"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Mencari berkah pernikahan di bulan Syawal

Lonjakan Pendaftaran Nikah Pasca Idulfitri di Sulawesi Selangan

Setelah perayaan Idulfitri, banyak Kantor Urusan Agama (KUA) di Sulawesi Selatan mengalami lonjakan pendaftaran nikah. Dalam empat hari (22–25 Maret 2026), tercatat sebanyak 168 pasangan yang mendaftar untuk melangsungkan pernikahan. Fenomena ini menunjukkan meningkatnya minat masyarakat untuk menikah setelah Lebaran.

Tradisi menikah setelah Lebaran masih sangat kuat di kalangan masyarakat Bugis Makassar. Ali Yafid, Kepala Kanwil Kementerian Agama Sulsel, menyebut bahwa bulan Syawal dipercaya membawa keberkahan. Hal ini diperkuat oleh rangkaian adat seperti mappacci hingga massita baiseng.

Tradisi dan Kepercayaan Masyarakat

Selepas gema takbir Idulfitri mereda, suasana di sejumlah KUA mulai menggeliat. Bukan lagi soal zakat atau silaturahmi, tetapi antrean calon pengantin bersiap mengikat janji suci. Bulan Syawal 1447 Hijriah, bulan penuh keberkahan ini, banyak pasangan memilih menapaki babak baru kehidupan mereka. Harapan sederhana namun sakral: membangun rumah tangga yang dimulai di waktu yang baik.

Menurut Kabid Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Sulsel, Abd Gaffar, ada 168 pendaftar nikah, baik melalui aplikasi Simkah maupun datang langsung ke Kantor KUA. Ia menjelaskan, kepercayaan akan keberkahan bulan Syawal salah satu alasan utama. Menikah di bulan ini diyakini membawa kebaikan, setelah menjalani ibadah selama Ramadan.

Rangkaian adat pun turut menguatkan makna tersebut. Mulai dari mappacci (penyucian diri), mappenre botting (antar mempelai), mappasikarawa (sentuhan pertama), mapparola (kunjungan balik), hingga massita baiseng (silaturahmi). Semuanya memperkuat ikatan keluarga dan tanda syukur.

Layanan Optimal Meski Ada Lonjakan

Menghadapi lonjakan pendaftaran nikah, Kemenag memastikan pelayanan tetap berjalan optimal. Ali mengaku telah menginstruksikan seluruh jajaran agar tetap sigap melayani masyarakat, bahkan sejak sebelum libur Lebaran. “Kami sudah menginstruksikan sebelum libur Lebaran agar seluruh proses pendaftaran dan pencatatan nikah setelah Lebaran tetap ditangani dan dilayani,” jelasnya.

Kemudahan juga diberikan melalui layanan digital. Kini masyarakat dapat mendaftar pernikahan secara online melalui aplikasi Simkah Kementerian Agama, tanpa harus datang langsung ke KUA. “Apalagi sekarang proses pendaftaran dan pencatatan nikah sudah bisa diakses secara online melalui Simkah, sehingga lebih memudahkan masyarakat,” jelasnya.

Ali memastikan layanan tetap berjalan meski sebagian aparatur menerapkan sistem kerja fleksibel. Sejak 25 Maret 2026, aparatur Kemenag mulai kembali bekerja, meski sebagian masih menjalankan Work From Home (WFH) dan Work From Anywhere (WFA). Namun demikian, layanan yang bersentuhan langsung masyarakat, seperti pencatatan pernikahan, tetap dilaksanakan di kantor KUA.

Fenomena Pernikahan di Bulan Syawal

Masyarakat Kecamatan Ulaweng, Kabupaten Bone, cenderung memilih melangsungkan pernikahan di bulan Syawal, setelah Hari Raya Idulfitri. Fenomena ini terlihat dari meningkatnya jumlah pasangan yang mendaftarkan pernikahan di KUA setempat. Kepala KUA Ulaweng, Muhammad Saleh, menyebut kondisi tersebut sebagai hal yang rutin terjadi setiap tahun.

Menurutnya, bulan Syawal memang menjadi salah satu waktu favorit masyarakat untuk menikah. “Biasanya kalau sudah Lebaran Idulfitri, Alhamdulillah ada sampai 10 pasang menikah,” ujarnya. Ia menjelaskan, peningkatan jumlah pendaftar tidak hanya setelah Lebaran. Sebelum Ramadan pun, minat masyarakat untuk mendaftarkan pernikahan sudah mulai terlihat.

Selain itu, banyak pasangan memilih menikah sebelum Ramadan karena alasan religius. Tradisi yang dikenal dengan istilah napake mappuasa menjadi salah satu faktor pendorong. “Biasanya sebelum puasa juga banyak yang menikah. Orang bilang ‘napake mappuasa’, artinya sekalian beribadah di bulan puasa,” katanya.

Bimbingan Perkawinan dalam Sistem WFA

Di tengah penerapan sistem Work From Anywhere (WFA), KUA Kecamatan Tellulimpoe tetap memberi pelayanan kepada masyarakat. Ditandai dengan pelaksanaan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) perdana bagi calon pengantin pasca libur Hari Raya Nyepi dan Idulfitri 1447 Hijriah, Kamis (26/3/2026). Kegiatan ini di Aula KUA Tellulimpoe. Sejumlah pasangan calon pengantin antusias mengikuti setiap sesi diberikan.

Kepala KUA Tellulimpoe, Burhan, menyatakan Bimwin di masa WFA merupakan bentuk adaptasi sekaligus komitmen institusi. Menurutnya, layanan kepada masyarakat tidak boleh terhenti dalam kondisi apa pun. “WFA bukan penghalang bagi kami untuk tetap memberikan layanan terbaik,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta dibekali berbagai materi penting terkait kehidupan rumah tangga. Mulai dari pemahaman dasar keluarga, hak dan kewajiban suami istri, komunikasi efektif, hingga pengelolaan konflik. Selain itu, aspek kesehatan keluarga dan perencanaan kehidupan berumah tangga juga turut menjadi bagian dari pembekalan.

Peningkatan Pendaftaran Nikah di KUA Tanete Riattang Barat

Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone, juga mengalami lonjakan pendaftaran pernikahan usai bulan Ramadan. Peningkatan tersebut mulai terlihat sejak akhir Ramadan dan terus berlanjut setelah Hari Raya Idulfitri. Kepala KUA Tanete Riattang Barat, Abd Wahid, membenarkan adanya lonjakan tersebut.

“Memang setelah Ramadan membludak, ada peningkatan pendaftaran dan orang menikah. Sebagian pendaftaran sudah dilakukan di akhir Ramadan,” ujarnya. Ia menyatakan, saat ini tercatat sekira 17 pasangan mendaftar untuk melangsungkan pernikahan. Sebagian besar akad nikah dilaksanakan pada bulan Maret.

Menurutnya, ada sejumlah faktor yang menyebabkan tingginya angka pernikahan pada periode ini. Salah satunya adalah kebiasaan masyarakat yang menunda pernikahan selama bulan Ramadan. “Selama Ramadan biasanya ditunda karena puasa,” jelasnya. Selain itu, bulan Syawal juga diyakini sebagai waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan.

Faktor budaya lokal turut memengaruhi. Masyarakat Bone umumnya menghindari pernikahan pada bulan Zulkaidah dan Zulhijjah yang dikenal dengan istilah Uleng Taccipi atau bulan terjepit. “Karena itu, banyak yang memilih menikah di bulan Syawal,” katanya.

Momentum mudik Lebaran juga menjadi salah satu pendorong meningkatnya angka pernikahan. Keluarga besar yang berkumpul dimanfaatkan untuk menggelar acara pernikahan. “Biasanya dua sampai tiga hari setelah Lebaran sudah ada yang menikah, karena mumpung keluarga masih berkumpul,” katanya.

Tantangan dalam Pelayanan Nikah

Lonjakan pendaftaran ini menjadi tantangan tersendiri bagi pihak KUA dalam memberi pelayanan. Terlebih dengan keterbatasan jumlah pegawai yang ada. Abd Wahid menjelaskan, pelayanan di KUA berbeda dengan layanan di kantor Kementerian Agama. Di KUA, pelayanan bersentuhan langsung dengan masyarakat sehingga tidak bisa dilakukan secara jarak jauh.

“Kalau di KUA, pelayanan langsung ke masyarakat seperti pendaftaran nikah, rekomendasi, dan pengesahan. Jadi tidak bisa dilakukan dari rumah,” jelasnya. Ia menyinggung penerapan sistem Work From Anywhere (WFA) yang belum sepenuhnya diterapkan di KUA. “Kalau di Kemenag mungkin bisa, tapi di KUA sulit karena pelayanan langsung. Apalagi setelah Ramadan layanan meningkat dan harus dilayani di kantor,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Kementerian Agama Bone, Salahuddin, menjelaskan proses pendaftaran pernikahan sepenuhnya dilakukan di KUA masing-masing. “Pendaftaran nikah langsung di KUA. Nanti laporan masuk setelah akhir bulan. Misalnya laporan bulan Maret, itu biasanya baru masuk di awal April,” jelasnya. Ia menambahkan, pihak Kementerian Agama hanya melayani penerbitan buku nikah. Sementara proses administrasi dan pendaftaran tetap dilakukan di tingkat KUA. “Kalau di Kemenag itu kami hanya melayani buku nikah. Pendaftaran tetap di KUA masing-masing, nanti kepala KUA yang mengambil buku nikah di kami,” katanya.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *