"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Jejak Bung Karno di Surabaya Tetap Terjaga sebagai Cagar Budaya

Sejarah Rumah Kelahiran Bung Karno di Surabaya

Rumah kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno atau yang lebih dikenal dengan panggilan Bung Karno, berada di Jalan Pandean Gang IV Nomor 40, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Jawa Timur. Bangunan sederhana ini diyakini sebagai tempat lahirnya Bung Karno pada 6 Juni 1901. Meski keluarga Bung Karno pindah saat ia berusia 6 tahun, kenangan masa kecilnya di kawasan Peneleh tetap terukir dalam sejarah.

Selama bertahun-tahun, muncul perdebatan mengenai lokasi kelahiran Bung Karno antara Blitar dan Surabaya. Namun, dalam biografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965) yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno menyatakan bahwa ia lahir di Surabaya. Hal ini didukung oleh kisah keluarganya, di mana ayah Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodihardjo, mengajukan perpindahan tugas dari Bali ke Jawa karena kondisi keluarga yang kurang nyaman di sana.

Setelah dipindahkan ke Surabaya, Bung Karno kemudian dilahirkan di rumah yang berada di Gang Pandean IV, sebuah permukiman lama di Kota Surabaya. Ayahnya bekerja sebagai guru, sedangkan ibunya berasal dari keluarga bangsawan Bali. Di lingkungan tersebut, Bung Karno menghabiskan sebagian masa kecilnya sebelum keluarganya pindah ke tempat lain.

Keluarga Bung Karno Tidak Lama Tinggal di Sana

Meskipun menjadi tempat kelahiran, Bung Karno dan keluarganya tidak tinggal lama di rumah tersebut. Setelah beberapa waktu tinggal di kontrakan di Jalan Pahlawan Surabaya, keluarga Bung Karno akhirnya meninggalkan kota tersebut ketika ayahnya dipindahkan tugas ke Mojokerto pada tahun 1907. Saat itu, usia Bung Karno baru sekitar enam tahun.

Setelah tinggal di Mojokerto, Bung Karno juga sempat tinggal bersama neneknya di Tulungagung. Perpindahan tempat tinggal ini berkaitan dengan pekerjaan ayahnya sebagai seorang guru yang harus mengikuti penempatan tugas. Walau tidak lama tinggal di Peneleh, Bung Karno masih mengingat suasana kampung tersebut. Ia bahkan kembali ke kawasan Peneleh ketika menempuh pendidikan di HBS Surabaya.

Sempat Berganti Pemilik dan Hilang Jejak

Setelah keluarga Soekemi meninggalkan rumah di Peneleh, bangunan tersebut sempat berganti pemilik hingga beberapa kali. Kondisi ini membuat identitas rumah sebagai tempat kelahiran Bung Karno sempat tidak terlacak dengan jelas.

Upaya penelusuran baru berhasil dilakukan pada tahun 2007 oleh Peter A. Rohi, pendiri Institut Soekarno. Ia melakukan penelitian dengan mencocokkan berbagai sumber tertulis dengan kesaksian para saksi maupun keturunan saksi yang masih hidup. Dari hasil penelitian tersebut, akhirnya dipastikan bahwa rumah di Pandean Gang IV Nomor 40 merupakan tempat kelahiran Bung Karno.

Secara fisik, rumah tersebut memiliki ukuran yang tidak terlalu besar. Bangunan ini terbuat dari batu bata dan masih memperlihatkan bentuk asli yang diperkirakan dibangun pada akhir abad ke-19. Lebar bangunan sekitar lima meter dengan panjang kurang lebih lima belas meter. Rumah tersebut menghadap ke arah selatan dan diapit oleh rumah-rumah lain di sisi kanan dan kirinya.

Ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya

Karena nilai sejarahnya yang tinggi, rumah kelahiran Bung Karno kemudian ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya. Penetapan tersebut dilakukan melalui Surat Keputusan Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/321/436.1.2/2013. Status ini diberikan sebagai bentuk perlindungan terhadap situs bersejarah yang berkaitan dengan perjalanan bangsa Indonesia.

Pada tahun 2020, ahli waris rumah tersebut juga menyerahkannya kepada Pemerintah Kota Surabaya. Penyerahan itu dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan adanya penyerahan tersebut, rumah bersejarah ini resmi menjadi aset Pemerintah Kota Surabaya.

Direvitalisasi Menjadi Museum Sejarah

Pemerintah Kota Surabaya kemudian merencanakan revitalisasi rumah kelahiran Bung Karno agar dapat dimanfaatkan sebagai museum sejarah. Revitalisasi ini juga menjadi bagian dari pengembangan kawasan Peneleh sebagai destinasi wisata sejarah di Surabaya.

Di kawasan tersebut terdapat beberapa situs penting lain, seperti rumah Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto yang dahulu menjadi tempat Bung Karno belajar tentang pergerakan nasional. Selain itu terdapat pula Langgar Dhuwur yang dikenal sebagai tempat Bung Karno belajar mengaji pada masa mudanya.

Dengan pengembangan kawasan tersebut, diharapkan masyarakat dan generasi muda dapat lebih mengenal sejarah perjuangan Bung Karno serta memahami peran penting Surabaya dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia.

Rumah sederhana di Gang Pandean ini pun kini tidak hanya menjadi tempat bersejarah, tetapi juga simbol lahirnya seorang tokoh besar perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *