Riset DIR: Percakapan Publik Mengenai BBM Dominan Waspada
Sebuah riset terbaru yang dilakukan oleh Deep Intelligence Research (DIR) menunjukkan bahwa percakapan publik mengenai Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia cenderung waspada, dengan pola “wait and see” yang sangat kuat. Riset ini dilakukan pada periode 14 Maret hingga 1 April 2026, sebelum arus mudik mencapai puncaknya. Pada masa tersebut, muncul isu kenaikan harga BBM per 1 April 2026, namun ternyata tidak terbukti.
Krisis energi global akibat penutupan Selat Hormuz dan konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu lonjakan harga minyak dunia. Hal ini berdampak langsung pada kekhawatiran masyarakat terhadap stabilitas harga BBM di dalam negeri.
Pemerintah Indonesia mengambil beberapa kebijakan jangka pendek untuk menghadapi situasi ini. Salah satu kebijakan utama adalah penerapan Work From Home (WFH) setiap Jumat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), yang juga dianjurkan untuk sektor swasta. Kebijakan ini diperkirakan dapat menghemat Rp6,2 triliun dalam kompensasi BBM. Selain itu, pemerintah melakukan efisiensi anggaran sebesar Rp121–130 triliun, membatasi perjalanan dinas dan kendaraan dinas, serta memperketat pembelian BBM subsidi melalui aplikasi MyPertamina. Program makan bergizi gratis juga diatur ulang untuk efisiensi sebesar Rp20 triliun.
Analisis Percakapan Publik
Direktur Komunikasi DIR, Neni Nur Hayati, menjelaskan bahwa analisis dilakukan terhadap berbagai media siber nasional dan internasional, media cetak, media elektronik, serta seluruh platform media sosial seperti X, Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, dan Threads. Data menunjukkan peningkatan volume percakapan signifikan menjelang akhir Maret, dipicu oleh sentimen global dan isu domestik seperti stok BBM serta kabar kenaikan harga.
Hasil monitoring menunjukkan bahwa pemberitaan di media mainstream didominasi sentimen positif sebanyak 71 persen, netral 4%, dan negatif 26%. Adapun di media sosial, emosi ‘Anticipation’ (Kewaspadaan) menjadi narasi utama di hampir seluruh platform. Publik terpantau sangat reaktif terhadap isu penutupan Selat Hormuz dan konflik di Timur Tengah yang dikhawatirkan berdampak pada harga energi domestik.
Total percakapan yang tercatat mencapai 194.419, dengan 910.371.595 audiens dan 302.054.247 engagement. Neni menambahkan bahwa data menangkap adanya pola ‘wait and see’ yang sangat kuat dari masyarakat. Narasi media mainstream saat ini didominasi sentimen positif terkait jaminan stok dari pemerintah dan Pertamina. Berbeda dengan di media sosial seperti X dan Threads, terdapat keresahan (emosi Fear dan Anger) yang berkaitan dengan potensi krisis energi dan dampaknya terhadap biaya logistik.
Solusi Alternatif dan Rekomendasi
Analisis Word Cloud DIR juga menemukan wacana kebijakan alternatif seperti WFH mulai muncul secara organik dalam percakapan netizen sebagai opsi mitigasi jika tekanan energi berlanjut. DIR merekomendasikan komunikasi publik yang lebih empatik dan berbasis data untuk meredam spekulasi di ruang digital.
Publik berharap situasi menuju krisis energi segera selesai dengan solusi konkret. Emosi Anticipation dalam media sosial yang terlalu tinggi seringkali menjadi pemicu panic buying dan berubah menjadi kemarahan dalam waktu yang sangat cepat jika tidak dilakukan antisipasi.
Krisis Energi Global dan Dampaknya
Penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang menyalurkan sekitar 20 persen energi dunia, memicu lonjakan harga minyak mentah internasional. Situasi ini terjadi di tengah perang Amerika Serikat–Israel dengan Iran yang menambah ketidakpastian pasokan energi global. Dampak langsungnya bukan sekadar kekhawatiran, melainkan kenaikan nyata harga minyak dunia yang berimbas pada potensi krisis energi domestik.
Penegasan Harga BBM
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa Pertamina belum akan melakukan penyesuaian harga BBM subsidi maupun nonsubsidi. Penegasan ini diharapkan memberi kepastian kepada masyarakat agar tidak panik, dengan jaminan bahwa ketersediaan BBM dalam negeri tetap aman.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











