Pemkot Malang Mendorong Investor Prioritaskan Tenaga Kerja Lokal
Pemerangkapan investasi di Kota Malang terus meningkat, baik dalam jumlah maupun dampaknya terhadap perekonomian daerah. Dalam dua tahun terakhir, angka investasi yang masuk ke kota ini mengalami peningkatan signifikan. Pada 2024, nilai investasi mencapai Rp 2,8 triliun, dan pada 2025 meningkat menjadi Rp 3,1 triliun. Tahun 2026 juga diperkirakan akan menunjukkan pertumbuhan lebih besar lagi dengan target sebesar Rp 3,2 triliun.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Penanaman Modal serta Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPTSP) Kota Malang, Arif Tri Sastyawan, menjelaskan bahwa pihaknya memastikan agar investor yang masuk ke kota ini memberikan prioritas kepada warga setempat sebagai tenaga kerja. Hal ini dilakukan karena selama beberapa tahun terakhir, serapan tenaga kerja belum sejalan dengan tingginya angka investasi.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Malang juga menjadi perhatian utama. Pada Agustus 2024, TPT mencapai 6,10 persen, namun pada Agustus 2025 berhasil turun menjadi 5,69 persen. Meski demikian, target yang ditetapkan oleh pemerintah adalah menurunkan angka pengangguran di bawah 5,5 persen pada tahun 2026.
Upaya Pemkot Malang dalam Meningkatkan Serapan Tenaga Kerja
Untuk mencapai target tersebut, Pemkot Malang gencar melakukan pendampingan kepada pelaku usaha, khususnya dalam hal pelaporan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM). Selain itu, pihaknya juga aktif mencari investor baru guna mempertahankan percepatan investasi.
Sejumlah sektor seperti perhotelan dan kuliner, yang selama ini menjadi penyumbang terbesar investasi sekaligus penyerap tenaga kerja, menjadi fokus utama. Pemkot meminta agar kebutuhan tenaga kerja, termasuk posisi dasar seperti cleaning service hingga staf operasional, diprioritaskan bagi warga lokal, terutama lulusan SMA dan SMK.
“Hotel itu kan paling banyak. Kami minta jangan ambil tenaga dari luar, padahal kebutuhan seperti cleaning service, ballroom, itu bisa diisi tenaga lokal,” ujar Arif.
Selain sektor perhotelan dan kuliner, pemerintah juga mulai melirik ekonomi kreatif sebagai mesin baru pencipta lapangan kerja. Meskipun kontribusi sektor ini dinilai masih belum optimal, pihaknya berkomitmen untuk terus mendorong pengembangannya.
Peran Ekonomi Kreatif dalam Menekan Tingkat Pengangguran
Meski begitu, data resmi mengenai kontribusi ekonomi kreatif belum sepenuhnya masuk ke pihak pemkot. Namun, secara umum, sektor ini diharapkan dapat menjadi alternatif dalam menekan angka pengangguran.
Anggota DPRD Kota Malang, I Made Riandiana Kartika, menilai bahwa penciptaan lapangan kerja harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan tenaga kerja. Di sisi lain, ia juga mengingatkan bahwa angka anak tidak sekolah di Kota Malang masih tinggi.
Menurutnya, lulusan SMK dan perguruan tinggi mendominasi tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) sebesar 68 persen lebih, tetapi justru menyumbang pengangguran tertinggi. Oleh karena itu, upgrading keterampilan menjadi kebutuhan mendesak agar lulusan mampu bersaing dengan tuntutan teknologi dan industri modern.
Perubahan Pola Minat Kerja di Kalangan Terdidik
Saat ini, pola minat kerja kalangan terdidik mulai bergeser. Banyak yang memilih sektor informal seperti content creator, influencer, atau pekerja lepas berbasis digital. Meski demikian, sektor tersebut tetap diakui sebagai bagian dari kegiatan ekonomi produktif.
Pemkot Malang berharap kombinasi antara percepatan investasi, kewajiban serapan tenaga kerja lokal, serta penguatan sektor ekonomi kreatif mampu menekan angka pengangguran yang masih menjadi sorotan.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











