"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Respons Dedi Mulyadi soal pungli di pantai saat Lebaran, sindiran tajam

Penegakan Hukum dan Kesadaran Masyarakat dalam Menghadapi Pungli di Tempat Wisata

Pungutan liar (pungli) yang terjadi di berbagai tempat wisata di Jawa Barat khususnya saat musim libur Lebaran 2026 menarik perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia menyampaikan pernyataan tegas terkait masalah ini, yang disampaikan melalui unggahan video di media sosial. Peristiwa ini muncul setelah seorang wisatawan asal Bandung, Rina (32), mengungkapkan pengalamannya di Pantai Sayang Heulang atau pantai selatan Garut.

Rina mengaku diminta membayar biaya masuk dan parkir di luar ketentuan resmi tanpa diberikan karcis atau bukti pembayaran. “Di Sayang Heulang saya diminta Rp15 ribu untuk tiket masuk, lalu Rp5 ribu untuk parkir. Tapi saya disuruh bayar total Rp45 ribu. Saya bingung, itu dasar penarikannya apa. Tidak ada karcis juga,” ujarnya. Pengalaman ini membuatnya merasa tidak nyaman karena kondisi pantai dinilai tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan.

Selain itu, wisatawan tersebut menyoroti fasilitas pantai yang seadanya dan banyak sampah akibat minimnya kebersihan. Hal ini memperkuat keluhan yang dialami oleh para pengunjung lainnya. Dedi Mulyadi memberikan sindiran keras kepada masyarakat khususnya para pelaku pungli. Ia menilai tindakan tersebut sebagai “aksi bunuh diri” ekonomi karena dapat mengurangi jumlah pengunjung dan dampaknya pada perekonomian daerah.

Respons dari Gubernur Jawa Barat

Dedi Mulyadi mengingatkan bahwa wisatawan yang berkunjung ke tempat wisata adalah tamu yang bisa menjadi sumber rezeki. “Ingat orang datang itu bisa membawa rezeki. Karena orang datang membawa rezeki jangan mempersulit kedatangannya,” ujarnya. Ia menekankan bahwa banyak masyarakat di area pantai yang sibuk dengan pungutan yang pada akhirnya membuat orang malas datang ke situ.

Ia menegaskan bahwa adanya pungli tersebut membuat orang malas untuk datang, yang bisa mengakibatkan efek domino pada kemajuan ekonomi. Berkurangnya pengunjung atau wisatawan bisa membuat pedagang di tempat wisata tersebut menjadi sepi dari pembeli. Oleh karena itu, Dedi Mulyadi menyindir sikap masyarakat yang sering ingin mengambil keuntungan. Ia menyebut sikap tersebut sebagai aksi bunuh diri.

Klarifikasi dari Pihak Terkait

Menanggapi curhatan wisatawan yang mengalami pungli di Pantai Sayang Heulang Garut tersebut, pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut menyampaikan klarifikasi terkait tarif resmi. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Beni Yoga, menjelaskan bahwa tarif resmi telah ditetapkan dan dicantumkan di pos jaga sebagai acuan bagi pengunjung. “Tarif resmi sudah kami tetapkan dan tempel di pos, mulai Rp10 ribu untuk dewasa di hari biasa, serta parkir motor Rp5 ribu,” ujarnya.

Ia menegaskan, apabila ditemukan pungutan di luar ketentuan tersebut, masyarakat diminta untuk melaporkan. Bahkan, pihaknya mendorong agar oknum yang melakukan pungli direkam sebagai bukti untuk nantinya ditindak secara tegas. “Silakan viralkan dan saya mohon nanti perlihatkan wajah yang melakukan pungli itu siapa,” ungkapnya.

Langkah yang Diambil oleh Pemprov Jabar dan Pemkab Garut

Pemprov Jabar dan Pemkab Garut mengimbau wisatawan untuk berani melaporkan atau memviralkan oknum pelaku pungli sebagai bukti penindakan. Dedi Mulyadi menegaskan bahwa pariwisata hanya akan terbangun dengan citra yang baik jika bebas dari pungli. “Pariwisata bebas pungli adalah harapan karena orang datang ingin mendapat kenyamanan,” ujarnya.

Dedi Mulyadi meyakini bahwa wisatawan yang mengalami pungli bukan hanya soal kerugian uang atau materi melainkan juga karena intimidasi dan ketidaknyamanan. Ia menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan dan keamanan area wisata agar tidak terjadi pungli yang merugikan semua pihak.

Tindakan yang Harus Dilakukan oleh Masyarakat

Gubernur Jawa Barat menegaskan bahwa sikap-sikap seperti itu melahirkan kemiskinan, karena menurutnya keindahan (tempat wisata) tanpa keamanan dan kenyamanan adalah kesia-siaan. Oleh karena itu, ia mengimbau kepada warga Jawa Barat untuk tidak melestarikan kebiasaan pungli tersebut jika ingin daerah maju.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *