Paus Leo XIV Mengutuk Perang dan Menentang Penggunaan Agama sebagai Alat Militer
Pada Minggu Palma 29 Maret 2026, di bawah langit Roma yang kelabu, Paus Leo XIV menyampaikan pesan yang menggemparkan ribuan umat Katolik yang hadir di Lapangan Santo Petrus. Sebagai pemimpin Gereja Katolik pertama asal Amerika Serikat, ia memberikan teguran keras terhadap para pemimpin dunia yang menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan tindakan kekerasan dalam konflik AS-Iran.
“Tuhan tidak mendengarkan doa mereka yang mengobarkan perang, melainkan menolaknya,” tegas Paus Leo dalam homili Pekan Suci pertamanya sejak terpilih. Pesannya menjadi sangat relevan di tengah eskalasi konflik antara koalisi Amerika Serikat-Israel melawan Iran, yang telah mengubah peta keamanan Timur Tengah menjadi medan perang yang mengerikan.
Kidung Perang Vs Doa Perdamaian
Pernyataan Paus Leo XIV jelas bertentangan dengan narasi yang disampaikan oleh pihak AS. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, dalam pengarahan resminya baru-baru ini, secara terbuka mengutip Mazmur 144 untuk memberikan legitimasi religius pada operasi militer. Ia mengatakan, “Terpujilah Tuhan, gunung batuku, yang melatih tanganku untuk peperangan, dan jari-jariku untuk pertempuran.”
Bagi Paus Leo, penggunaan kitab suci sebagai alat untuk membenarkan ‘kekerasan luar biasa’ adalah kemunduran peradaban. Ia mengingatkan bahwa tidak ada alasan suci yang bisa membenarkan penghancuran nyawa manusia. “Tidak seorang pun dapat menggunakan Tuhan untuk membenarkan perang,” ujar Paus di depan ribuan orang yang terkesan mendalam.
Yerusalem yang Terluka: Tradisi yang Terhenti
Dampak dari konflik ini tidak hanya terasa dalam retorika politik, tetapi juga menghancurkan tradisi ribuan tahun di Tanah Suci. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, prosesi Minggu Palma di Yerusalem dibatalkan. Kota yang biasanya dipenuhi lambaian daun palem dan nyanyian syukur kini sunyi karena sirene dan larangan berkumpul.
Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, menyampaikan kesedihan mendalam atas situasi ini. “Tahun ini kita tidak bisa menjalani perjalanan prapaskah tradisional di Yerusalem. Ini adalah luka tambahan di atas banyak luka lainnya yang disebabkan oleh konflik ini,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Fakta Kelam di Balik Garis Depan
Sejak serangan udara gabungan dimulai pada akhir Februari 2026, realita di lapangan jauh dari kata pembebasan. Lebih dari 1.900 orang dilaporkan tewas di Iran, termasuk warga sipil dan anak-anak sekolah yang terjebak dalam serangan di pemukiman. Korban jiwa ini diperkirakan akan terus bertambah seiring perang yang belum juga berakhir.
Serangan terhadap depot bahan bakar juga menyebabkan fenomena mengerikan di mana minyak mentah turun bersama hujan dari langit Tehran. PBB memperkirakan lebih dari satu juta orang telah mengungsi di wilayah Iran dan Lebanon akibat serangan balasan yang tidak kunjung reda.
Di tengah ketegangan ini, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa Pekan Suci adalah peringatan tentang pengorbanan, bukan penindasan. Saat dunia menanti apakah gencatan senjata yang dijanjikan Presiden Trump akan terwujud pada 6 April mendatang, Vatikan terus menjadi mercusuar bagi mereka yang percaya bahwa dialog lebih kuat daripada bubuk mesiu.











