G7 Siap Ambil Langkah untuk Jaga Stabilisasi Pasar Energi
Negara-negara Kelompok Tujuh (G7) menunjukkan kesiapan penuh untuk mengambil seluruh langkah yang diperlukan guna menjaga stabilitas pasar energi dan ekonomi global. Tindakan ini diambil setelah adanya gangguan pasokan minyak akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah dan ketegangan yang melibatkan Iran, yang berdampak pada kenaikan harga energi.
Pernyataan tersebut disampaikan usai pertemuan daring para menteri keuangan, menteri energi, dan gubernur bank sentral G7. Mereka menyatakan bahwa mereka terus memantau dampak lonjakan harga energi dan komoditas terhadap inflasi, pertumbuhan ekonomi global, serta stabilitas pasar keuangan.
1. Pelepasan Cadangan Minyak Tambahan Menjadi Salah Satu Opsi
G7 bersama Badan Energi Internasional (IEA) menyiapkan berbagai skenario untuk membantu pemerintah merumuskan respons yang tepat. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pelepasan cadangan minyak strategis terkoordinasi tambahan jika gangguan pasokan terus berlanjut.
Sementara itu, Bank Sentral G7 memantau ketat tekanan harga energi, guna menjaga stabilitas moneter dan nilai tukar valuta asing yang mulai terdampak. G7 juga menyerukan semua negara untuk menghindari pembatasan ekspor energi yang tidak beralasan. Mereka juga menegaskan kembali komitmen untuk mempertahankan tekanan diplomatik terhadap Rusia terkait invasinya ke Ukraina.
Langkah kolektif ini merupakan intervensi besar pertama sejak 2022. G7 yang saat ini diketuai oleh Prancis dan beranggotakan Amerika Serikat (AS), Inggris, Kanada, Jerman, Italia, dan Jepang, serta Uni Eropa, menegaskan pentingnya tindakan internasional yang terkoordinasi untuk menjaga stabilitas makro ekonomi dari dampak meluasnya konflik geopolitik.
2. Jepang Desak Respons yang Fleksibel dari G7 dan IEA
Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Ryosei Akazawa memperingatkan bahwa krisis energi ini memukul Asia dengan sangat keras. Pemblokiran Selat Hormuz oleh pasukan Iran telah memicu kekhawatiran serius terhadap rantai pasokan global.
“Kekurangan bahan bakar dan bahan baku dapat berdampak negatif yang signifikan pada ekonomi dunia. Kami mendesak respons yang fleksibel dari G7 dan IEA,” ujar Akazawa di Tokyo.
Sebagai importir minyak yang menggantungkan 90 persen pasokannya dari Timur Tengah, Jepang telah berkontribusi sebesar 79,8 juta barel dalam pelepasan cadangan minyak terkoordinasi IEA baru-baru ini. Jumlah tersebut adalah yang terbesar kedua setelah Amerika Serikat, yakni 172,2 juta barel.
Gangguan pasokan terjadi setelah konflik di Timur Tengah, termasuk serangan udara AS dan Israel terhadap Iran, yang berdampak pada jalur penting distribusi minyak global seperti Selat Hormuz.

3. PM Jepang Takaichi Bentuk Gugus Tugas untuk Amankan Pasokan Minyak
Perdana Menteri (PM) Jepang, Sanae Takaichi, menginstruksikan gugus tugas pemerintah yang baru dibentuk untuk menjamin stabilitas pasokan energi dan produk turunan minyak, menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah. Dalam pertemuan kabinet di Tokyo, pemerintah membahas langkah-langkah mitigasi dampak ekonomi domestik, termasuk rencana pelepasan cadangan minyak dan skema subsidi, guna menekan lonjakan harga bahan bakar seperti bensin dan solar.
Takaichi menekankan pentingnya diversifikasi sumber pengadaan untuk memastikan kebutuhan minyak mentah nasional terpenuhi. “Pemerintah harus memastikan pasokan stabil untuk bahan-bahan krusial seperti nafta, yang sangat penting bagi sektor kesehatan, pertanian, dan pengemasan,” kata Takaichi.
Ia juga mengatakan bahan bakar yang cukup harus dikirim ke industri transportasi, seperti layanan bus dan feri, selain ke lokasi di industri manufaktur, pertanian, dan perikanan. Takaichi mengindikasikan bahwa ia berharap dapat bekerja sama dengan negara-negara Asia lainnya dalam penyediaan produk.
Takaichi juga memerintahkan audit menyeluruh terhadap inventaris bahan baku penting, guna menyusun peta jalan pasokan yang lebih stabil terhadap guncangan geopolitik.












