"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

40 Tahun Jadi Pelanggan, Bos Djarum Kudus Dikenang Rendah Hati

Duka Mendalam di Warung Tahu Pong Karangsaru

Kepergian bos Djarum Kudus Michael Bambang Hartono turut meninggalkan duka mendalam bagi pemilik warung tahu pong Karangsaru Semarang. Sebagai sosok yang dikenal rendah hati dan ramah, Bambang Hartono telah menjadi pelanggan setia warung tersebut selama lebih dari empat dekade. Kepergiannya tidak hanya menimbulkan rasa kehilangan di dunia bisnis, tetapi juga bagi warung sederhana yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Hubungan yang Berlangsung Selama 40 Tahun

Bambang Hartono, yang lahir pada 2 Oktober 1939, dikenal sebagai pengusaha sukses di Indonesia. Meski memiliki status sebagai taipan, ia tidak pernah mengubah cara hidupnya. Ia sering datang ke warung tahu pong Karangsaru tanpa pengawalan ketat atau perlakuan khusus, seperti halnya pelanggan biasa.

Bagi generasi ketiga pemilik warung, Izeline (Elin), Bambang Hartono bukan hanya seorang pelanggan, tetapi bagian dari perjalanan panjang warung tersebut. Elin mengungkapkan bahwa Bambang Hartono sudah menjadi pelanggan selama 35 tahun pada 2018. Artinya, hubungan ini telah berlangsung selama lebih dari empat dekade.

Meskipun selama masa pandemi kunjungannya sedikit berkurang, hubungan antara Bambang Hartono dan warung tidak pernah terputus. Bahkan, utusan dari Bambang Hartono masih rutin datang setiap dua hingga tiga bulan sekali untuk membeli tahu pong. Menurut Elin, tahu pong tersebut dikirim ke Singapura.

Sosok Rendah Hati yang Tak Terlupakan

Di mata Elin, yang paling membekas adalah kerendahan hati Bambang Hartono. Setiap kali ia makan di warung, ia selalu menyempatkan diri untuk ngobrol dengan pemilik dan karyawan. Ia bertanya tentang keadaan keluarga, baik saat orang tua Elin masih ada maupun setelah mereka pergi.

“Dia selalu ajak ngobrol, tanya keadaan, dari sejak mama papa saya masih ada sampai enggak ada,” kata Elin. “Itu humble-nya beliau yang akan kami ingat selalu.”

Tidak hanya itu, Bambang Hartono juga sering duduk di meja biasa, menikmati seporsi tahu pong layaknya pelanggan lain. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak pernah merasa lebih tinggi dari siapa pun.

Warung Legendaris yang Tetap Bertahan

Tahu Pong Karangsaru sendiri bukan sekadar tempat makan, melainkan bagian dari sejarah kuliner Kota Semarang. Warung ini berdiri sejak 1949 dan kini dikelola oleh generasi ketiga. Meski waktu berlalu, cita rasa tahu pong tetap konsisten dari masa ke masa.

Dalam satu sajian, pelanggan dapat menikmati perpaduan tahu pong yang kopong dan renyah, tahu emplek yang padat, gimbal udang yang garing, serta telur goreng berwarna kecokelatan. Semua hidangan disajikan dengan kuah kecap petis yang manis dan gurih, dilengkapi acar lobak segar dan cabai rawit sesuai selera.

Harga yang relatif terjangkau membuat warung ini tetap menjadi tujuan berbagai kalangan, mulai dari warga lokal hingga tokoh nasional.

Jejak Tokoh-Tokoh Besar di Dinding Warung

Dinding warung dipenuhi bingkai foto dan testimoni dari berbagai tokoh penting yang pernah singgah. Selain Michael Bambang Hartono, terlihat pula foto bos Sidomuncul Irwan Hidayat dan politisi senior PDIP almarhum Tjahjo Kumolo.

Foto Bambang Hartono disertai tulisan tangan tertanggal 25 November 2018, yang menyebut dirinya telah menjadi pelanggan selama 35 tahun. Testimoni ini kini menjadi bagian dari kenangan yang tak tergantikan.



Warung Tahu Pong Karangsaru tidak hanya menjadi tempat makan, tetapi juga tempat berkumpulnya banyak tokoh penting. Kepergian Bambang Hartono meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi dunia bisnis, tetapi juga bagi para pengunjung dan karyawan yang pernah bersinggungan dengannya. Elin mengatakan bahwa ia dan timnya turut berduka atas kepergian sang taipan. “Terima kasih untuk selama ini sudah jadi pelanggan selama puluhan tahun.”

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *