"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Kisah Usamah bin Zaid, Utusan Nabi ke Palestina

Misi Terakhir Nabi Muhammad SAW: Pengiriman Pasukan ke Wilayah Palestina

Salah satu misi terakhir yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad SAW sebelum wafat adalah pengiriman pasukan ke wilayah Palestina, khususnya ke perbatasan Al-Balqa’ dan Ad-Darum. Misi ini dipimpin oleh Usamah bin Zaid, seorang pemuda yang masih muda pada masa itu. Meskipun demikian, beliau diangkat sebagai panglima karena kepercayaan Nabi terhadap kemampuan dan ketangguhannya.

Latar Belakang Usamah Bin Zaid

Usamah bin Zaid adalah putra dari Zaid bin Haritsah, sosok yang sangat dicintai oleh Nabi Muhammad SAW. Zaid bin Haritsah merupakan laki-laki kedua yang memeluk Islam setelah Ali bin Abi Thalib. Ia berasal dari kabilah Kalb dan awalnya adalah budak milik Khadijah, kemudian dihibahkan kepada Nabi sebelum masa kenabian. Nabi memerdekakannya dan mengangkatnya sebagai anak, sehingga ia sempat dipanggil “Zaid bin Muhammad” sebelum larangan menggunakan nama belakang “bin” yang bukan ayah asli dalam Al-Qur’an.

Saking cintanya kepada Nabi, Zaid lebih memilih tinggal bersama Nabi daripada pulang bersama ayah kandungnya saat dijemput. Kecintaan ini juga turun kepada putranya, Usamah bin Zaid, yang akhirnya menjadi panglima pasukan dalam misi terakhir Nabi.

Peran Militer Zaid bin Haritsah dalam Berbagai Pertempuran

Zaid bin Haritsah terlibat dalam berbagai pertempuran besar, termasuk Perang Badar. Ia dipercaya memimpin berbagai ekspedisi penting seperti ekspedisi Al-Qaradah. Selain itu, ia juga menjadi panglima pertama dalam pasukan yang dikirim ke Mu’tah. Zaid gugur sebagai syahid dalam Perang Mu’tah, saat memegang panji perang kaum Muslimin.

Peran Militer Usamah bin Zaid ke Palestina

Misi terakhir yang diperintahkan Nabi Muhammad SAW adalah pengiriman pasukan ke wilayah Palestina. Penunjukan Usamah sebagai panglima sempat menimbulkan perdebatan di kalangan para sahabat. Namun, Nabi memberikan pembelaan tegas dari atas mimbar, menyatakan bahwa Usamah pantas mengemban amanah tersebut, sebagaimana ayahnya, Zaid bin Haritsah, yang juga pernah menjadi pemimpin.

Pasukan berangkat dan memancangkan tenda di Al-Jurf, sekitar satu farsakh dari Madinah. Namun, perjalanan tidak dilanjutkan karena kondisi kesehatan Nabi yang semakin kritis. Akhirnya, Nabi wafat sebelum pasukan benar-benar melintasi perbatasan Palestina.

Usamah bin Zaid Menyelesaikan Mandat Rasulullah

Setelah wafatnya Nabi, Khalifah Abu Bakar merealisasikan misi tersebut sesuai wasiat terakhir Nabi. Meski situasi sulit dengan munculnya gerakan murtad, Abu Bakar tetap memprioritaskan keberangkatan pasukan. Ia mengikuti keputusan Nabi yang telah menegaskan bahwa Usamah pantas memimpin.

Setelah menjadi khalifah, Abu Bakar langsung menunaikan mandat tersebut sebagai tugas pertamanya. Di tengah tantangan berat, ia berhasil mengumpulkan kembali kekuatan kaum Muslimin dan memastikan instruksi Nabi tetap berjalan.

Usamah bin Zaid ikut serta dalam prosesi memandikan jenazah Nabi bersama Ali bin Abu Thalib dan Al-Abbas. Setelah itu, ia berangkat memimpin pasukannya menuju wilayah Syam—Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon, hingga mencapai perbatasan Al-Balqa’ dan Ad-Darum.

Instruksi militer Nabi kepada Usamah akhirnya berhasil. Beliau memerintahkan Usamah untuk “menjejakkan kuda-kudanya” ke wilayah tersebut sebagai bentuk tekanan militer. Pasukan yang dipimpin Usamah terdiri dari Muhajirin generasi awal dan sahabat-sahabat utama dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

Pengiriman pasukan ke Palestina ini merupakan salah satu dari tiga wasiat terakhir Nabi SAW sebelum wafat. Meskipun detail pertempuran tidak dirinci dalam sumber tertentu, ekspedisi ini dicatat sebagai misi ke-38 dalam daftar sariyah (pasukan tempur) Nabi.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *