"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Rismon Sianipar Apresiasi Kebaikan Keluarga Gibran Usai Akui Kesalahan Soal Ijazah Jokowi

Penjelasan Rismon Sianipar tentang Ijazah Jokowi

Rismon Sianipar akhirnya mengakui bahwa ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah asli. Hal ini dilakukan setelah melakukan kajian terbaru selama tiga bulan dengan data yang lebih lengkap. Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada Jokowi, keluarga, serta publik atas pernyataannya sebelumnya yang menuduh ijazah tersebut palsu.

Sebelumnya, Rismon bersama Roy Suryo dan Dokter Tifa sempat mengungkapkan dugaan bahwa ijazah Jokowi tidak sah. Mereka menuding bahwa Jokowi tidak pernah menyelesaikan pendidikannya atau bahkan sampai wisuda di Universitas Gadjah Mada (UGM). Kini, Rismon justru membenarkan keaslian ijazah tersebut berdasarkan hasil penelitiannya yang lebih mendalam.

“Jangankan kepada Pak Jokowi dan keluarga besarnya, kepada publik pun saya minta maaf karena apa? Sebagai penelisi bertanggung jawab untuk mengoreksi tulisannya, bukan menyembunyikan kebenaran sehingga dianggap bahwa penelitian itu sudah final,” ujar Rismon dalam pernyataannya.

Proses Penelitian dan Rekonstruksi Data

Rismon menjelaskan bahwa temuan barunya didasarkan pada rekonstruksi dan uji coba selama tiga bulan terakhir. Ia menggunakan berbagai variabel seperti geometri, translasi, rotasi, hingga pencahayaan untuk mengoreksi hasil analisis sebelumnya. Menurutnya, kebenaran bisa sangat menyakitkan, tetapi lebih menyakitkan lagi jika ia tidak mau mengungkapkannya dan lebih jujur.

Ia juga mengungkapkan kekagumannya atas sikap terbuka keluarga besar Presiden ke-7 RI. Menurutnya, pihak keluarga tetap menerima masukan dan kritik selama didasari oleh kejujuran dan objektivitas tanpa motif politik.

Proses Restorative Justice dan Status Hukum

Sementara itu, terkait proses hukum yang berjalan, Rismon diketahui telah mengajukan permohonan penyelesaian perkara melalui mekanisme restorative justice kepada penyidik Polda Metro Jaya. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Iman Imanuddin, mengatakan permohonan tersebut diajukan sekitar satu pekan lalu.

Menurutnya, penyidik kini berperan sebagai fasilitator dalam proses tersebut. “Hari ini RHS bersama pengacaranya datang ke kami mempertanyakan perkembangan surat yang diajukan oleh yang bersangkutan dengan kesadarannya,” kata Iman di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (11/3/2026).

Diketahui, dalam kasus dugaan penyebaran tudingan ijazah palsu terhadap Jokowi, polisi telah menetapkan delapan orang sebagai tersangka. Para tersangka dibagi menjadi dua klaster. Klaster pertama terdiri dari Eggi Sudjana, Kurnia Tri Rohyani, Damai Hari Lubis, Rustam Effendi, dan Muhammad Rizal Fadillah. Sementara klaster kedua terdiri dari Roy Suryo, Rismon Hasiholan Sianipar, serta Tifauzia Tyassuma.

Rismon bersama kuasa hukumnya, Jahmada Girsang, juga mendatangi Polda Metro Jaya untuk menanyakan perkembangan perkara yang sedang ditangani penyidik. Selain itu, pihaknya juga menanyakan status berkas perkara yang sebelumnya dikabarkan sempat dikembalikan oleh pihak kejaksaan.

Hingga kini, Rismon masih menjalani kewajiban wajib lapor kepada penyidik sembari menunggu perkembangan proses hukum yang berjalan.

Rencana Penulisan Buku

Sebagai bentuk pertanggungjawaban akademis, Rismon berencana menuangkan seluruh koreksi penelitiannya ke dalam sebuah buku yang akan diselesaikan pada tahun 2026. Ia mengaku akan menulis buku tersebut di kampung halamannya di Balige dan Pematangsiantar agar lebih fokus.

“Saya akan tuliskan koreksi saya terhadap penelitian saya yang tidak lengkap, ‘Jokowi Sweatpaper’ dan ‘Gibran End Game’ dan saya minta izin saya tuntaskan di kampung saya, di Balige,” jelas Rismon.

Penutup

Rismon Sianipar sebelumnya dikenal sebagai salah satu pihak yang gencar mempersoalkan keabsahan ijazah Jokowi melalui sejumlah tulisan dan analisis digital. Kini, ia menjadi salah satu yang ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian. Dengan permintaan maaf yang disampaikan secara gentleman, Rismon menunjukkan sikap tanggung jawab dan kejujuran dalam penelitiannya.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *