"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Pengepul Sawit Kesulitan BBM, Codet Minta Sopir Truk Balik Arah

Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Berdampak Besar pada Pelaku Usaha dan Masyarakat

Pada hari Sabtu (18/4/2026), telepon ponsel Susanto (35) tiba-tiba berdering. Panggilan tersebut datang dari sopir yang membawa truk milik Codet, sapaan akrabnya, ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Sang sopir mengabarkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Dexlite.

Codet merasa terkejut karena kenaikan tersebut terjadi secara mendadak tanpa informasi yang memadai. Ia mengira kenaikan tidak akan terlalu besar, namun ternyata harga melonjak hampir dua kali lipat. Akibatnya, ia meminta sang sopir untuk kembali karena masih ada sisa BBM.

Menurut Codet, lonjakan harga tersebut mengacaukan perhitungan operasional yang telah disusun sebelumnya. Perasaan pertama yang muncul adalah kaget dan marah. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya, sehingga semua hitungan operasional harus diubah.

Sebelum kenaikan, harga Dexlite berada di kisaran Rp14.000 hingga Rp15.000 per liter. Dengan dana sekitar Rp350.000, ia bisa mendapatkan 25 liter BBM untuk sekali pengisian. Biasanya, sekali isi 25 liter cukup Rp350 ribu. Dalam sehari, ia bisa habis 25 sampai 40 liter BBM, tergantung jarak. Jika jauh, biaya bisa mencapai Rp600 ribu.

Kini, harga Dexlite di Pertashop setempat mencapai sekitar Rp24.150 per liter. Dampaknya, biaya operasional harian melonjak signifikan. Sekarang, 25 liter sudah sekitar Rp600 ribu. Jika sehari habis 40 liter, biaya bisa tembus Rp900 ribu lebih, bahkan hampir Rp1 juta kalau antar sampai Bangka Barat. Modal BBM saja sudah dua kali lipat, jelas bikin stres.

Codet menilai kenaikan kali ini merupakan yang tertinggi selama ia menjalankan usaha angkutan sawit. Seumur hidupnya menggunakan truk, ini kenaikan paling besar, sampai 100 persen. Dampaknya luar biasa, terutama untuk usaha transportasi.

Kesulitan Antre dan Keterbatasan Stok BBM Subsidi

Di sisi lain, penggunaan BBM subsidi bukan tanpa kendala. Codet mengaku kesulitan memperoleh solar bersubsidi karena antrean panjang dan keterbatasan stok. Ia mengatakan bahwa antre dari subuh, jam 9 pagi sudah habis. Sementara pekerjaannya tidak bisa menunggu.

Ia juga menyoroti bahwa dampak kenaikan BBM nonsubsidi tidak hanya dirasakan oleh kalangan tertentu, tetapi juga pelaku usaha kecil. Katanya, meskipun hanya untuk kendaraan tertentu, mereka yang bekerja juga kena. Pendapatan tidak besar, tapi biaya operasional naik drastis. Ini sangat menekan.

Kenaikan biaya tersebut berpotensi memicu efek berantai dalam rantai pasok sawit. Tekanan dari perusahaan dapat berujung pada penurunan harga beli di tingkat pengepul, yang kemudian berdampak ke petani. Jika biaya kami naik, perusahaan bisa menekan harga ke kami. Kami juga terpaksa menekan harga ke petani. Akhirnya, petani yang paling dirugikan.

Codet menggambarkan kondisi saat ini sebagai situasi sulit yang datang bertubi-tubi. Sudah jatuh tertimpa tangga. Kerjaan ini kelihatannya enak, tapi risikonya besar. Sekarang benar-benar terasa tercekik.

Harapan Pemerintah untuk Meninjau Kembali Kebijakan Harga BBM

Codet berharap pemerintah dapat meninjau kembali kebijakan harga BBM agar lebih mempertimbangkan kondisi pelaku usaha kecil di lapangan. Harapan mereka adalah harga bisa dinormalkan. Jika naik sedikit masih bisa dimaklumi, tapi jangan setinggi ini. Sesuaikan dengan kondisi kami.

Dampak pada Konsumen

Dampak kenaikan BBM juga dirasakan oleh konsumen. Di SPBU Desa Padang, Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Sabtu siang, Susilawati (30) terpaksa tetap mengisi Dexlite meski harganya melonjak. Terlalu tinggi buat masyarakat biasa. Tadi isi Rp500 ribu, biasanya jarumnya naik banyak, sekarang cuma sedikit.

Ia mengaku sempat ragu, namun kondisi tangki yang hampir kosong membuatnya tidak punya pilihan. Bahkan, ia melihat beberapa pengendara memilih pergi setelah mengetahui harga baru. Ada yang langsung balik karena mahal. Tapi dia tetap isi, kalau tidak, tidak bisa jalan.

Kenaikan tersebut membuat rencana bepergian bersama keluarga harus ditunda. Sepertinya harus hemat, tidak bisa jalan-jalan dulu.

Penyesuaian Harga BBM oleh Pertamina

Sementara itu, PT Pertamina (Persero) menyatakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan sebagai bagian dari kebijakan pemerintah. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, menjelaskan bahwa kebijakan ini mengacu pada Keputusan Menteri ESDM terkait formula harga dasar BBM.

Penyesuaian ini mempertimbangkan fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Untuk wilayah Bangka Belitung, harga terbaru BBM mencakup Pertamax Turbo Rp19.850 per liter, Dexlite Rp24.150 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.450 per liter. Sementara Pertamax, Pertalite, dan Bio Solar tidak mengalami perubahan harga.

Pertamina memastikan stok BBM di wilayah Sumbagsel tetap aman dan distribusi berjalan lancar.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *