Rupiah Melemah Akibat Ketegangan Regional dan Kekhawatiran Ekonomi AS
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari Senin mengalami pelemahan sebesar 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp 17.002 per dolar AS dari posisi sebelumnya di level Rp 16.980 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi akibat berbagai faktor yang memengaruhi sentimen pasar, termasuk ketegangan regional di kawasan Timur Tengah.
Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh eskalasi konflik antara Iran dan kelompok Houthi di Yaman. “Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi menyerang Israel pada akhir pekan lalu. Kelompok Houthi memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah, sehingga bisa membuka front baru dalam konflik tersebut,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Menurut laporan yang dirujuk, Gerakan Ansar Allah Yaman (Houthi) menyerang Israel dengan rudal untuk kedua kalinya dalam sehari. Mereka juga menyatakan akan terus melakukan serangan sampai Israel menghentikan serangannya terhadap Iran dan Lebanon. Sementara itu, pemimpin Houthi Yaman, Abdul-Malik al-Houthi, menyatakan dukungan penuh terhadap Iran dalam menghadapi “agresi AS dan Israel”.
Serangan ilegal AS dan Zionis Israel terhadap Iran dianggap sebagai perang terhadap Islam dan Muslim oleh Houthi. Mereka memperingatkan bahwa konflik ini menargetkan seluruh wilayah. Di sisi lain, Iran disebut siap menghadapi invasi darat oleh AS setelah Washington mengerahkan ribuan pasukan ke kawasan Timur Tengah.
Presiden Donald Trump mengatakan negosiasi dengan Iran berjalan baik dan kesepakatan mungkin akan segera tercapai. Namun, ia tidak menyebutkan tenggat waktu yang jelas dan memperingatkan adanya kemungkinan serangan lebih lanjut terhadap Teheran.
Sentimen Konsumen Amerika Mulai Menurun
Melihat data ekonomi AS, Universitas Michigan merilis indikator sentimen konsumen yang menunjukkan penurunan. Pada bulan Maret, sentimen konsumen turun dari 55,5 menjadi 53,3, di bawah perkiraan 54. Ekspektasi inflasi untuk 12 bulan ke depan meningkat dari 3,4 persen pada Februari menjadi 3,8 persen, sedangkan ekspektasi inflasi lima tahun tetap stabil di 3,2 persen.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mengalami pelemahan, bergerak ke level Rp 16.993 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.957 per dolar AS.
Utang AS yang Mengkhawatirkan
Selain situasi domestik, AS juga menghadapi guncangan ekonomi yang signifikan. Pemerintahan Donald Trump dinilai gagal membayar utangnya. Hal ini didasarkan pada laporan keuangan konsolidasi Departemen Keuangan untuk tahun fiskal 2025 yang dirilis pekan lalu.
Total aset tercatat sebesar 6,06 triliun dolar AS (sekitar Rp 93.930 triliun-Rp 96.960 triliun), sementara total kewajiban mencapai 47,78 triliun dolar AS (sekitar Rp 740.590 triliun-Rp 764.480 triliun) per 30 September 2025. Angka kewajiban tersebut belum mencakup kewajiban tidak didanai dari program asuransi sosial seperti Jaminan Sosial dan Medicare.
Posisi neraca AS, tanpa memperhitungkan kewajiban asuransi sosial, memburuk hampir 2,07 triliun dolar AS (sekitar Rp 32.085 triliun-Rp 33.120 triliun) dari tahun fiskal 2024 ke 2025, menjadi negatif sebesar 41,72 triliun dolar AS (sekitar Rp 646.660 triliun-Rp 667.520 triliun). Total kewajiban kini hampir delapan kali lipat nilai aset.
Kewajiban di Luar Neraca
Kondisi semakin mengkhawatirkan jika memperhitungkan kewajiban di luar neraca. Kewajiban asuransi sosial selama 75 tahun meningkat 10,1 triliun dolar AS (sekitar Rp 156.550 triliun-Rp 161.600 triliun), dari 78,3 triliun dolar AS (sekitar Rp 1.213.650 triliun-Rp 1.252.800 triliun) menjadi 88,4 triliun dolar AS (sekitar Rp 1.370.200 triliun-Rp 1.414.400 triliun).
Jika digabungkan dengan kewajiban resmi sebesar 47,8 triliun dolar AS, total kewajiban federal mencapai lebih dari 136,2 triliun dolar AS (sekitar Rp 2.111.100 triliun-Rp 2.179.200 triliun), atau sekitar lima kali lipat produk domestik bruto (PDB) tahunan AS.
Kantor Akuntabilitas Pemerintah (GAO) kembali memberikan penolakan opini atas laporan keuangan pemerintah AS tahun fiskal 2025, menandai tahun ke-29 berturut-turut lembaga tersebut tidak dapat memastikan kewajaran laporan. Hal ini disebabkan oleh masalah manajemen keuangan yang berkelanjutan, terutama di Departemen Pertahanan, serta kelemahan pencatatan transaksi antarlembaga.

Presiden AS Donald Trump saat rapat kabinet di Ruang Kabinet Gedung Putih di Washington, DC, 26 Maret 2026. – (EPA/WILL OLIVER / POOL)

Data pergerakan rupiah dari tahun 2020 sampai 2025. – (.co.id)
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











