dilakukan,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa setiap penugasan negara, terutama dalam misi perdamaian dunia di bawah naungan PBB, memiliki prosedur operasional standar (SOP) yang mengatur apa yang harus dilakukan di tengah kondisi ketidakpastian. Namun, ia tidak menyangkal bahwa pasukan TNI yang terpilih dalam misi ini tetap menghadapi risiko.

Meski begitu, Maruli meminta keluarga dari anggota prajurit terpilih tersebut untuk mendoakan agar segala sesuatunya berjalan dengan baik.

“Tapi apapun juga semua pasti ada risikonya di tengah-tengah kejadian tersebut. Yang penting doakan saja, mudah-mudahan semua berjalan dengan baik,” katanya.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *